Bencana alam tanah longsor dengan skala masif telah melanda wilayah Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang mengakibatkan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari posko darurat di lokasi kejadian, situasi dilaporkan sangat kritis dengan jumlah warga yang dinyatakan hilang mencapai 98 orang. Angka ini memicu kekhawatiran besar di tengah upaya pencarian yang terus berpacu dengan waktu dan kondisi cuaca yang tidak menentu di kawasan perbukitan Bandung Barat tersebut. Material longsor yang terdiri dari tanah liat pekat, bebatuan, dan puing-puing bangunan menimbun pemukiman warga, menciptakan tantangan luar biasa bagi tim penyelamat yang bekerja tanpa henti di lapangan.
Hingga memasuki hari Minggu, tanggal 25 Januari, tepat pukul 10.39 WIB, tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai unsur telah menunjukkan dedikasi luar biasa dengan berhasil mengevakuasi total 27 kantong jenazah dari titik-titik timbunan paling parah. Proses evakuasi ini dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga integritas jenazah yang ditemukan di bawah tekanan material tanah yang sangat berat. Penemuan ini merupakan akumulasi dari kerja keras tim di lapangan yang dibagi ke dalam beberapa shift operasi pencarian guna memastikan setiap jengkal area terdampak dapat disisir secara menyeluruh tanpa ada yang terlewatkan.
Secara lebih mendalam, rincian operasional evakuasi korban meninggal dunia selama dua hari terakhir adalah sebagai berikut:
- Sabtu (24 Januari): Pada hari pertama operasi intensif pasca-kejadian, tim gabungan berhasil menemukan dan mengevakuasi sebanyak 11 kantong jenazah dari berbagai titik koordinat di Desa Pasirlangu.
- Minggu (25 Januari): Intensitas pencarian yang ditingkatkan hingga pukul 10.39 WIB membuahkan hasil dengan ditemukannya tambahan 16 kantong jenazah, yang langsung dilarikan ke posko medis untuk proses lebih lanjut.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, dalam keterangan resminya pada Minggu (25/1), memberikan penjelasan mendetail mengenai status identifikasi para korban. “Dari total temuan yang ada, sebanyak 6 jenazah dalam kondisi utuh dan 1 bagian tubuh telah berhasil diidentifikasi secara medis oleh tim ahli. Namun, tantangan besar masih dihadapi karena terdapat 8 jenazah lainnya beserta 1 bagian tubuh tambahan yang saat ini masih berada dalam proses identifikasi mendalam guna memastikan identitas asli mereka sebelum diserahkan kepada pihak keluarga,” ungkap Brigjen Pol. Trunoyudo dengan nada penuh empati.
Menanggapi skala bencana yang begitu luas, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengambil langkah strategis dengan menerjunkan unit elit dari Detasemen K9 Unit SAR Direktorat Polisi Satwa Korps Sabhara Baharkam Polri. Pengerahan unit khusus ini bertujuan untuk memperkuat sekaligus mempercepat operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di Desa Pasirlangu yang memiliki medan sangat sulit. Kehadiran unit K9 dianggap sangat krusial karena indra penciuman satwa pelacak mampu menembus kedalaman tanah yang tidak bisa dijangkau oleh peralatan deteksi elektronik maupun penglihatan manusia biasa, terutama dalam mencari korban yang tertimbun material longsor yang sangat tebal.
Langkah taktis ini ditegaskan sebagai bagian integral dari komitmen respons cepat Polri dalam menjalankan misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana. Brigjen Pol. Trunoyudo menekankan bahwa pengerahan kekuatan penuh ini merupakan wujud nyata dari kehadiran negara di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah hebat. Negara, melalui institusi Polri, berupaya memberikan kepastian bahwa setiap warga negara yang terdampak akan mendapatkan upaya penyelamatan dan penanganan terbaik, dengan mengerahkan segala sumber daya teknologi dan keahlian yang dimiliki oleh korps kepolisian.
Operasi kemanusiaan di Cisarua ini melibatkan sedikitnya 20 personel ahli dari Den K-9 SAR yang dipimpin langsung oleh Iptu Erasmus dalam kapasitasnya sebagai Kepala Tim (Katim) K-9. Tim ini bukan sekadar unit pelacak biasa, melainkan sebuah kesatuan terintegrasi yang didukung oleh tim veteriner (dokter hewan) untuk menjaga kesehatan satwa, para handler (pawang) yang memiliki ikatan batin kuat dengan satwa, tim pelindung untuk keamanan area, serta pengemudi yang ahli dalam medan ekstrem. Kekuatan utama dari tim ini terletak pada 6 ekor satwa pelacak K9 yang memiliki reputasi luar biasa, yaitu Walet, Ari, Rubin, Dasa, Gyra, dan Sita. Keenam anjing pelacak ini memiliki spesialisasi utama dalam cadaver search atau pencarian korban yang telah meninggal dunia, sebuah keahlian spesifik yang sangat dibutuhkan dalam situasi di mana kemungkinan adanya korban jiwa sangat tinggi di bawah timbunan tanah.
Untuk memastikan mobilitas dan daya jangkau di medan bencana yang berlumpur dan terjal, tim K-9 SAR dibekali dengan sarana operasional yang sangat mumpuni. Dukungan logistik dan transportasi ini mencakup 1 unit truk boks khusus untuk pengangkutan peralatan serta 4 unit kendaraan taktis (ransus) Navara K-9 yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Kendaraan-kendaraan ini menjamin kecepatan, ketepatan, dan efektivitas pergerakan tim dari satu titik pencarian ke titik lainnya, memastikan bahwa tidak ada waktu yang terbuang sia-sia dalam misi penyelamatan yang sangat mendesak ini.
“Pengerahan Den K-9 SAR ini adalah manifestasi konkret dari kehadiran negara melalui Polri dalam setiap misi kemanusiaan yang bersifat darurat. Kami memberikan instruksi tegas agar seluruh kekuatan dikerahkan secara maksimal, cepat, dan terukur. Fokus utama kami adalah agar seluruh korban, baik yang selamat maupun yang telah tiada, dapat segera ditemukan dan dievakuasi dengan layak. Ini adalah implementasi nyata dari visi Transformasi Polri Presisi, di mana keselamatan dan martabat masyarakat ditempatkan sebagai prioritas tertinggi di atas segalanya,” tegas Brigjen Pol. Trunoyudo dalam sesi konferensi pers di lokasi kejadian.
Sinergi Lintas Sektoral: Memperkuat Unit DVI dan Inafis di Lapangan
Mengingat kompleksitas proses identifikasi korban yang ditemukan dalam kondisi yang tidak selalu utuh, Polda Jawa Barat telah mengajukan permintaan dukungan tambahan kepada Mabes Polri. Permintaan ini mencakup pengiriman 1 Unit Disaster Victim Identification (DVI) dan 1 Unit Inafis (Indonesia City Identification System). Kehadiran kedua unit ahli ini sangat krusial, terutama untuk membantu proses identifikasi korban yang berasal dari unsur TNI serta warga sipil lainnya yang membutuhkan analisis DNA atau data odontologi (gigi) guna memastikan akurasi identitas yang tidak terbantahkan sebelum proses pemakaman dilakukan oleh pihak keluarga.
Di sisi lain, aspek kesejahteraan dan kebutuhan dasar bagi para pengungsi serta masyarakat terdampak tidak luput dari perhatian pemerintah dan Polri. Kebutuhan logistik, mulai dari bahan makanan pokok, air bersih, obat-obatan, hingga perlengkapan bayi, terus dipasok secara berkelanjutan. Hal ini dimungkinkan berkat sinergi yang kuat antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Dukungan signifikan juga mengalir dari organisasi internal Polri, termasuk Ketua Umum Bhayangkari, Pengurus Daerah (PD) Bhayangkari, dan jajaran Polda Jawa Barat, yang secara aktif mendirikan dapur umum dan posko trauma healing bagi warga yang mengalami syok pasca-bencana.
Menutup keterangannya, Brigjen Pol. Trunoyudo kembali menegaskan filosofi pelayanan Polri dalam situasi krisis ini. Beliau menekankan bahwa Polri tidak hanya berperan dalam aspek penegakan hukum atau menjaga keamanan semata, tetapi juga wajib menjadi garda terdepan dalam setiap misi kemanusiaan yang melanda tanah air. Kehadiran personel kepolisian di Desa Pasirlangu adalah bukti bahwa negara tidak akan membiarkan rakyatnya berjuang sendirian di tengah bencana, dan seluruh sumber daya akan terus dikerahkan hingga proses pemulihan wilayah tersebut benar-benar tuntas.
| Kategori Data | Informasi Terkini |
|---|---|
| Lokasi Bencana | Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat |
| Jumlah Korban Hilang | 98 Orang |
| Total Kantong Jenazah | 27 Kantong |
| Jumlah Satwa K9 | 6 Ekor (Spesialis Cadaver) |
| Personel K9 SAR | 20 Personel Ahli |


















