SUKOHARJO, JAWA TENGAH – Sebuah insiden mengejutkan yang melibatkan aksi main hakim sendiri oleh massa terhadap sebuah mobil pikap yang diduga terlibat dalam serangkaian tabrak lari telah mengguncang Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Peristiwa dramatis ini dengan cepat menyebar dan menjadi viral di berbagai platform media sosial, menampilkan rekaman video yang secara gamblang memperlihatkan kerumunan warga yang marah merusak kendaraan dan berupaya keras untuk mengeluarkan pengemudi dari dalam kabin. Kekacauan ini menyoroti batas tipis antara kemarahan publik atas ketidakadilan dan penegakan hukum yang sah, memicu perdebatan luas mengenai respons masyarakat terhadap kejahatan di jalanan.
Berdasarkan informasi mendalam yang berhasil dihimpun oleh tim kami, kejadian nahas tersebut berlangsung pada hari Sabtu siang, tanggal 24 Januari 2026, tepat sekitar pukul 12.00 WIB. Lokasi utama insiden berada di Jalan Joko Tingkir, sebuah arteri vital yang melintasi kawasan Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Dalam tayangan video yang beredar luas di jagat maya, tampak jelas sebuah mobil pikap berwarna hitam dengan nomor polisi AD 9195 DV menjadi pusat perhatian. Kendaraan tersebut terlihat dikelilingi oleh massa yang emosional, dengan kerusakan parah pada bagian kaca dan bodi mobil yang mengindikasikan intensitas amarah warga yang meluap. Kaca depan pecah berkeping-keping, sementara panel bodi penyok di beberapa titik, menjadi saksi bisu dari luapan emosi yang tak terbendung.
Kronologi Kekacauan di Jalanan Sukoharjo
Salah seorang saksi mata kunci dalam peristiwa ini, yang diidentifikasi sebagai Agung, memberikan kesaksian yang menggambar ulang detik-detik menegangkan di lokasi kejadian. Menurut Agung, mobil pikap tersebut pada awalnya melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, menunjukkan indikasi pengemudi berada dalam kondisi terburu-buru atau bahkan tidak terkendali. Kecepatan ekstrem ini berujung pada tabrakan pertama yang serius, di mana kendaraan tersebut menabrak sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang perempuan. Namun, alih-alih berhenti untuk memberikan pertolongan atau bertanggung jawab, pengemudi pikap justru menunjukkan niat untuk melarikan diri. Dalam upaya putus asa untuk menghindari konsekuensi, sopir secara tiba-tiba memundurkan kendaraannya dengan cepat, sebuah manuver berbahaya yang semakin memperparah situasi dan memicu kemarahan warga sekitar.
“Setelah insiden tabrakan awal yang menimpa pengendara sepeda motor perempuan itu, mobil pikap tersebut bukannya berhenti, melainkan mundur dengan kecepatan tinggi dan kemudian tancap gas lagi,” tutur Agung dengan nada serius saat ditemui di lokasi kejadian yang masih menyisakan ketegangan. “Tak lama berselang, kendaraan itu kembali menabrak sepeda motor lain yang dikendarai oleh seorang bapak-bapak. Korban kedua ini bahkan sempat terseret sejauh beberapa meter di aspal, hingga terhenti di depan sebuah warung Madura yang berada di pinggir jalan. Pemandangan itu sungguh mengerikan dan memicu reaksi spontan dari warga yang melihat langsung.” Insiden penyeretan korban ini menjadi titik balik yang memicu kemarahan kolektif massa, mengubah kepanikan menjadi amarah yang meledak-ledak dan keinginan untuk menghentikan pelaku.
Upaya pelarian sopir pikap yang semakin nekat dan membahayakan nyawa banyak orang ini sempat menemui hambatan serius ketika sejumlah warga yang berani secara spontan menghadang laju kendaraan tersebut. Dalam momen-momen penuh ketegangan itu, massa yang sudah terlanjur emosi dan marah besar mulai bertindak. Mereka memecahkan kaca mobil, sebuah tindakan yang mencerminkan frustrasi dan keinginan kuat untuk menghentikan pelarian pelaku. Namun, pengemudi pikap yang tampaknya tidak menyerah begitu saja, dengan kegigihan yang membahayakan, kembali berhasil mengendalikan kendaraannya. Ia lantas melanjutkan pelariannya ke arah utara, bahkan setelah menabrak sebuah tiang listrik yang berada di tepi jalan, menunjukkan tingkat keputusasaan dan ketidakpedulian terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain.
Investigasi Mendalam: Motif, Narkoba, dan Penarikan Paksa
Hingga Sabtu sore, beberapa jam setelah rentetan kejadian dramatis tersebut, pihak kepolisian belum secara resmi merilis kronologi lengkap dan detail mengenai peristiwa yang menggegerkan ini. Namun, Kepala Kepolisian Resor Sukoharjo, Ajun Komisaris Besar Polisi Anggaito Hadi Prabowo, dalam keterangannya telah membenarkan adanya insiden tabrak lari yang terjadi di wilayah hukumnya. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa ini bukanlah sebuah kejadian tunggal, melainkan merupakan rangkaian insiden yang terjadi secara beruntun di beberapa lokasi berbeda, menunjukkan pola pelarian yang panjang dan penuh bahaya.
“Berdasarkan informasi awal yang kami terima dari lapangan, di dalam kendaraan pikap yang terlibat insiden tersebut terdapat tiga orang,” ungkap AKBP Anggaito saat dihubungi untuk dimintai keterangan. “Selain itu, ada juga keterangan awal yang sangat krusial, yakni dugaan bahwa sebelum rangkaian tabrak lari ini terjadi, telah ada insiden penarikan seorang perempuan secara paksa. Peristiwa penarikan paksa ini diketahui oleh warga sekitar, yang kemudian memicu reaksi dan membuat para pelaku yang berada di dalam mobil tersebut panik dan berupaya melarikan diri dengan kecepatan tinggi.” Dugaan penarikan paksa ini memberikan dimensi baru pada kasus, mengindikasikan motif yang lebih kompleks dan serius di balik upaya pelarian yang membahayakan.
Dalam upaya pelarian yang nekat dan penuh bahaya tersebut, AKBP Anggaito menambahkan bahwa kendaraan pikap itu diduga terlibat dalam sejumlah kecelakaan lalu lintas tambahan di sepanjang rute pelariannya. Bahkan, perjalanan pelarian mereka meluas hingga masuk ke wilayah hukum Kota Solo, menunjukkan jarak dan durasi pelarian yang cukup signifikan dan membahayakan. Berkat respons cepat dan koordinasi antarwilayah, pihak kepolisian akhirnya berhasil menangkap tiga orang yang berada di dalam mobil pikap tersebut. Selain itu, sejumlah korban yang terlibat dalam insiden tabrak lari juga telah dimintai keterangan untuk melengkapi penyelidikan. “Saat ini, ketiga terduga pelaku sudah berhasil kami amankan di Markas Kepolisian Sektor Grogol untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” tegas AKBP Anggaito. “Ada indikasi awal yang sangat kuat bahwa pengemudi kendaraan tersebut berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang, khususnya jenis pil koplo, yang dapat menjelaskan perilaku mengemudi yang tidak terkendali dan membahayakan.”
Pihak kepolisian masih terus melakukan pemeriksaan lanjutan secara intensif, termasuk pendalaman motif di balik serangkaian kejadian ini, serta melakukan tes kesehatan menyeluruh terhadap para pelaku untuk memastikan kondisi fisik dan mental mereka, terutama terkait dugaan pengaruh narkoba. AKBP Anggaito dengan tegas menyatakan bahwa proses hukum akan dijalankan secara transparan dan sesuai dengan hasil penyelidikan serta pemeriksaan lebih lanjut yang akurat. Pihaknya juga mengimbau keras kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak melakukan tindakan main hakim sendiri atau vigilantisme, dan menyerahkan penanganan kasus ini sepenuhnya kepada aparat penegak hukum yang berwenang, demi menjamin keadilan dan proses hukum yang adil bagi semua pihak yang terlibat. Kejadian ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya penegakan hukum yang efektif dan bahaya dari kemarahan massa yang tidak terkendali.













