Aliran sungai yang melintasi area terdampak longsor di Kabupaten Bandung Barat memiliki karakteristik aliran kecil hingga menengah. Sungai-sungai ini secara alami mengikuti kontur lembah yang curam, memainkan peran krusial sebagai zona pelepasan air (discharge zone) bagi lereng-lereng di sekitarnya. Fenomena hidrogeologi yang dominan di wilayah ini adalah keberadaan sistem air tanah dangkal. Sistem ini sangat responsif terhadap curah hujan; muka air tanah cenderung mengalami kenaikan signifikan selama periode hujan lebat. Dr. Lana, seorang ahli geologi yang terlibat dalam analisis, menjelaskan bahwa “Infiltrasi air hujan yang intensif ke dalam lapisan tanah hasil pelapukan batuan vulkanik menyebabkan peningkatan tekanan air pori yang signifikan.” Peningkatan tekanan air pori ini merupakan faktor kunci yang melemahkan stabilitas lereng, menjadikannya lebih rentan terhadap gerakan tanah.
Analisis Mendalam Kondisi Geologi Kabupaten Bandung Barat
Wilayah Kabupaten Bandung Barat secara geologi berada di bawah pengaruh sistem struktur yang kompleks, yang dicirikan oleh keberadaan sesar (patahan) dan rekahan. Struktur-struktur ini memiliki orientasi dominan barat laut–tenggara dan barat daya–timur laut. Pola ini sangat erat kaitannya dengan dinamika tektonik yang aktif di Cekungan Bandung, serta pengaruh aktivitas vulkanik dari gunung api Kuarter yang mengelilingi wilayah tersebut. Keberadaan zona rekahan dan sesar ini memiliki implikasi signifikan terhadap sifat fisik batuan di area tersebut. Struktur ini secara substansial meningkatkan permeabilitas batuan, memungkinkan air untuk meresap lebih dalam dan cepat. Lebih lanjut, struktur ini menciptakan bidang-bidang lemah di dalam massa batuan, yang berpotensi menjadi bidang gelincir (failure plane) bagi gerakan tanah. Di tingkat lokal, kehadiran struktur geologi ini juga mempercepat proses pelapukan batuan dan memfasilitasi infiltrasi air hujan ke dalam lereng, yang keduanya berkontribusi pada ketidakstabilan lereng.
Secara morfologis, lanskap daerah yang terdampak longsor didominasi oleh bentang alam perbukitan yang terbentuk dari aktivitas vulkanik masa lalu. Ketinggian perbukitan ini bervariasi dari menengah hingga tinggi. Kemiringan lereng di sebagian besar area umumnya berkisar antara 8 hingga 40 derajat, yang dikategorikan sebagai lereng dengan tingkat kemiringan sedang hingga curam. Namun, pada beberapa bagian lanskap, terutama di sekitar lembah-lembah sungai dan punggungan bukit, dapat ditemukan lereng yang sangat curam dengan kemiringan yang melebihi 40 derajat. Kemiringan lereng yang ekstrem ini secara inheren meningkatkan potensi terjadinya gerakan tanah.
Dari perspektif geologi, formasi batuan yang menyusun daerah kejadian longsor dapat disamakan dengan formasi endapan gunung api tua yang tidak terpisahkan, sebagaimana digambarkan dalam Peta Geologi Regional Lembar Bandung, Jawa Barat. Satuan batuan ini umumnya terdiri dari berbagai material vulkanik, termasuk breksi vulkanik yang merupakan fragmen batuan vulkanik yang tersemen, tuf yang merupakan batuan sedimen vulkanik yang terdiri dari abu vulkanik, lava andesit-basalt yang merupakan aliran lava dengan komposisi menengah, serta material piroklastik lainnya. Material-material ini telah mengalami proses pelapukan yang kuat selama periode waktu geologi yang panjang. Tingkat pelapukan yang lanjut ini secara drastis menurunkan kuat geser (shear strength) dari tanah dan batuan. Penurunan kuat geser ini secara langsung meningkatkan kerentanan terhadap terjadinya gerakan tanah, terutama pada lereng-lereng dengan kemiringan sedang hingga curam yang telah teridentifikasi.
Mekanisme dan Urutan Kejadian Longsor yang Diperkirakan
Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Badan Geologi, mekanisme longsor yang terjadi diperkirakan diawali oleh proses infiltrasi air hujan yang intensif ke dalam lapisan tanah hasil pelapukan batuan vulkanik. Ketika air hujan meresap secara mendalam ke dalam pori-pori tanah dan batuan, terjadi akumulasi air yang signifikan. Akumulasi air ini menyebabkan peningkatan tekanan air pori di dalam material lereng. Peningkatan tekanan air pori ini secara efektif mengurangi gaya kohesi antarpartikel tanah dan juga menurunkan sudut geser dalam (internal friction angle) material lereng. Kedua parameter ini, kohesi dan sudut geser dalam, merupakan komponen utama yang menentukan kekuatan geser lereng (shear strength). Ketika kekuatan geser lereng berkurang drastis akibat peningkatan tekanan air pori, gaya pendorong yang bekerja pada lereng (seperti berat massa tanah dan batuan) menjadi lebih besar daripada gaya penahan yang menjaga stabilitas lereng. Pada titik keseimbangan yang terlampaui inilah, terjadi pergerakan massa tanah dan batuan. Pergerakan ini mengikuti bidang gelincir yang telah terbentuk sebelumnya pada zona-zona lemah di dalam lereng, yang seringkali berkaitan dengan struktur geologi seperti sesar dan rekahan. Proses inilah yang akhirnya memicu terjadinya longsor dengan luasan yang besar, seperti yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat.
Menanggapi potensi bahaya yang masih ada, masyarakat yang berdomisili di sekitar lokasi terdampak bencana telah diberikan rekomendasi mendesak untuk segera mengungsi ke lokasi yang dipastikan lebih aman. Hal ini didasarkan pada analisis bahwa area tersebut masih memiliki potensi tinggi untuk terjadinya longsoran susulan. Badan Geologi juga secara khusus mengimbau masyarakat, terutama yang bertempat tinggal di dekat lereng-lereng curam, untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Kewaspadaan ini sangat krusial, terutama selama dan setelah periode hujan deras yang berlangsung dalam durasi yang lama. Daerah tersebut masih menunjukkan potensi tinggi untuk terjadinya gerakan tanah susulan yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Dalam upaya penanganan darurat, termasuk operasi pencarian korban hilang, Lana menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi cuaca. Pelaksanaan operasi tidak boleh dilakukan pada saat atau segera setelah hujan deras. Hal ini dikarenakan area longsor masih berpotensi mengalami gerakan tanah susulan yang dapat membahayakan keselamatan tim penyelamat dan petugas yang terlibat dalam operasi tersebut. Kehati-hatian dalam menentukan waktu pelaksanaan operasi sangat vital untuk memastikan keamanan semua pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana.


















