Sektor kawasan industri pada tahun 2026 diprediksi akan menunjukkan kinerja yang konstruktif namun dengan pendekatan yang lebih selektif. Analisis mendalam dari para pakar industri mengindikasikan bahwa meskipun tidak akan mencapai tingkat ledakan seperti periode 2022–2024, sektor ini diperkirakan akan menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan tahun 2025. Proyeksi ini sangat bergantung pada kepemilikan lahan strategis dan basis klien multinasional yang kuat dari emiten-emiten yang beroperasi di sektor ini. Perusahaan yang mampu mengelola aset lahan mereka secara efektif dan menarik minat investor asing melalui fasilitas berkualitas tinggi akan menjadi yang terdepan dalam memanfaatkan peluang yang ada.
Analisis Suku Bunga dan Dampaknya terhadap Sektor Properti Kawasan Industri
Salah satu faktor krusial yang memengaruhi prospek sektor properti kawasan industri adalah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75% menjadi perhatian utama. Meskipun suku bunga yang relatif rendah ini secara teori dapat mendorong investasi dan konsumsi, kekhawatiran mengenai terbatasnya ruang penurunan suku bunga lebih lanjut dapat berdampak pada pelemahan daya beli. Pelemahan daya beli ini berpotensi menekan kinerja keuangan emiten properti kawasan industri, terutama dari sisi margin laba. Margin laba yang terkikis dapat mengurangi profitabilitas perusahaan dan memengaruhi kemampuan mereka untuk melakukan ekspansi atau membayar dividen.
Namun, para analis juga menekankan pentingnya memantau indikator ekonomi makro lainnya. Pertumbuhan kredit (loan growth) yang menunjukkan tren kenaikan, meskipun masih terbatas untuk bergerak secara agresif, dapat menjadi sinyal positif. Peningkatan loan growth mengindikasikan adanya aktivitas ekonomi yang mulai pulih dan potensi peningkatan permintaan terhadap produk dan jasa, termasuk properti kawasan industri. Investor disarankan untuk tidak hanya terpaku pada suku bunga, tetapi juga mencermati berbagai data ekonomi yang dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kesehatan ekonomi secara keseluruhan.
Rekomendasi Saham dan Potensi Pertumbuhan di 2026
Dalam konteks ini, beberapa emiten properti kawasan industri menonjol dengan potensi pertumbuhan yang menarik. Indy, seorang analis terkemuka, secara spesifik merekomendasikan investor untuk memantau saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Target harga yang ditetapkan untuk KIJA adalah Rp 308 per saham, sementara untuk SSIA dipatok pada Rp 1.795 per saham. Rekomendasi ini didasarkan pada analisis fundamental perusahaan, posisi pasar mereka, serta prospek pertumbuhan di masa mendatang.
Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), turut menambahkan pandangannya mengenai prospek sektor ini. Ia berpendapat bahwa ruang pemulihan kinerja bagi emiten properti kawasan industri masih terbuka lebar di tahun 2026. Wafi memproyeksikan bahwa tahun ini akan menunjukkan perbaikan yang lebih baik, terutama pada semester kedua, didorong oleh perbaikan kondisi makroekonomi secara umum. Suku bunga yang rendah dipandang sebagai katalis positif yang signifikan, mampu menekan beban bunga yang ditanggung oleh para emiten. Sentimen positif ini diperkirakan akan semakin diperkuat oleh peningkatan permintaan yang berasal dari sektor-sektor yang sedang berkembang pesat seperti Data Center dan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Meskipun demikian, Wafi juga mengingatkan adanya faktor risiko yang perlu diwaspadai, yaitu risiko geopolitik. Ketidakstabilan geopolitik di tingkat global masih menjadi hambatan potensial yang dapat memengaruhi laju ekspansi investasi asing ke Indonesia, termasuk di sektor kawasan industri. Oleh karena itu, investor perlu mempertimbangkan faktor-faktor eksternal ini dalam strategi investasi mereka.
Valuasi Saham dan Peluang Investasi
Menariknya, saham-saham emiten properti kawasan industri saat ini dinilai masih memiliki valuasi yang menarik atau dianggap murah oleh para analis. Hal ini tercermin dari adanya diskon yang cukup besar terhadap nilai aset bersih yang dinilai kembali (Revalued Net Asset Value/RNAV). Diskon ini menunjukkan bahwa harga pasar saham emiten tersebut masih di bawah nilai intrinsiknya, sehingga memberikan potensi keuntungan bagi investor yang melakukan pembelian pada level saat ini.
Data dari RTI menunjukkan pergerakan saham beberapa emiten kunci. Saham SSIA tercatat mengalami penurunan sebesar 3,57% secara year to date (YTD) dan berada di level Rp 1.620 per saham. Rasio price to earning ratio (PER) untuk SSIA tercatat sebesar 884,03x, sementara price to book value (PBV) berada di angka 1,33x. Di sisi lain, saham PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menunjukkan kenaikan sebesar 8,53% YTD, diperdagangkan pada Rp 140 per saham, dengan PER 9,64x dan PBV 1,06x. Saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mengalami lonjakan signifikan sebesar 34,29% YTD, mencapai Rp 282 per saham, dengan PER 15,88x dan PBV 0,97x. Sementara itu, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) mencatatkan kenaikan 6,31% YTD ke level Rp 118 per saham, dengan PER -44,23x dan PBV 0,26x. Angka PER negatif pada BEST mengindikasikan bahwa perusahaan belum mencetak laba pada periode tersebut.
Wafi berpendapat bahwa pasar tampaknya sudah mencerminkan sebagian besar risiko yang ada (priced-in), sehingga potensi penurunan lebih lanjut dari harga saham saat ini menjadi terbatas. Dengan pertimbangan valuasi yang menarik dan potensi pemulihan sektor, Wafi merekomendasikan aksi beli untuk saham SSIA, DMAS, dan BEST. Target harga yang direkomendasikan adalah Rp 1.850 per saham untuk SSIA, Rp 180 per saham untuk DMAS, dan Rp 140 per saham untuk BEST. Rekomendasi ini didasarkan pada keyakinan bahwa emiten-emiten tersebut memiliki fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan yang cerah di masa mendatang, didukung oleh tren positif di sektor properti kawasan industri.

















