Dalam sebuah pernyataan yang mengguncang lanskap politik Kanada pada Agustus 2025, Pierre Poilievre, pemimpin Partai Konservatif Kanada dan figur oposisi terkemuka, melancarkan tudingan serius terhadap Mark Carney, mantan Gubernur Bank Sentral Kanada dan Bank of England yang kini menjadi penasihat senior pemerintahan Liberal. Poilievre secara eksplisit menyatakan bahwa “Carney dikompromikan oleh rezim otoriter di Beijing.” Tuduhan ini tidak hanya bersifat retoris, melainkan didasarkan pada klaim spesifik mengenai keterikatan finansial Carney dengan entitas Tiongkok. Menurut Poilievre, perusahaan yang terafiliasi dengan Carney memiliki utang substansial, mencapai seperempat miliar dolar, kepada bank-bank milik negara Tiongkok. Implikasi dari tudingan ini sangat mendalam, menyiratkan bahwa posisi dan pengaruh Carney mungkin telah terganggu, atau bahkan digunakan, oleh kepentingan strategis Beijing, terutama mengingat perannya yang semakin menonjol dalam diplomasi ekonomi Kanada.
Tudingan Poilievre meluas hingga mencakup dugaan perlindungan terhadap seorang kandidat dan anggota parlemen dari Partai Liberal yang, menurutnya, telah membuat pernyataan yang sangat kontroversial dan meresahkan. Anggota parlemen tersebut dituding mengatakan bahwa “warga negara Kanada harus diserahkan kepada Beijing untuk mendapatkan hadiah.” Pernyataan semacam ini, jika benar, akan menjadi pelanggaran serius terhadap kedaulatan Kanada dan perlindungan hak asasi manusia warganya, memicu kemarahan publik dan kekhawatiran mendalam tentang integritas politik. Poilievre menggunakan insiden ini untuk menyerang kredibilitas Partai Liberal secara keseluruhan, dengan tegas menyatakan, “Partai Liberal Carney tidak dapat dipercaya untuk menjaga keamanan warga Kanada.” Serangan ini menyoroti perdebatan yang lebih luas tentang pengaruh asing dalam politik Kanada dan kemampuan pemerintah untuk melindungi kepentingan nasionalnya di tengah dinamika geopolitik yang kompleks.
Klaim mengenai utang seperempat miliar dolar kepada bank milik negara Tiongkok menjadi inti dari serangan Poilievre. Meskipun Poilievre tidak merinci nama perusahaan atau bank Tiongkok yang dimaksud, jumlah yang fantastis ini menimbulkan pertanyaan serius tentang potensi konflik kepentingan. Bank-bank milik negara Tiongkok seringkali berfungsi sebagai alat kebijakan luar negeri Beijing, dan pinjaman sebesar itu dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap individu atau entitas yang menerimanya. Bagi seorang tokoh sekaliber Mark Carney, yang memiliki pengalaman luas di panggung keuangan global dan kini terlibat dalam urusan kenegaraan, dugaan keterikatan finansial semacam itu dapat merusak reputasinya dan menimbulkan keraguan tentang objektivitasnya dalam membentuk kebijakan luar negeri dan ekonomi Kanada, terutama yang berkaitan dengan Tiongkok. Pertanyaan muncul apakah utang tersebut dapat digunakan sebagai alat tekanan atau leverage oleh Beijing dalam negosiasi atau keputusan strategis yang melibatkan Kanada.
Respon Diplomatik Beijing dan Ancaman Washington
Menanggapi gejolak politik di Kanada dan ancaman dari Amerika Serikat, Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada hari Senin merilis pernyataan yang berupaya meredakan ketegangan dan mengklarifikasi posisinya. Kementerian tersebut menegaskan bahwa kesepakatan yang sedang diupayakan antara Beijing dan Kanada untuk mengatasi masalah ekonomi dan perdagangan bilateral “tidak ditujukan kepada pihak ketiga mana pun.” Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap ancaman serius dari Amerika Serikat yang menyatakan akan mengenakan tarif 100 persen pada Kanada jika negara itu menyelesaikan kesepakatan perdagangan dengan Beijing. Ancaman Washington ini mencerminkan kekhawatiran mendalam AS terhadap peningkatan pengaruh Tiongkok dan upaya untuk mencegah sekutunya, termasuk Kanada, untuk menjalin hubungan ekonomi yang lebih erat dengan Beijing, terutama di sektor-sektor strategis seperti kendaraan listrik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, dalam konferensi pers rutin yang disiarkan oleh Channel News Asia (CNA), menguraikan filosofi diplomatik Beijing. Guo menyatakan bahwa “Cina berpendapat bahwa negara-negara harus menangani hubungan satu sama lain dengan pola pikir saling menguntungkan (win-win) daripada saling merugikan (zero-sum), dan melalui kerja sama daripada konfrontasi.” Retorika “win-win” ini adalah ciri khas diplomasi Tiongkok, yang bertujuan untuk memproyeksikan citra sebagai mitra yang konstruktif dan menghindari persepsi persaingan yang merugikan. Pernyataan ini secara implisit mengkritik pendekatan “zero-sum” yang sering dikaitkan dengan kebijakan perdagangan proteksionis Amerika Serikat, sambil menegaskan kembali komitmen Tiongkok terhadap multilateralisme dan kerja sama ekonomi global. Bagi Beijing, kesepakatan dengan Kanada adalah bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat hubungan ekonomi global dan menantang dominasi ekonomi AS.
Manuver Ekonomi Kanada dan Strategi Diversifikasi
Di tengah ketegangan geopolitik ini, Mark Carney, yang kini menjabat sebagai penasihat khusus Perdana Menteri Justin Trudeau dan utusan khusus PBB untuk aksi iklim dan keuangan, melakukan perjalanan penting ke Tiongkok pada bulan ini. Kunjungan tersebut menghasilkan kesepakatan perdagangan awal yang signifikan antara Kanada dan Beijing. Kesepakatan tersebut mencakup pengurangan tarif substansial untuk kendaraan listrik (EV) Tiongkok yang memasuki pasar Kanada, sebagai imbalan atas penurunan bea masuk untuk canola Kanada yang diekspor ke Tiongkok. Pengurangan tarif EV Tiongkok dapat membuka pasar Kanada untuk produsen EV Tiongkok yang berkembang pesat, berpotensi menawarkan pilihan yang lebih terjangkau bagi konsumen Kanada, namun juga memicu kekhawatiran tentang persaingan industri lokal dan keamanan siber. Di sisi lain, penurunan bea masuk untuk canola Kanada adalah kemenangan besar bagi sektor pertanian Kanada, yang telah lama menghadapi hambatan perdagangan dengan Tiongkok, terutama setelah penangkapan Meng Wanzhou, CFO Huawei, di Vancouver yang memicu ketegangan diplomatik dan pembatasan impor canola dari Kanada oleh Tiongkok.
Langkah Carney untuk menjalin kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok dapat dilihat sebagai upaya strategis Kanada untuk menjauhkan diri dari Amerika Serikat yang “bergejolak” di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump. Sejak pemerintahan Trump berkuasa, hubungan perdagangan antara Kanada dan AS telah terjebak dalam “perang dagang” yang merugikan. Trump memberlakukan bea impor yang signifikan terhadap baja dan aluminium dari Kanada, memicu respons balasan dari Ottawa dan menciptakan ketidakpastian ekonomi yang besar bagi kedua negara. Ketidakpastian ini diperparah oleh retorika proteksionis Trump dan ancaman untuk merundingkan ulang atau bahkan menarik diri dari perjanjian perdagangan penting seperti NAFTA (yang kemudian digantikan oleh USMCA). Dalam konteks ini, Kanada mencari diversifikasi pasar dan mitra dagang untuk mengurangi ketergantungannya yang besar pada ekonomi AS, yang secara historis merupakan tujuan ekspor terbesar Kanada. Kesepakatan dengan Tiongkok, meskipun berisiko geopolitik, menawarkan jalur alternatif untuk pertumbuhan ekonomi dan stabilitas perdagangan bagi Kanada di tengah ketidakpastian global.
Pilihan Editor: Trump Ancam Kenakan Tarif 100 Persen ke Kanada


















