DENPASAR – Arena Super League 2025-2026 kembali menyajikan drama yang menguras emosi pada laga perdana putaran kedua, ketika Bali United, yang berstatus tuan rumah, dipaksa berbagi angka dengan tim tamu Semen Padang. Pertandingan yang digelar di markas kebanggaan Serdadu Tridatu, Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Sabtu (24/1) sore WIB, berakhir dengan skor imbang 3-3, sebuah hasil yang jauh dari harapan bagi tim yang menargetkan posisi teratas di klasemen liga.
Sejak peluit awal dibunyikan, atmosfer di Stadion Dipta sudah terasa membara, namun bukan untuk keunggulan tuan rumah. Semen Padang secara mengejutkan berhasil menggebrak pertahanan Bali United dengan dua gol cepat yang dicetak oleh Angelo Meneses pada menit ke-5 dan Jaime Giraldo pada menit ke-12. Keunggulan dua gol di awal pertandingan ini sontak membungkam ribuan suporter tuan rumah dan menimbulkan keraguan atas kesiapan Bali United menghadapi paruh kedua musim. Namun, semangat juang Bali United tak padam begitu saja. Memasuki babak kedua, Jens Raven berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-46, memberikan suntikan moral yang sangat dibutuhkan. Momentum berbalik sepenuhnya ketika Mirza Mustafic menyamakan kedudukan menjadi 2-2 di menit ke-69, diikuti oleh gol Thijmen Goppel pada menit ke-75 yang membawa Bali United berbalik unggul 3-2. Euforia di Dipta mencapai puncaknya, seolah kemenangan sudah di depan mata. Sayangnya, kegembiraan tersebut tidak bertahan lama, karena Semen Padang berhasil mencetak gol penyama kedudukan melalui Riphal Wahyudi di menit ke-79, mengunci hasil imbang 3-3 yang dramatis dan menyisakan rasa pahit bagi Bali United.
Absensi Krusial dan Dampak Strategis
Kegagalan Bali United meraih kemenangan di kandang sendiri pada pertandingan krusial ini tidak lepas dari beberapa faktor fundamental yang secara signifikan memengaruhi performa tim. Analisis mendalam menunjukkan adanya tiga pilar utama yang menjadi penyebab Serdadu Tridatu gagal mengamankan poin penuh.
Pertama, adalah absennya dua legiun asing andalan Bali United yang memiliki peran vital dalam skema permainan tim: striker tajam Boris Kopitovic dan gelandang pengatur serangan Tim Receveur. Kedua pemain ini harus menepi dari lapangan hijau karena menjalani sanksi akumulasi kartu kuning. Absennya Kopitovic, yang dikenal dengan insting golnya yang mematikan dan kemampuannya menahan bola, membuat lini serang Bali United kehilangan daya gedor dan target man yang efektif di kotak penalti lawan. Sementara itu, ketiadaan Receveur di lini tengah sangat terasa dalam distribusi bola, kontrol tempo permainan, dan kreativitas dalam membangun serangan. Perannya sebagai jenderal lapangan tengah yang mampu menghubungkan lini belakang dan depan tidak dapat tergantikan sepenuhnya oleh pemain lain, sehingga aliran bola Bali United menjadi kurang cair dan mudah diprediksi oleh pertahanan Semen Padang. Dampak dari absennya dua pemain kunci ini adalah hilangnya keseimbangan tim dan berkurangnya opsi taktis bagi pelatih Johnny Jansen.
Kedua, Bali United juga belum bisa menurunkan penyerang sayap baru mereka, Diego Campos. Pemain yang diharapkan menjadi motor serangan dari sisi sayap ini harus absen karena urusan administrasi yang belum rampung. Situasi ini tentu sangat merugikan, mengingat Campos diproyeksikan untuk menambah kecepatan, dribbling, dan kemampuan mencetak gol dari area sayap. Ketidakhadirannya berarti Bali United kehilangan dimensi serangan yang seharusnya bisa menjadi pembeda, terutama saat menghadapi pertahanan lawan yang rapat. Keterlambatan dalam penyelesaian administrasi seringkali menjadi kendala bagi klub-klub di liga, dan dalam kasus ini, hal tersebut berujung pada hilangnya potensi poin penting di awal putaran kedua.
Ketiga, dan mungkin yang paling signifikan dari sudut pandang taktik, adalah perubahan strategi yang diterapkan oleh pelatih Johnny Jansen yang belum menunjukkan efektivitasnya. Jansen memutuskan untuk memasang Jordy Bruijn sebagai false nine, sebuah peran yang menuntut pemain untuk turun lebih dalam dari posisi striker murni, menarik bek lawan, dan menciptakan ruang bagi rekan-rekannya. Namun, dalam pertandingan melawan Semen Padang, Bruijn gagal menjalankan perannya tersebut secara optimal. Ia kesulitan dalam memenangkan duel dengan lini belakang Semen Padang yang tampil solid dan disiplin. Pertahanan Semen Padang, yang dipimpin oleh pemain-pemain tangguh, mampu membaca pergerakan Bruijn dan tidak terpancing untuk keluar dari posisinya. Akibatnya, Bruijn tidak mampu menciptakan ancaman yang berarti di depan gawang lawan, dan skema serangan Bali United menjadi tumpul di sepertiga akhir lapangan, yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas gol tim.
Mentalitas Juara di Tengah Keterpurukan Taktis
Meskipun gagal meraih kemenangan di kandang sendiri dan harus puas dengan hasil imbang, pelatih Johnny Jansen memilih untuk tetap bersyukur dan menyoroti aspek positif dari pertandingan tersebut. Dalam pernyataannya yang dilansir dari laman klub, Jansen mengungkapkan, “Yang ingin saya tekankan adalah bagaimana kami bermain sepak bola dengan baik. Kami menguasai aliran bola, bangkit dari ketertinggalan, dan berjuang untuk menyamakan kedudukan. Itu yang disebut dengan mentalitas dalam pertandingan.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Jansen lebih memprioritaskan semangat juang dan karakter tim daripada sekadar hasil akhir. Ia melihat bagaimana timnya mampu bangkit dari ketertinggalan dua gol di awal pertandingan, sebuah respons yang menunjukkan ketahanan mental dan keinginan untuk tidak menyerah. Meskipun secara taktik ada beberapa hal yang perlu dievaluasi, kemampuan tim untuk membalikkan keadaan dan menunjukkan dominasi dalam penguasaan bola adalah indikator positif yang ingin ditekankan oleh sang pelatih.
Hasil imbang ini, meskipun mengecewakan, tidak mengubah posisi kedua tim secara drastis di klasemen sementara Super League 2025-2026. Bali United tetap bertahan di peringkat kedelapan dengan koleksi 28 poin. Poin ini didapatkan dari tujuh kali kemenangan, tujuh kali hasil seri, dan empat kali kekalahan. Posisi ini menempatkan Bali United di tengah persaingan ketat untuk merebut tiket ke kompetisi kontinental atau setidaknya finis di papan atas. Sementara itu, bagi Semen Padang, hasil imbang ini, meski merupakan poin tandang yang berharga, belum mampu mengangkat mereka dari zona degradasi. Tim berjuluk Kabau Sirah ini masih terdampar di peringkat ke-17 dengan hanya mengumpulkan 11 poin, hasil dari tiga kali menang, dua kali seri, dan 13 kali kekalahan. Sebuah perjalanan yang sangat berat menanti Semen Padang jika mereka ingin bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Pertandingan ini menjadi cerminan dari tantangan yang akan dihadapi Bali United di putaran kedua. Dengan absennya beberapa pemain kunci dan eksperimen taktik yang belum berhasil, Serdadu Tridatu harus segera menemukan formula terbaik untuk kembali ke jalur kemenangan. Mentalitas yang dipuji oleh Johnny Jansen memang krusial, namun tanpa dukungan strategi yang tepat dan ketersediaan skuad penuh, perjuangan Bali United untuk mencapai target mereka di Super League 2025-2026 akan semakin berat. Bagi Semen Padang, poin ini adalah secercah harapan, sebuah bukti bahwa mereka memiliki potensi untuk memberikan perlawanan, namun konsistensi dan perbaikan di semua lini menjadi kunci utama untuk keluar dari jurang degradasi.


















