Kabupaten Pacitan, yang terletak di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur, saat ini tengah menghadapi krisis kesehatan masyarakat yang signifikan menyusul terjadinya lonjakan kasus diare massal yang mengkhawatirkan. Wilayah Kecamatan Sudimoro menjadi episentrum dari persebaran penyakit saluran pencernaan ini, dengan laporan terbaru mencatat sedikitnya 290 warga telah teridentifikasi sebagai korban terdampak. Fenomena ini bukan sekadar insiden kesehatan biasa, melainkan telah berkembang menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan daerah karena kecepatan penularannya yang masif dan cakupan korbannya yang sangat luas. Berdasarkan data epidemiologi di lapangan, mayoritas penderita yang mengalami kondisi paling parah adalah kelompok rentan, yakni balita dan anak-anak, yang secara fisiologis memiliki sistem imun dan cadangan cairan tubuh yang lebih terbatas dibandingkan orang dewasa.
Kondisi klinis yang dialami oleh para warga dilaporkan sangat mengganggu produktivitas dan stabilitas kesehatan mereka. Gejala yang mendominasi meliputi rasa mual yang hebat, muntah yang terjadi secara berulang, serta diare akut dengan frekuensi buang air besar yang tinggi. Bagi anak-anak dan balita, kombinasi gejala ini sangat berbahaya karena dapat memicu dehidrasi berat dalam waktu singkat. Dari total ratusan warga yang terdampak, sebanyak 42 orang terpaksa harus dirujuk dan menjalani perawatan intensif di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk Puskesmas Sudimoro dan rumah sakit daerah. Langkah rawat inap ini diambil sebagai upaya preventif untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut, seperti syok hipovolemik yang sering kali menjadi penyebab fatalitas pada kasus diare massal yang tidak tertangani dengan cepat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, Daru Mustikoaji, memberikan penjelasan mendalam mengenai kronologi dan periodisasi serangan wabah ini. Berdasarkan hasil pelacakan tim medis, kasus diare massal ini mulai terdeteksi merayap naik sejak tanggal 12 Januari 2026 dan terus berlanjut hingga 23 Januari 2026. Namun, lonjakan paling drastis atau puncak kasus (peak of cases) terjadi tepat pada hari Senin, 19 Januari 2026. Pada tanggal tersebut, fasilitas kesehatan di Sudimoro dibanjiri oleh pasien dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak sekolah hingga penduduk usia produktif. Pola penyebaran yang serentak ini memberikan indikasi kuat bagi para ahli epidemiologi bahwa terdapat satu sumber penularan tunggal yang dikonsumsi atau digunakan secara kolektif oleh warga di wilayah tersebut.
Analisis Epidemiologi dan Investigasi Sumber Kontaminan
Dalam tinjauan profesionalnya, Daru Mustikoaji mengungkapkan bahwa melihat dari pola persebaran dan durasi kejadian, dugaan utama penyebab wabah ini mengarah pada kontaminasi air oleh berbagai jenis mikroorganisme patogen. Faktor risiko yang sedang diteliti mencakup keberadaan bakteri (seperti E. coli atau Salmonella), virus (seperti Rotavirus atau Norovirus), protozoa, hingga kemungkinan adanya alga atau fungi yang berkembang biak secara tidak terkendali di dalam sumber air baku yang dikonsumsi warga. Kondisi lingkungan dan sanitasi air yang tidak memadai sering kali menjadi pemicu utama di mana mikroorganisme ini dapat masuk ke dalam sistem pencernaan manusia melalui air minum yang tidak diolah dengan standar sterilisasi yang tepat.
Guna memberikan kepastian ilmiah dan menentukan langkah pengobatan yang lebih spesifik, Dinas Kesehatan Pacitan telah mengambil langkah-langkah prosedural dengan mengumpulkan sampel air dari titik-titik krusial di pemukiman warga. Sampel-sampel tersebut kini telah dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) di Surabaya untuk menjalani uji mikrobiologi dan kimiawi yang komprehensif. Tidak hanya itu, mengingat potensi keterlibatan virus yang sering kali sulit dideteksi dengan peralatan standar, sampel tambahan juga dikirim ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan di Jakarta. Hingga saat ini, otoritas kesehatan masih menunggu hasil resmi dari laboratorium tersebut untuk mengidentifikasi agen penyebab pasti (causative agent) dari wabah yang melanda Sudimoro.
| Kategori Informasi | Detail Data Kasus |
|---|---|
| Lokasi Terdampak | Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan |
| Total Korban Terpapar | 290 Orang |
| Jumlah Pasien Rawat Inap | 42 Orang |
| Rentang Waktu Kejadian | 12 – 23 Januari 2026 |
| Puncak Kasus | 19 Januari 2026 |
Strategi Mitigasi: Klorinasi dan Edukasi PHBS


















