Menjelang momentum sakral bulan suci Ramadan yang kini tinggal menyisakan waktu sekitar 24 hari lagi, dinamika harga pangan di pasar domestik mulai menunjukkan pergerakan yang fluktuatif namun cenderung terkendali. Tepat pada Ahad, 25 Januari 2025, laporan terbaru mengenai peta harga bahan pokok nasional memberikan gambaran yang beragam bagi para pelaku ekonomi dan konsumen rumah tangga. Berdasarkan pemantauan lapangan dan data statistik yang dihimpun, terdapat anomali menarik di mana sejumlah komoditas utama seperti beras dan kelompok cabai justru mengalami tren penurunan harga yang cukup signifikan. Sebaliknya, tekanan inflasi mulai merayap pada komoditas protein tertentu, minyak goreng, dan pemanis, yang secara historis memang kerap mengalami lonjakan permintaan menjelang periode hari besar keagamaan nasional.
Menganalisis lebih dalam data yang dirilis oleh Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, sektor hortikultura menjadi sorotan utama karena mengalami koreksi harga yang cukup tajam. Komoditas bawang merah, misalnya, mencatatkan penurunan harga yang sangat signifikan mencapai 5,76 persen, sehingga kini dibanderol di kisaran Rp 44.200 per kilogram. Penurunan ini memberikan napas lega bagi konsumen di tengah kekhawatiran kenaikan harga musiman. Tidak hanya bawang merah, bawang putih pun turut mengikuti tren pelemahan meskipun dalam skala yang lebih moderat, yakni turun sebesar 0,49 persen ke level Rp 40.500 per kilogram. Stabilitas harga pada bumbu dapur ini dianggap krusial mengingat perannya sebagai komponen biaya produksi bagi industri kuliner dan kebutuhan dasar rumah tangga selama bulan puasa.
Analisis Mendalam Fluktuasi Harga Beras dan Kelompok Cabai
Beras, sebagai komoditas pangan paling strategis di tanah air, menunjukkan stabilitas yang sangat terjaga dengan kecenderungan menurun di hampir seluruh lini kualitas. Beras kualitas bawah I terpantau stagnan di angka Rp 14.400 per kilogram, sementara beras kualitas bawah II mengalami penyusutan harga sebesar 0,69 persen ke level yang sama dengan tipe bawah I. Untuk segmen pasar menengah, beras kualitas medium I dan II masing-masing terkoreksi sebesar 0,63 persen, menempatkan harganya pada posisi Rp 15.900 dan Rp 15.750 per kilogram. Bahkan pada segmen premium, beras kualitas super tipe I turun menjadi Rp 17.100 per kilogram, disusul tipe II yang melemah ke level Rp 16.650 per kilogram. Penurunan harga beras secara merata ini mengindikasikan bahwa rantai pasok dari penggilingan hingga pasar induk masih berada dalam kondisi yang mencukupi untuk memenuhi lonjakan kebutuhan mendatang.
Di sisi lain, kelompok cabai yang seringkali menjadi pemicu inflasi mendadak, kali ini justru didominasi oleh tren penurunan harga yang cukup dalam. Cabai merah besar mengalami kontraksi sebesar 3,47 persen menjadi Rp 38.950 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting melemah lebih jauh sebesar 5,25 persen ke level Rp 39.700 per kilogram. Penurunan paling drastis terjadi pada cabai rawit hijau yang terjun bebas hingga 6,6 persen menjadi Rp 52.400 per kilogram. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan pada komoditas cabai rawit merah yang justru menunjukkan anomali dengan kenaikan tipis sebesar 0,64 persen menjadi Rp 55.000 per kilogram. Perbedaan tren antara jenis cabai ini seringkali dipengaruhi oleh masa panen di sentra produksi yang berbeda serta preferensi konsumen yang mulai beralih ke jenis cabai tertentu untuk kebutuhan bumbu masakan Ramadan.
Dinamika Protein Hewani dan Bahan Pokok Olahan
Memasuki sektor protein hewani, terdapat pergerakan yang cukup kontradiktif antara satu komoditas dengan komoditas lainnya. Harga daging ayam ras segar secara mengejutkan mengalami penurunan sebesar 1,23 persen, kini dijual rata-rata Rp 40.200 per kilogram. Hal yang sama terjadi pada telur ayam ras segar yang menurut data PIHPS merosot 1,55 persen menjadi Rp 31.700 per kilogram. Namun, situasi berbeda terlihat pada komoditas daging sapi. Daging sapi kualitas I merangkak naik sangat tipis ke level Rp 142.700 per kilogram, sementara kualitas II justru mengalami penurunan harga ke angka Rp 135.000 per kilogram. Ketidakpastian harga pada sektor protein ini memerlukan perhatian khusus dari pemerintah, mengingat kebutuhan akan daging dan telur biasanya akan melonjak tajam saat memasuki minggu pertama Ramadan.
Komoditas minyak goreng dan gula pasir juga memperlihatkan dinamika yang menantang bagi daya beli masyarakat. Gula pasir lokal mulai menunjukkan kenaikan meskipun tipis ke level Rp 18.300 per kilogram, sementara gula pasir premium masih bertahan stabil di Rp 19.850 per kilogram. Sektor minyak goreng menunjukkan volatilitas yang tinggi; minyak goreng curah naik ke posisi Rp 18.850 per liter, dan minyak goreng kemasan bermerek II juga naik ke Rp 21.550 per liter. Sebaliknya, minyak goreng kemasan bermerek I justru mengalami penurunan menjadi Rp 22.600 per liter. Pergerakan harga minyak goreng yang tidak seragam ini mencerminkan adanya persaingan pasar di tingkat ritel serta pengaruh harga CPO global yang mulai berdampak pada harga jual di tingkat konsumen akhir.
Data Panel Bapanas: Perbandingan dan Realitas Pasar
Melengkapi data dari perbankan, Panel Harga Pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan perspektif tambahan yang mempertegas kondisi di lapangan. Berdasarkan data Bapanas, beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang disalurkan oleh Bulog tercatat berada di angka Rp 12.338 per kilogram, sebuah angka yang masih berada di bawah koridor Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Untuk beras medium non-SPHP, harga rata-rata nasional berada di Rp 13.681 per kilogram, sedangkan beras premium dijual di angka Rp 15.450 per kilogram. Data ini menunjukkan adanya sinkronisasi antara upaya intervensi pemerintah melalui Bulog dengan pergerakan harga di pasar bebas, yang bertujuan untuk menjaga keterjangkauan pangan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Namun, Bapanas menyoroti adanya tantangan pada harga telur ayam ras yang menurut pantauan mereka justru naik 1,86 persen menjadi Rp 30.559 per kilogram, melampaui harga acuan nasional yang telah ditetapkan. Selain itu, minyak goreng rakyat dengan merek Minyakita juga masih menjadi pekerjaan rumah besar karena harganya masih bertengger di atas HET Rp 15.700 per liter, dengan rata-rata nasional mencapai Rp 17.189 per liter. Di sisi lain, komoditas perikanan menunjukkan stabilitas yang relatif baik dengan harga ikan kembung di Rp 41.278 per kilogram, ikan tongkol Rp 34.156 per kilogram, dan ikan bandeng Rp 32.515 per kilogram. Keberagaman sumber protein ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat jika harga daging sapi atau ayam mengalami lonjakan yang tidak wajar di kemudian hari.
Menanggapi situasi ini, Kepala Badan Pangan Nasional, Amran Sulaiman, mengeluarkan pernyataan optimis terkait stabilitas pangan nasional. Beliau menegaskan bahwa pemerintah menjamin harga jual bahan pangan selama bulan Ramadan dan Idul Fitri tidak akan melampaui batas HET yang telah ditentukan. Keyakinan ini bukan tanpa dasar, melainkan ditopang oleh ketersediaan stok cadangan pangan nasional yang sangat memadai. Saat ini, cadangan beras nasional dilaporkan mencapai angka 3,3 juta ton, angka yang sangat aman untuk mengintervensi pasar jika terjadi lonjakan harga. Selain itu, stok minyak goreng nasional berada di kisaran 700 ribu ton, yang dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang biasanya meningkat pesat selama periode libur panjang lebaran.
Sebagai langkah preventif terhadap praktik spekulasi di pasar, Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Pangan akan melakukan pengawasan ketat dan tidak akan segan-segan menindak pelaku usaha yang sengaja menjual bahan pokok di atas harga ketentuan. Penegakan disiplin pasar ini dianggap vital untuk melindungi daya beli masyarakat yang sedang dalam tahap pemulihan. Sinergi antara seluruh pemangku kepentingan, mulai dari produsen di tingkat hulu, distributor, hingga pedagang di pasar tradisional dan ritel modern, menjadi kunci utama. Tujuannya sangat jelas: memastikan produsen tetap mendapatkan keuntungan yang layak, pedagang dapat berjualan dengan tenang, dan konsumen dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang tanpa terbebani oleh lonjakan harga pangan yang tidak terkendali.
| Komoditas | Harga Rata-Rata (Rp) | Status/Perubahan |
|---|


















