- Suryana, berusia 57 tahun.
- Jajang Tarta, berusia 35 tahun.
- Dadang Apung, berusia 60 tahun.
- Nining, berusia 40 tahun.
- Nurhayati, berusia 42 tahun.
- Lina Lismayanti, berusia 43 tahun.
- M. Kori, berusia 30 tahun, yang teridentifikasi melalui bagian tubuh yang ditemukan.
- Ai Sumarni, berusia 35 tahun.
- Koswara, berusia 40 tahun.
- Koswara, berusia 26 tahun.
- Ayu Yuniarti, berusia 31 tahun.
Tanah longsor yang merenggut nyawa dan menghancurkan sebagian wilayah Kampung Babakan Cibudah ini terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026. Bencana alam dahsyat ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat tinggi yang telah mengguyur wilayah Kabupaten Bandung Barat sejak Jumat, 23 Januari 2026. Kondisi tanah yang jenuh akibat hujan berhari-hari tersebut akhirnya tidak mampu menahan beban, memicu pergerakan massa tanah dalam skala besar.
Peristiwa longsor terjadi sekitar pukul 03.00 WIB pada Sabtu pagi. Longsoran ini tidak hanya membawa material tanah dan bebatuan dalam jumlah masif, tetapi juga disertai dengan aliran banjir bandang yang berasal dari kawasan perbukitan di sekitarnya. Aliran deras ini menerjang pemukiman warga yang berada di bawah lereng, menyebabkan kerusakan infrastruktur yang parah, termasuk merusak rumah-rumah penduduk dan memutus akses jalan vital yang menghubungkan berbagai wilayah.
Status Tanggap Darurat dan Dampak Luas Bencana
Menghadapi skala bencana yang menghancurkan ini, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dengan sigap telah menetapkan status Tanggap Darurat. Status ini diberlakukan sejak tanggal 23 Januari 2026 dan direncanakan akan berlangsung selama 14 hari ke depan, guna memastikan penanganan darurat, pencarian korban, serta pemulihan pascabencana dapat berjalan optimal dan terkoordinasi.
Data yang dihimpun oleh Posko Utama Tim DVI hingga Minggu, menunjukkan gambaran suram mengenai dampak bencana ini. Sebanyak 105 orang dilaporkan masih berstatus hilang, menambah daftar kekhawatiran keluarga yang menanti kabar. Secara keseluruhan, bencana longsor ini dilaporkan telah berdampak pada 113 jiwa. Dari jumlah tersebut, 23 orang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, masih tersisa 65 orang lainnya yang belum ditemukan sejak insiden memilukan ini terjadi, sehingga upaya pencarian terus digalakkan tanpa henti.
Berdasarkan keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, bencana longsor di Kecamatan Cisarua ini diperkirakan telah menimbun sekitar 30 rumah warga. Rumah-rumah yang tertimbun ini tersebar di dua rukun tetangga (RT) di Desa Pasirlangu, yaitu RT 05 dan RT 11 di wilayah RW 11, tepatnya di area Pasirkuning. Tingkat kerusakan yang parah ini menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan longsor yang menerjang.
Situasi di posko pengungsian yang didirikan di Kantor Desa Pasirlangu menunjukkan skala kepanikan dan ketidakpastian yang meluas di kalangan masyarakat. Hingga Minggu, posko tersebut telah dipadati oleh 680 jiwa pengungsi. Jumlah pengungsi yang terus bertambah ini tidak hanya berasal dari warga yang rumahnya secara langsung tertimbun atau rusak di RW 10 dan RW 11, tetapi juga mencakup warga dari RW 12 yang berdekatan dengan lokasi kejadian. Kekhawatiran akan terjadinya longsor susulan menjadi alasan utama mereka meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman, menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi pasca-bencana.


















