Tragedi kemanusiaan memilukan melanda wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, ketika tanah longsor dalam skala masif menerjang permukiman warga pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026. Bencana yang terjadi sekitar pukul 03.00 WIB tersebut meluluhlantakkan kawasan Pasir Kuning dan Pasir Kuda di Kecamatan Cisarua, menyisakan duka mendalam serta tumpukan material tanah yang menimbun harapan puluhan warga. Di tengah kesunyian malam yang berubah menjadi kepanikan luar biasa, jeritan terakhir para korban yang tertimbun material tanah dilaporkan masih terus terngiang di telinga para penyintas, menciptakan trauma psikologis yang sangat berat bagi keluarga yang ditinggalkan. Skala kerusakan yang masif ini memaksa seluruh elemen bangsa, termasuk partai politik, untuk mengesampingkan kalkulasi elektoral dan memprioritaskan aksi penyelamatan nyawa serta pemulihan kondisi sosial masyarakat yang terdampak secara langsung.
Komitmen Kemanusiaan PDIP: Menempatkan Rakyat di Atas Kalkulasi Politik
Merespons situasi darurat tersebut, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) segera mengambil langkah konkret dengan mengerahkan seluruh kekuatan struktural partai untuk membantu proses evakuasi dan penanganan pengungsi. Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, memberikan instruksi tegas kepada seluruh kader untuk turun langsung ke titik-titik bencana tanpa menunda waktu. Instruksi ini disampaikan Hasto dalam pidato resminya saat meresmikan sebuah klinik kesehatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 PDIP di Sukabumi, Minggu, 25 Januari 2026. Hasto menegaskan bahwa momen ulang tahun partai kali ini harus dijadikan sebagai momentum penguatan struktur dalam melayani rakyat secara tulus, terutama di tengah musibah yang melanda Jawa Barat.
Hasto Kristiyanto menekankan bahwa dalam situasi bencana seperti ini, suara kemanusiaan harus ditempatkan jauh di atas segala bentuk kalkulasi politik praktis. Ia menyatakan bahwa penderitaan rakyat adalah penderitaan partai, sehingga kehadiran kader di lapangan dengan membawa bantuan medis, ambulans, dan logistik merupakan kewajiban moral yang tidak bisa ditawar. “Selama rakyat menderita, suara kemanusiaan kita berbicara jauh di atas kalkulasi politik. Karena itu, kader diperintahkan turun dengan ambulans dan tenaga medis ke daerah bencana,” tegas Hasto di hadapan para kader. Langkah cepat ini merupakan implementasi dari arahan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang sejak jauh hari telah menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP untuk selalu dalam kondisi siaga, terutama dengan merujuk pada data dan informasi peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Lebih lanjut, Hasto membawa pesan filosofis dari Megawati Soekarnoputri mengenai prinsip “Satyam Eva Jayate” yang berarti kebenaran pasti akan menang. Dalam konteks bencana, kebenaran tersebut diwujudkan melalui perisai moral untuk selalu berpihak pada rakyat kecil (wong cilik) yang sedang tertimpa musibah. Kepercayaan yang telah diberikan rakyat kepada partai harus dijawab dengan aksi nyata: turun ke bawah, mendengarkan keluh kesah, dan menyatu dalam duka bersama masyarakat. PDIP ingin memastikan bahwa negara dan elemen politik hadir sebagai pelindung saat warga kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga mereka akibat fenomena alam yang tak terduga ini.
Mobilisasi Relawan dan Pembentukan Jejaring Kesehatan Desa
Di lokasi yang sama, Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Ono Surono, memberikan rincian lebih teknis mengenai pergerakan partai di wilayah terdampak. Ono menegaskan bahwa jajaran DPD PDIP Jawa Barat telah diperintahkan untuk langsung bergerak menuju lokasi bencana di Cisarua, Bandung Barat. Selain membawa bantuan logistik darurat, Ono juga memperkenalkan inisiatif pembentukan relawan kesehatan berbasis desa di seluruh Jawa Barat. Program ini dirancang untuk menciptakan sistem tanggap darurat yang lebih cepat di tingkat akar rumput, sehingga ketika bencana terjadi, bantuan medis pertama dapat segera diberikan sebelum bantuan dari pusat tiba di lokasi.
Selain fokus pada penanganan medis, Ono Surono juga menyoroti peran strategis kaum perempuan dalam proses pemulihan pascabencana. Melalui yayasan Wanoja Perjuangan, PDIP menggerakkan kaum perempuan untuk aktif di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi bagi para pengungsi. Saat ini, tercatat sedikitnya 141 orang warga harus mengungsi di aula desa setempat karena rumah mereka hancur atau berada di zona merah yang rawan longsor susulan. Para pengungsi ini sangat mengharapkan bantuan berkelanjutan, mulai dari kebutuhan pokok hingga pendampingan psikologis untuk mengatasi trauma. Ono mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan para korban agar diberikan kekuatan dan mereka yang hilang dapat segera ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Operasi DVI dan Identifikasi Korban: Perjuangan di Tengah Tumpukan Lumpur
Memasuki hari kedua pencarian pada Minggu, 25 Januari 2026, suasana di Posko Puskesmas Pasirlangu tampak mencekam sekaligus sibuk. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat melaporkan telah menerima sebanyak 25 kantong jenazah yang berhasil dievakuasi dari timbunan material longsor. Proses identifikasi menjadi tantangan berat bagi tim medis karena kondisi jenazah yang terdampak material tanah dan bebatuan. Data terbaru menunjukkan bahwa dari total 113 jiwa yang terdampak langsung oleh longsor di dua kampung tersebut, baru 23 orang yang dinyatakan selamat, sementara 65 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian intensif oleh tim gabungan.
Tim DVI bekerja tanpa henti untuk melakukan identifikasi post mortem guna mencocokkan data dengan anggota keluarga yang merasa kehilangan. Hingga berita ini diturunkan, sebanyak 11 korban telah berhasil diidentifikasi secara akurat. Beberapa di antaranya adalah Suryana, Jajang Tarta, dan Ayu Yuniarti. Proses identifikasi ini sangat krusial agar keluarga korban mendapatkan kepastian dan dapat memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi orang-orang tercinta mereka. Kendala cuaca dan medan yang labil di lokasi longsor menjadi hambatan utama bagi alat berat dan personel SAR dalam menyisir area yang diduga menjadi titik tertimbunnya puluhan warga lainnya.
Kondisi geografis Kecamatan Cisarua yang berbukit memang menyimpan risiko geologis yang tinggi, terutama saat curah hujan ekstrem melanda. Longsoran yang terjadi pada pukul 03.00 WIB tersebut datang secara tiba-tiba saat sebagian besar warga sedang terlelap tidur, sehingga tidak banyak waktu bagi mereka untuk menyelamatkan diri. Kecepatan material tanah yang menuruni lereng menghancurkan bangunan permanen maupun semi-permanen dalam hitungan detik, mengubur harta benda dan nyawa di bawah kedalaman meteran tanah lumpur.
Kisah Pilu Tanu: Kehilangan Tujuh Anggota Keluarga dalam Semalam
Di balik angka-angka statistik korban, terselip kisah-kisah memilukan yang menggambarkan betapa dahsyatnya dampak bencana ini terhadap sisi kemanusiaan. Salah satunya datang dari Tanu, seorang pria berusia 48 tahun warga Kampung Babakan, Desa Pasirlangu. Dengan tatapan kosong dan suara yang bergetar, Tanu menceritakan bagaimana ia kehilangan tujuh anggota keluarganya sekaligus dalam satu malam. Saat kejadian, Tanu hanya memiliki waktu yang sangat sempit untuk menarik istri dan dua anaknya keluar dari rumah sebelum material tanah menghantam bangunan mereka. Namun malang, enam saudara kandung dan ibu mertuanya tidak sempat menyelamatkan diri dan hingga kini masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Tanu menceritakan momen mengerikan yang terus menghantuinya, yaitu ketika ia mendengar suara lirih meminta tolong dari bawah timbunan tanah. “Uwa tolong wa… suaranya muncul sebentar, lalu hilang sepenuhnya,” kenang Tanu dengan air mata yang mengalir di pipinya. Suara itu menjadi memori terakhir yang ia miliki dari anggota keluarganya sebelum kesunyian maut menyelimuti lokasi kejadian. Selain kehilangan orang-orang terkasih, seluruh aset ekonomi yang ia bangun selama bertahun-tahun juga sirna. Sebanyak 28 ekor kambing milik Tanu ikut tertimbun, mengakibatkan kerugian materiil yang ditaksir mencapai Rp84 juta. Baginya, kehilangan harta benda mungkin bisa dicari kembali, namun kepastian mengenai keberadaan anggota keluarganya adalah hal yang paling ia harapkan saat ini.
Kisah Tanu adalah representasi dari duka kolektif warga Bandung Barat. Di tengah ketidakpastian ini, aksi cepat dari berbagai pihak, termasuk bantuan medis dan logistik dari relawan serta partai politik, menjadi satu-satunya sandaran harapan bagi para penyintas. Kehilangan besar ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak bahwa mitigasi bencana dan kesiapsiagaan harus menjadi prioritas utama di wilayah-wilayah rawan. Bencana bukan sekadar angka dalam laporan berita, melainkan tragedi nyata yang menghancurkan struktur keluarga dan masa depan sebuah komunitas. Saat ini, fokus utama tetap pada pencarian 65 warga yang masih hilang, dengan harapan ada keajaiban di tengah tumpukan lumpur Pasir Kuning dan Pasir Kuda.


















