Drama Enam Gol di Stadion Kapten Dipta: Semen Padang Tahan Imbang Bali United, Dejan Antonic Ungkap Kekecewaan
Pertarungan sengit nan dramatis tersaji di Stadion Kapten Dipta, Gianyar, pada pekan ke-18 Liga Super 2025-2028, ketika Semen Padang berhasil menahan imbang tuan rumah Bali United dengan skor akhir 3-3. Misi tim berjuluk Kabau Sirah untuk mencuri poin di kandang Serdadu Tridatu, yang dikenal angker, terbilang sukses. Namun, di balik raihan satu poin yang patut disyukuri, terselip rasa frustrasi yang mendalam dari kubu Semen Padang, khususnya sang pelatih, Dejan Antonic.
Meskipun secara obyektif berhasil mengamankan hasil imbang di markas tim kuat Bali United, Dejan Antonic, mantan nahkoda Persib Bandung dan PSS Sleman, memiliki pandangan yang berbeda mengenai jalannya pertandingan. Baginya, hasil seri ini bukanlah cerminan dari potensi penuh timnya. Ia meyakini bahwa Semen Padang seharusnya mampu meraih kemenangan dalam laga tersebut, bukan sekadar bermain imbang. Keyakinan ini bukan tanpa alasan, melainkan didasari oleh performa tim yang dinilainya lebih baik dan terorganisir, serta fakta bahwa anak asuhnya sejatinya mampu mencetak gol lebih banyak dari yang tercatat di papan skor akhir.
Kontroversi Kepemimpinan Wasit dan Potensi Kemenangan yang Hilang
Sumber utama kekecewaan Dejan Antonic terletak pada keputusan wasit Agus Setiyawan yang menganulir dua gol yang dicetak oleh pemain Semen Padang sepanjang pertandingan. Menurut pengakuan pelatih asal Serbia tersebut, kedua gol yang dianulir tersebut sejatinya sah dan seharusnya menambah pundi-pundi gol timnya. Jika saja kedua gol tersebut disahkan, maka Semen Padang tidak hanya akan membawa pulang satu poin, tetapi tiga poin penuh yang akan sangat berarti bagi perjalanan mereka dalam tur Bali – Sulawesi. Hal ini tentu menjadi catatan penting yang patut menjadi evaluasi bagi perwasitan di liga.
“Jangan lupa ya, ada dua gol kami yang dianulir wasit. Lucu,” ujar Dejan Antonic dengan nada prihatin, menyiratkan ketidakpuasan terhadap keputusan krusial tersebut. Ia menambahkan, “Skor akhir berakhir 3 – 3. Saya berpikir, kami seharusnya memenangkan laga ini.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa Semen Padang merasa dirugikan dan memiliki potensi besar untuk meraih kemenangan jika saja tidak ada intervensi dari keputusan wasit yang dianggapnya keliru. Pertandingan yang seharusnya bisa menjadi momen euforia bagi tim tamu, justru berakhir dengan nuansa kekecewaan karena potensi penuh yang tidak terealisasi sepenuhnya.
Pertandingan ini memang menyajikan tontonan yang menghibur bagi para pecinta sepak bola, dengan total enam gol tercipta. Bali United berhasil mencetak gol melalui Jens Raven di menit ke-46, Mirza Mustafic di menit ke-69, dan Thijmen Goppel di menit ke-75. Sementara itu, Semen Padang membalas melalui Angelo Meneses di menit ke-5, Jaime Giraldo di menit ke-12, dan Riphal Wahyudi di menit ke-79. Meskipun skor imbang, intensitas serangan dan balasan dari kedua tim menunjukkan bahwa pertandingan ini berjalan sangat dinamis dan penuh jual beli serangan, mencerminkan semangat juang tinggi dari kedua kesebelasan.
Di balik hasil imbang yang sedikit mengecewakan bagi pelatih, Dejan Antonic tetap memberikan apresiasi kepada para pemainnya atas performa yang ditunjukkan. Ia melihat adanya perubahan positif dalam gaya bermain Semen Padang. “Semen Padang sudah berubah. Saya puas dengan permainan anak-anak,” tuturnya, menekankan bahwa ia melihat perkembangan signifikan dari timnya. Kepuasan ini mungkin datang dari determinasi, organisasi permainan, dan semangat juang yang ditunjukkan oleh para pemainnya dalam menghadapi tim sekuat Bali United di kandang lawan. Ini menjadi modal berharga untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya.
Meskipun demikian, hasil imbang ini belum mampu mengangkat posisi Semen Padang dari jurang degradasi. Hingga pekan ke-18 Liga Super 2025-2026, Bali United masih kokoh bertengger di peringkat kedelapan klasemen sementara dengan mengoleksi 28 poin. Rinciannya adalah tujuh kali kemenangan, tujuh kali hasil imbang, dan empat kali kekalahan. Sementara itu, Semen Padang masih terperosok di zona degradasi, menempati peringkat ke-17 dengan raihan 11 poin. Poin tersebut didapat dari tiga kali kemenangan, dua kali hasil imbang, dan 13 kali kekalahan. Perbedaan poin yang cukup signifikan ini menunjukkan betapa beratnya perjuangan Semen Padang untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan, dan setiap poin yang didapat, meskipun hanya satu, tetaplah krusial dalam upaya mereka keluar dari zona merah.


















