Kementerian Keuangan Republik Indonesia mencatat rekor penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel sepanjang tahun 2025, dengan total penghimpunan dana mencapai angka fantastis sebesar Rp 153 triliun. Prestasi gemilang ini dicapai melalui penerbitan delapan seri SBN ritel yang berhasil menarik minat berbagai kalangan investor. Yang paling menonjol dari capaian ini adalah dominasi partisipasi dari generasi muda, khususnya kalangan milenial dan Generasi Z (Gen Z), yang secara signifikan mengimbangi bahkan melampaui porsi investor dari generasi sebelumnya.
Dominasi Investor Muda dalam Pasar SBN Ritel
Pelaksana tugas Direktur Surat Utang Negara Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, secara gamblang menyampaikan temuan menarik ini dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada hari Senin, 26 Januari 2026. Beliau mengemukakan bahwa partisipasi investor muda dalam pembelian instrumen utang yang diterbitkan oleh pemerintah ini tidak hanya signifikan, tetapi bahkan menjadi mayoritas. “Generasi muda disini sudah mulai banyak yang berpartisipasi bahkan majority. Jadi 57 persen adalah kaum muda, generasi milenial dan gen z,” tegas Novi Puspita Wardani, menyoroti pergeseran demografis dalam lanskap investasi SBN ritel.
Minat yang tinggi dari para investor muda, yang didefinisikan sebagai mereka yang lahir di atas tahun 1980, dipandang sebagai sebuah sinyal positif yang sangat berharga bagi prospek dan ekspansi pasar SBN ritel di masa mendatang. Meskipun secara historis kelompok Generasi X (kelahiran 1965-1979) dan Baby Boomers (kelahiran sebelum 1965) masih memegang basis investor terbesar dengan daya beli yang kuat, tren menunjukkan bahwa dominasi mereka kini mulai diimbangi secara substansial oleh generasi yang lebih muda. Data menunjukkan bahwa porsi pembelian dari kelompok investor yang lahir antara tahun 1965 hingga 1979 mencapai 43 persen dari total penjualan surat utang ritel. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun masih kuat, kontribusi mereka mulai terbagi dengan kehadiran investor milenial dan Gen Z yang semakin aktif.
Di sisi lain spektrum demografis, kontribusi dari generasi Tradisionalis (mereka yang lahir antara tahun 1928 hingga 1945) kini tercatat sangat minim, hanya menyisakan sekitar 1 persen dari total keseluruhan investor. “Jadi artinya ini potensi untuk ke depannya SBN retail ini untuk terus berkembang,” ujar Novi Puspita Wardani, menekankan bahwa minimnya partisipasi dari generasi tertua justru membuka peluang besar bagi pertumbuhan pasar SBN ritel di masa depan, seiring dengan semakin banyaknya generasi muda yang melek investasi.
Rincian Penerbitan SBN Ritel 2025 dan Profil Investor


















