BADUNG, BALI – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menunjukkan ambisi politik yang signifikan di Pulau Dewata, dengan Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI, Ahmad Ali, secara tegas menyatakan keyakinannya bahwa tidak mustahil satu kader PSI dari Bali akan berhasil melenggang ke kursi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2029 mendatang. Pernyataan ini bukan sekadar retorika biasa, melainkan sebuah visi strategis yang diutarakan dalam momen penting, yakni seusai prosesi pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Provinsi Bali di Kabupaten Badung pada Kamis, 24 Januari 2024. Ambisi ini mencerminkan semangat juang dan optimisme partai yang dikenal dengan identitasnya sebagai partai anak muda, namun kini berupaya menancapkan pengaruhnya lebih dalam di kancah politik nasional, khususnya dari basis daerah yang memiliki karakteristik unik seperti Bali.
Strategi Kunci: Konsolidasi Internal dan Penghormatan Budaya Lokal
Ahmad Ali menggarisbawahi bahwa pencapaian target besar ini tidak akan datang dengan sendirinya. Ada dua pilar utama yang harus dipegang teguh oleh seluruh kader PSI di Bali. Pertama adalah keharusan untuk segera melakukan konsolidasi internal yang komprehensif. Konsolidasi ini mencakup penguatan struktur organisasi dari tingkat provinsi hingga akar rumput, peningkatan kapasitas dan pemahaman ideologi partai di kalangan kader, serta penyelarasan strategi pemenangan yang efektif. Ini adalah fondasi krusial untuk membangun mesin partai yang solid dan siap tempur. Kedua, dan ini menjadi penekanan khusus, adalah pentingnya menjaga dan menghormati kultur serta budaya setempat yang sangat kental di Bali. PSI harus mampu beradaptasi dan menyatu dengan nilai-nilai lokal, bukan justru mencoba mendominasi atau mengabaikannya.
Lebih lanjut, Ahmad Ali memberikan arahan spesifik terkait poin kedua. Ia mengingatkan para kader PSI agar tidak terjebak dalam sikap merasa paling pandai atau paling benar. Di Bali, kearifan lokal, tradisi, dan peran tokoh adat atau guru spiritual memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan dihormati. Oleh karena itu, kader PSI diwajibkan untuk menunjukkan rasa hormat yang mendalam terhadap para guru atau tokoh adat tersebut. “Persoalan adat istiadat ini saya minta khusus dijaga,” tegas Ahmad Ali, menekankan bahwa isu-isu kebudayaan dan adat istiadat adalah ranah yang sangat sensitif di Bali. Ia mewanti-wanti agar tidak terjadi kesalahpahaman sejak awal, yang bisa memicu reaksi negatif dari masyarakat. Dalam era digital saat ini, misinterpretasi atau tindakan yang dianggap tidak menghormati adat istiadat dapat dengan sangat mudah menjadi sasaran kritik pedas dan “bully” di media sosial, yang berpotensi merusak citra partai secara instan dan luas. Ahmad Ali juga menyoroti bahwa di Bali, ada partai-partai politik lain yang telah berhasil membangun basis dukungan yang sangat kuat dan mengakar, justru karena mereka secara konsisten merawat dan menjaga hubungan baik dengan adat istiadat serta kearifan lokal. Ini adalah pelajaran berharga yang harus diinternalisasi oleh PSI Bali jika ingin meraih keberhasilan serupa.
“Puputan” dan Semangat Pantang Menyerah PSI Bali
Menyambut tantangan dan arahan dari pimpinan pusat, Ketua DPW PSI Bali yang baru dilantik, I Wayan Suyasa, menyatakan komitmen penuhnya untuk memenangkan PSI pada Pemilu 2029. Ia menegaskan janji tersebut dengan dukungan dan kerja sama seluruh jajaran pengurus baru yang telah dilantik. Dalam pidatonya, I Wayan Suyasa menggunakan analogi dan idiom lokal yang sangat kuat untuk menggambarkan tekadnya. “Kalau di Bali kami bicara puputan, artinya kami bersiap mati,” ujarnya, memberikan gambaran betapa seriusnya komitmen yang ia dan timnya pegang. Istilah “puputan” dalam konteks sejarah Bali merujuk pada pertempuran habis-habisan hingga titik darah penghabisan, sebuah tindakan heroik yang didorong oleh kehormatan dan harga diri. Ini bukan sekadar menyerah, melainkan perjuangan tanpa henti demi prinsip dan tujuan. Dalam konteks politik, “puputan” berarti totalitas perjuangan, mengerahkan segala daya dan upaya tanpa sedikit pun mundur dari medan laga.
Selain “puputan”, I Wayan Suyasa juga mengutip pepatah lokal lainnya yang tak kalah membakar semangat: “Ada bahasa sing menang sing jerih, artinya sebelum menang kami tidak akan menyerah untuk bertanding, melawan teman-teman yang ada di partai lain.” Frasa “sing menang sing jerih” secara harfiah berarti “tidak menang tidak takut” atau “belum menang belum menyerah”. Ini adalah manifestasi dari semangat juang yang tak tergoyahkan, sebuah mentalitas pantang menyerah yang menjadi ciri khas masyarakat Bali dalam menghadapi tantangan. Pepatah ini menegaskan bahwa perjuangan politik PSI di Bali akan dilakukan dengan determinasi tinggi, menghadapi persaingan ketat dari partai-partai lain yang sudah lebih dulu eksis dan memiliki basis massa yang kuat. Ini adalah deklarasi perang politik yang dilandasi oleh keyakinan dan keberanian.
Oleh karena itu, I Wayan Suyasa mendesak seluruh kader partai untuk segera memulai kerja keras dari sekarang. Prioritas utama adalah membangun jaringan hingga ke akar rumput masyarakat. Ini berarti tidak hanya berinteraksi dengan tokoh-tokoh kunci, tetapi juga merangkul setiap lapisan masyarakat, mendengarkan aspirasi mereka, dan memastikan kehadiran PSI dirasakan di setiap desa dan banjar. Membangun jaringan akar rumput adalah proses yang membutuhkan kesabaran, keuletan, dan kemampuan berinteraksi secara personal dengan konstituen. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan kekuatan elektoral partai di masa depan.
I Wayan Suyasa menutup pernyataannya dengan sebuah refleksi yang menunjukkan kerendahan hati dan pentingnya persatuan. “Apa artinya seorang Suyasa yang kecil dan banyak kekurangan berbicara partai politik, apalagi di Bali, tanpa persatuan. Tanpa kebersamaan untuk membesarkan PSI, Suyasa tidak ada artinya,” tuturnya. Pernyataan ini tidak hanya menegaskan bahwa keberhasilan PSI di Bali bukanlah hasil kerja individu semata, melainkan buah dari kebersamaan dan sinergi seluruh elemen partai. Di tengah lanskap politik Bali yang kompleks dan penuh dinamika, persatuan dan kebersamaan menjadi modal utama untuk menghadapi tantangan. Pesan ini juga secara implisit menggemakan kembali arahan Ahmad Ali tentang pentingnya tidak merasa paling tahu atau paling pandai, melainkan mengedepankan kolaborasi dan semangat gotong royong sebagai kunci untuk mencapai tujuan besar PSI di Pemilu 2029.


















