Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya sejak Kamis (22/1) lalu, terus menyisakan genangan air di berbagai titik hingga Minggu (25/1) pukul 14.00 WIB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan bahwa hingga saat ini, masih terdapat sembilan Rukun Tetangga (RT) yang tergenang air, mayoritas berada di wilayah Jakarta Timur dan sebagian di Jakarta Utara. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam upaya penanganan dan mitigasi dampak bencana hidrometeorologi.
Mohamad Yohan, Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, mengonfirmasi bahwa intensitas hujan yang tinggi menjadi pemicu utama munculnya genangan di sejumlah kawasan. “Hujan deras yang melanda wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada Kamis, 22 Januari 2026 menyebabkan terjadinya beberapa genangan di wilayah DKI Jakarta,” ujar Yohan dalam keterangan resminya, Minggu (25/1). Ia menambahkan, “BPBD mencatat saat ini terdapat 9 RT yang masih tergenang.”
Detail Genangan dan Dampak di Wilayah Terdampak
Analisis mendalam terhadap data yang dihimpun BPBD DKI Jakarta menunjukkan distribusi genangan yang tidak merata. Wilayah Jakarta Timur menjadi area yang paling terdampak, dengan total delapan RT yang masih tergenang. Genangan ini terkonsentrasi di dua kelurahan strategis, yaitu Bidara Cina dan Kampung Melayu. Di Kelurahan Bidara Cina, empat RT dilaporkan terendam air dengan ketinggian bervariasi antara 20 hingga 30 sentimeter. Sementara itu, di Kelurahan Kampung Melayu, genangan yang terjadi di empat RT lainnya menunjukkan ketinggian air yang lebih signifikan, mencapai 65 sentimeter. Yohan menjelaskan bahwa tingginya curah hujan yang terus-menerus dan luapan dari Sungai Ciliwung menjadi faktor krusial penyebab meluapnya air di kawasan ini.
Tidak hanya di Jakarta Timur, wilayah Jakarta Utara juga turut terdampak genangan, meskipun skalanya lebih kecil. Di Kelurahan Kapuk Muara, satu RT dilaporkan masih tergenang dengan ketinggian air mencapai 20 sentimeter. Keberadaan genangan ini memerlukan perhatian khusus mengingat potensi dampaknya terhadap aktivitas warga dan infrastruktur lokal.
Evakuasi dan Pengungsian Warga
Dampak genangan tidak hanya berupa terendamnya permukiman, tetapi juga memaksa sebagian warga untuk mengungsi demi keselamatan. BPBD DKI Jakarta mencatat beberapa lokasi pengungsian yang tersebar di berbagai wilayah terdampak. Di Jakarta Timur, Kelurahan Bidara Cina mencatat adanya 16 jiwa yang terdiri dari 6 Kepala Keluarga (KK) mengungsi di Masjid Al Abror, RW 11. Sementara itu, di Kelurahan Kampung Melayu, SDN Kampung Melayu 01 dan 02 menjadi lokasi pengungsian bagi 65 jiwa dari 13 KK. Situasi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan bantuan logistik dan dukungan psikososial bagi para pengungsi.
Wilayah Jakarta Barat juga melaporkan adanya warga yang mengungsi akibat genangan. Di Kelurahan Rawa Buaya, Balai Warga RT 09/02 menjadi tempat berlindung bagi 24 jiwa dari 6 KK, dan SDN 07 Rawa Buaya menampung 34 jiwa dari 9 KK. Lebih lanjut, di Kelurahan Kembangan Utara, Sekretariat Jalan H. Bule RT 008 RW 01 menampung 40 jiwa dari 15 KK. Sementara itu, di Jakarta Utara, Kelurahan Kapuk Muara, Gang Masjid Nurul Jannah RW 02, menjadi lokasi pengungsian bagi 97 jiwa dari 42 KK, yang merupakan jumlah pengungsi terbanyak di antara wilayah yang dilaporkan.
Meskipun demikian, BPBD DKI Jakarta juga mencatat perkembangan positif di sejumlah wilayah yang genangannya mulai surut. Kelurahan Cililitan melaporkan surutnya genangan di dua RT, Kelurahan Kembangan Selatan di satu RT, Kelurahan Kembangan Utara di dua RT, dan Kelurahan Cawang di lima RT. Surutnya genangan di area-area ini menandakan efektivitas upaya penanganan yang dilakukan oleh tim gabungan.
Selain permukiman, genangan yang sempat melumpuhkan beberapa ruas jalan kini juga dilaporkan telah surut. Salah satu contohnya adalah Jalan Kembangan Raya di Kelurahan Kembangan Selatan, Jakarta Barat, yang kini sudah dapat dilalui kembali. Normalisasi arus lalu lintas ini sangat penting untuk memulihkan aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.
Dalam menghadapi situasi ini, BPBD DKI Jakarta tidak bekerja sendiri. Tim personel dikerahkan secara maksimal, dan koordinasi lintas dinas menjadi kunci utama dalam penanganan genangan. Kolaborasi antara berbagai instansi pemerintah, termasuk dinas sumber daya air, dinas sosial, dan dinas kesehatan, sangat krusial untuk memastikan penanganan yang komprehensif dan efektif. Yohan menegaskan bahwa target utama adalah percepatan surutnya genangan di seluruh wilayah terdampak. Ia juga mengimbau seluruh masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati terhadap potensi genangan susulan, mengingat perubahan cuaca yang dinamis dan kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi.


















