Langit Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu, 24 Januari, diselimuti kegelapan dan ketegangan. Hujan deras yang mengguyur sepanjang hari, diiringi hembusan angin kencang yang tak henti-hentinya, menciptakan suasana mencekam. Memasuki dini hari, tepatnya sekitar pukul 02.00 WIB, intensitas cuaca buruk tersebut justru belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Di tengah kegelapan dan badai yang melanda, Teti, seorang warga setempat, dikejutkan oleh suara gemuruh yang luar biasa keras. Suara tersebut begitu menggelegar, hingga membuatnya berspekulasi bahwa itu adalah deru rotor helikopter yang terbang rendah atau bahkan getaran bumi akibat gempa dahsyat. Kebingungan dan ketakutan menyelimuti benaknya saat ia berusaha mengidentifikasi sumber suara yang menakutkan itu.
“Awalnya saya kira suara helikopter, soalnya gemuruhnya keras sekali. Kirain juga gempa,” ujar Teti dengan nada suara yang masih bergetar, menggambarkan betapa mengerikannya momen tersebut. Ia tak pernah membayangkan bahwa suara yang ia dengar bukanlah fenomena alam biasa, melainkan pertanda awal dari pergerakan tanah yang dahsyat, yang dalam sekejap mata akan menelan rumah dan merenggut nyawa orang-orang terkasihnya. Kejadian ini menjadi pengingat pahit akan kerapuhan hidup di hadapan kekuatan alam yang tak terduga.
Keajaiban datang bagi keluarga Teti. Ia bersyukur bahwa seluruh anggota keluarganya yang tinggal serumah berhasil selamat dari bencana yang menghancurkan itu. Namun, keberuntungan tak berpihak pada semua orang. Dua keluarga lainnya, yang merupakan kerabat dekatnya, harus menghadapi kenyataan pahit tertimbun oleh material longsor yang menggunung. Tragedi ini meninggalkan luka mendalam dan kehilangan yang tak terperikan bagi Teti dan seluruh masyarakat yang terdampak.
“Total keluarga yang tertimbun itu 16 orang, kakak, adik, keponakan-keponakan. Sampai sekarang baru ketemu tiga jenazah,” ucapnya lirih, suaranya sarat dengan kesedihan yang mendalam. Angka tersebut menggambarkan skala tragedi yang menimpa keluarga besarnya, di mana banyak anggota keluarga yang masih hilang dan belum ditemukan jasadnya. Harapan untuk menemukan mereka semua tetap membayang, meski waktu terus berjalan tanpa henti.
Meskipun situasi sangat sulit dan penuh ketidakpastian, Teti tetap menggantungkan harapan. Ia berdoa agar seluruh anggota keluarganya yang masih hilang dapat segera ditemukan. “Mudah-mudahan bisa ditemukan secepatnya, amin,” tuturnya, memohon keajaiban di tengah duka yang mendalam. Doa ini merefleksikan keinginan kuat untuk mengakhiri pencarian dan memberikan kelegaan bagi keluarga yang terus diliputi kecemasan.
Hingga Minggu, 25 Januari, pukul 10.39 WIB, upaya pencarian dan evakuasi korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu terus dilakukan secara intensif oleh tim SAR gabungan. Operasi yang melibatkan berbagai unsur ini telah berhasil mengevakuasi total 27 kantong jenazah dari lokasi bencana. Rinciannya, sebanyak 11 kantong jenazah berhasil dievakuasi pada hari Sabtu, 24 Januari, sementara 16 kantong jenazah lainnya berhasil ditemukan dan dievakuasi pada hari Minggu, 25 Januari, menunjukkan intensitas operasi yang tak kenal lelah.
Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, memberikan keterangan resmi mengenai perkembangan operasi. Ia mengonfirmasi bahwa dari total jenazah yang berhasil dievakuasi, sebanyak 6 jenazah utuh dan 1 bagian tubuh telah berhasil diidentifikasi secara positif. Sementara itu, 8 jenazah dan 1 bagian tubuh lainnya masih dalam proses identifikasi lebih lanjut, sebuah tugas yang membutuhkan ketelitian dan waktu untuk memastikan identitas para korban dengan akurat.
Untuk memperkuat dan mempercepat operasi pencarian dan pertolongan korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Polri telah mengerahkan kekuatan tambahan. Detasemen K9 Unit SAR Direktorat Polisi Satwa Korps Sabhara Baharkam Polri turut diterjunkan ke lokasi bencana. Pengerahan unit anjing pelacak ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pencarian, terutama di area yang sulit dijangkau dan tertutup material longsor tebal. Kehadiran mereka adalah bukti komitmen Polri dalam misi kemanusiaan ini.
Pengerahan seluruh sumber daya yang ada, termasuk unit K9, merupakan bagian integral dari upaya respons cepat Polri dalam menangani bencana alam. Hal ini tidak hanya menunjukkan kesiapan institusi dalam menghadapi situasi darurat, tetapi juga menjadi wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang dilanda musibah. Polri berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh dalam misi kemanusiaan ini, memastikan bahwa setiap korban mendapatkan penanganan yang layak dan upaya pencarian dilakukan secara maksimal.
Dua Anggota Kepolisian Gugur dalam Misi Kemanusiaan
Tragedi yang melanda Cisarua, Bandung Barat, tidak hanya merenggut nyawa warga sipil, tetapi juga menyisakan duka mendalam di kalangan institusi kepolisian. Dua personel Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) dilaporkan gugur saat tengah menjalankan tugas mulia untuk menolong para korban bencana tanah longsor. Kedua pahlawan tanpa tanda jasa ini adalah Ipda Hendra Kurniawan dan Aiptu Jerry Sonconery. Kepergian mereka meninggalkan luka mendalam bagi rekan-rekan sejawat dan keluarga besar Polri. Jenazah kedua anggota kepolisian ini telah dimakamkan dengan upacara penghormatan yang layak.
Kapolda Jabar, Irjen Pol. Rudi Setiawan, mengungkapkan rasa dukacita yang mendalam atas kehilangan kedua anggotanya. Ia menjelaskan bahwa Ipda Hendra Kurniawan dan Aiptu Jerry Sonconery meninggal dunia dalam sebuah insiden kecelakaan lalu lintas yang terjadi saat mereka sedang dalam perjalanan untuk memberikan pertolongan kepada korban longsor. Meskipun Kapolda Jabar membenarkan adanya kecelakaan tersebut, rincian lebih lanjut mengenai kronologi kejadian tidak diungkapkan secara detail kepada publik, demi menghormati privasi keluarga yang berduka.
“Ya ini kedukaan buat kami khususnya di kepolisian karena dua anggota kami kemarin ketika terlibat dalam penanggulangan bencana ini menjadi korban laka lantas ya,” ujar Irjen Pol. Rudi Setiawan dengan nada prihatin saat ditemui di lokasi bencana pada hari Minggu, 25 Januari. Pernyataannya menegaskan betapa besar pengorbanan yang telah diberikan oleh kedua anggotanya, yang bahkan harus kehilangan nyawa saat menjalankan tugas kemanusiaan.
“Ada terjadi kecelakaan ketika menolong,” tambah beliau, singkat namun sarat makna. Kalimat ini menggambarkan situasi di mana kedua anggota kepolisian tersebut tengah berupaya keras untuk mencapai lokasi bencana dan memberikan bantuan, namun takdir berkata lain. Pengorbanan mereka dalam upaya penyelamatan korban longsor menjadi saksi bisu dedikasi dan keberanian anggota Polri.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan mereka, atas arahan langsung dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, kedua anggota kepolisian yang gugur tersebut akan diberikan kenaikan pangkat anumerta. Selain itu, mereka juga akan menerima penghargaan khusus sebagai bentuk apresiasi tertinggi dari institusi Polri atas dedikasi luar biasa yang telah mereka tunjukkan dalam menjalankan tugas negara, khususnya dalam misi kemanusiaan di tengah bencana alam.
Kunjungan Wakil Presiden untuk Memantau Kondisi Pengungsi
Menindaklanjuti laporan mengenai bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan kerja ke posko pengungsian korban bencana pada hari Minggu, 25 Januari. Kunjungan ini bertujuan untuk memantau secara langsung kondisi para pengungsi, meninjau fasilitas yang tersedia, serta mendengarkan keluhan dan kebutuhan mereka selama berada di tempat pengungsian. Beliau secara khusus meninjau tempat pengungsian, fasilitas kesehatan yang disiapkan, serta dapur umum yang menjadi pusat penyediaan kebutuhan dasar bagi para korban terdampak longsor.
Dalam kunjungannya, Gibran Rakabuming Raka menyempatkan diri untuk berdialog langsung dengan sejumlah pengungsi. Interaksi ini menjadi momen penting untuk mendengarkan secara rinci keluhan, kekhawatiran, dan kebutuhan mendesak yang dihadapi oleh para korban bencana. Mendengar langsung dari para pengungsi memungkinkan pemerintah untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat mengenai prioritas penanganan dan bantuan yang perlu segera diberikan.
“Saya turut prihatin kepada bapak dan ibu semua atas terjadinya bencana longsor ini, saya sudah meminta kepada pemerintah daerah dan juga tim gabungan untuk penanganan korban dan pengungsi terutama anak kecil, lansia, dan ibu hamil,” ujar Gibran Rakabuming Raka saat berada di lokasi pengungsian. Pernyataannya menunjukkan empati yang mendalam terhadap para korban dan penegasan komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang membutuhkan perlindungan ekstra di masa sulit ini.
Lebih lanjut, Gibran menekankan pentingnya langkah-langkah mitigasi dan evaluasi yang komprehensif terhadap kondisi wilayah yang memiliki potensi rawan longsor. Tujuannya adalah untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah pusat akan terus menjalin koordinasi yang erat dengan pemerintah daerah guna memastikan percepatan penanganan pasca-bencana dapat berjalan efektif dan efisien, mulai dari tahap tanggap darurat hingga pemulihan jangka panjang.
Perhatian Khusus pada Korban Trauma dan Identifikasi Jenazah
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, turut menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada seluruh korban dan keluarga yang terdampak bencana tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Beliau menekankan bahwa saat ini, prioritas utama tim gabungan adalah melakukan operasi pencarian dan evakuasi terhadap para korban yang masih tertimbun material longsor. Upaya ini dilakukan secara terus-menerus tanpa henti, mengingat adanya puluhan warga yang masih dalam status pencarian.
“Kami saat ini mengutamakan yang pertama adalah penyelamatan jiwa dan karena itu kita melakukan operasi SAR 24 jam non-stop karena ada sekitar 83 warga yang masih dalam pencarian, kemudian tentu saja adalah penanganan korban ini sudah biasa kita lakukan semaksimal mungkin, sebaik mungkin mulai dari identifikasi sampai penyerahan korban jenazah kepada keluarga secara bermartabat,” jelas Pratikno usai mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi bencana dan para pengungsi di Cisarua pada hari Minggu, 25 Januari. Pernyataannya menggarisbawahi kompleksitas penanganan bencana yang melibatkan aspek penyelamatan jiwa, identifikasi jenazah, hingga penyerahan jenazah kepada keluarga dengan penuh penghormatan.
Pratikno juga menguraikan strategi penanganan bencana Cisarua yang telah dibagi ke dalam beberapa tahapan krusial. Tahap pertama adalah operasi SAR yang berfokus pada penyelamatan jiwa dan pencarian korban. Tahap kedua melibatkan pengerahan tim medis ke posko pengungsian untuk memberikan pelayanan kesehatan. Tahap ketiga adalah penyediaan logistik yang memadai bagi para pengungsi. Tahap keempat mencakup perlindungan sosial bagi para korban, termasuk dukungan psikologis. Terakhir, tahap kelima adalah penanganan dan pemulihan infrastruktur yang rusak akibat bencana. Pembagian tugas ini memastikan setiap aspek penanganan bencana tertangani secara sistematis dan terkoordinasi.
Selain itu, Pratikno menegaskan bahwa perlindungan dan pelayanan yang optimal terhadap para pengungsi merupakan salah satu perhatian utama pemerintah. Hal ini mencakup penyediaan tempat tinggal yang aman, makanan bergizi, air bersih, serta layanan kesehatan dan sanitasi yang memadai. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa para pengungsi mendapatkan dukungan penuh selama masa pengungsian, hingga mereka dapat kembali ke kehidupan normal.
Dampak Psikologis pada Ibu-Ibu di Pengungsian
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, turut melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak longsor di Cisarua, Bandung Barat, pada hari Minggu, 25 Januari. Tujuannya adalah untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat yang terkena dampak bencana, terutama para pengungsi. Dalam kunjungannya, beliau berinteraksi dengan sejumlah pengungsi yang mayoritas adalah perempuan, dan secara khusus memberikan perhatian kepada para ibu yang berada di pengungsian.
Menurut pengamatan Menteri Arifah, banyak dari para ibu yang terdampak bencana longsor mengalami trauma yang mendalam akibat peristiwa mengerikan tersebut. Kondisi ini diperparah bagi mereka yang sedang dalam masa kehamilan. Tekanan psikologis dan kecemasan yang mereka rasakan sangat terlihat jelas dari cara mereka berkomunikasi dan ekspresi wajah mereka. Pengalaman kehilangan rumah, harta benda, bahkan anggota keluarga, tentu meninggalkan luka emosional yang berat.
“Yang sedang mengandung atau hamil. Kemudian kalau tadi kita diskusi, berbicara dengan ibu-ibu yang ada di situ terlihat sekali bahwa mereka mengalami trauma yang sangat berpengaruh,” ujar Menteri Arifah, menggambarkan betapa seriusnya dampak psikologis yang dialami oleh para ibu di pengungsian. Ia menyadari bahwa trauma ini dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan kesejahteraan mereka, serta perkembangan anak-anak mereka.
Menyikapi kondisi ini, Menteri Arifah memastikan bahwa Kementerian PPPA akan memberikan dukungan penuh untuk membantu memulihkan kondisi mental para ibu di lokasi pengungsian. Ia berkomitmen untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah, dan tenaga profesional, untuk menyediakan layanan dukungan psikososial dan trauma healing yang komprehensif. Tujuannya adalah untuk memberikan penguatan kembali kepada para ibu agar mereka dapat menghadapi masa sulit ini dengan lebih tegar dan segera pulih dari trauma yang mereka alami.
“Kalau dilihat dari cara berbicaranya maka kami tentunya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak bagaimana layanan dukungan psikosoial, trauma healing ini bisa kita lakukan bersama-sama untuk memberikan penguatan kembali,” tambahnya, menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam penanganan trauma pasca-bencana. Upaya ini diharapkan dapat membantu para ibu untuk kembali menemukan kekuatan dan harapan di tengah situasi yang penuh tantangan.


















