Christine Hakim, seorang ikon perfilman Indonesia yang kiprahnya telah mengharumkan nama bangsa selama puluhan tahun, kembali menorehkan prestasi gemilang. Aktris senior yang telah menorehkan jejak tak terhapuskan dalam sejarah sinema tanah air ini, baru saja dianugerahi penghargaan Aktris Pendukung Pilihan Tempo 2025 atas perannya yang memukau sebagai Bu Maya dalam film Pangku. Film yang disutradarai oleh aktor berbakat Reza Rahadian ini, telah berhasil memukau para kritikus dan penikmat film, membuktikan bahwa kualitas akting Christine Hakim tak pernah lekang oleh waktu.
Dalam kategori Aktris Pendukung Pilihan Tempo 2025, Christine Hakim bersaing dengan nama-nama aktris muda berbakat yang juga menunjukkan performa luar biasa. Di antaranya adalah Amanda Rawles, yang tampil memukau dalam film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Raihaanun yang memukau penonton dengan aktingnya di film Gowok, dan Vonny Anggraini yang memberikan penampilan kuat dalam Legenda Kelam Malin Kundang. Namun, pada akhirnya, kharisma dan kedalaman akting Christine Hakim dalam Pangku lah yang berhasil mencuri perhatian dan meraih penghargaan bergengsi ini.
Perjalanan Penghargaan dan Apresiasi di Festival Film Tempo
Malam penghargaan Festival Film Tempo, sebuah ajang prestisius yang selalu dinanti oleh para pelaku industri perfilman Indonesia, diselenggarakan dengan meriah di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara yang berlangsung pada Senin, 26 Januari 2026, ini menjadi saksi bisu penganugerahan berbagai kategori penghargaan, termasuk Aktris Pendukung Pilihan Tempo 2025. Pengumuman nama Christine Hakim sebagai pemenang disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin yang hadir. Dalam pidato kemenangannya yang penuh haru dan humor, Christine Hakim menyampaikan rasa terima kasihnya kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam kesuksesan film Pangku. Ia secara khusus menyoroti peran sutradara Reza Rahadian, menyebutnya sebagai “sutradara jahanam” dengan nada canda yang khas. Christine juga memberikan apresiasi mendalam terhadap tulisan Goenawan Mohamad mengenai film Pangku, yang dianggapnya memberikan perspektif luar biasa dan menjadi elemen pendukung krusial bagi tim produksi.
Kisah di Balik Layar: Kolaborasi Unik Christine Hakim dan Reza Rahadian
Perjalanan akting Christine Hakim di industri film Indonesia telah membentang selama setengah abad, sebuah rentang waktu yang luar biasa dan penuh dedikasi. Dengan usia yang kini menginjak 70 tahun, pengalamannya dalam dunia seni peran sungguh tak ternilai. Namun, dalam proses syuting film Pangku, Christine Hakim menghadapi sebuah tantangan yang cukup unik dan menggelitik dari sutradara debutan, Reza Rahadian. Ia menceritakan pengalamannya beradu akting dengan Slamet Rahardjo, seorang maestro yang pernah menjadi lawan mainnya dalam berbagai karya dari sutradara legendaris Teguh Karya. Christine mengenang bagaimana Teguh Karya memiliki dua prinsip utama dalam mengarahkan pemain: tidak ada pemain yang membawa skrip ke lokasi syuting, dan pemain tidak boleh terus-menerus berkaca di set. “Slamet Rahardjo tak pernah marah-marah. Itu maestro, guru aku,” ujar Christine mengenang sosok Slamet Rahardjo. Namun, dalam film Pangku, Reza Rahadian memberlakukan sebuah larangan yang tak terduga kepada Christine Hakim. “Tapi di film Pangku, Reza melarang saya bernapas di adegan anaknya Sartika bersama Ibu Maya,” tuturnya, menggambarkan sebuah instruksi yang sangat spesifik dan menuntut. Christine Hakim, dengan gaya khasnya yang jenaka, menyikapi larangan tersebut dengan candaan, “Nak, ibumu ini sudah 50 tahun di industri film, tahun ini usia 70 tahun lho,” ujarnya meledek Reza, sembari menekankan pengalamannya yang panjang dalam berakting.
Instruksi larangan bernapas ini, meskipun terdengar sederhana, menunjukkan kedalaman visi artistik Reza Rahadian dalam mengarahkan akting. Hal ini mengimplikasikan bahwa setiap gerakan, setiap tarikan napas, bahkan momen hening sekalipun, memiliki makna dan peran penting dalam membangun emosi serta narasi adegan. Bagi seorang aktris sekaliber Christine Hakim, tantangan seperti ini justru menjadi ajang pembuktian kemampuan adaptasi dan interpretasi yang luar biasa. Ia mampu menerjemahkan instruksi yang spesifik menjadi sebuah penampilan yang otentik dan menyentuh.
Karakter Bu Maya yang diperankan oleh Christine Hakim dalam film Pangku adalah seorang pemilik kedai kopi yang memiliki peran krusial dalam cerita. Ia digambarkan sebagai sosok yang merawat Sartika (diperankan oleh Claresta Taufan) selama masa kehamilannya hingga proses persalinan. Namun, di balik kebaikan hati tersebut, Bu Maya kemudian merayu Sartika untuk bekerja di kedainya, dengan iming-iming pekerjaan menyuguhkan kopi sambil memangku pelanggan. Sartika sendiri adalah seorang perempuan muda yang tengah menghadapi situasi sulit, hamil di luar pernikahan dan terpaksa meninggalkan kampung halaman demi masa depan anaknya. Peran Bu Maya menjadi kompleks, mencerminkan dilema moral dan ekonomi yang dihadapi oleh perempuan dalam situasi rentan.
Film Pangku tidak hanya menyajikan sebuah cerita tentang pekerjaan, tetapi lebih dalam lagi, film ini menggali esensi perjuangan seorang ibu yang rela melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan hidup buah hatinya. Kisah yang diangkat sangat relevan dengan isu-isu sosial yang dihadapi perempuan di berbagai belahan dunia, mulai dari perjuangan ekonomi, pengorbanan seorang ibu, hingga upaya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi generasi penerus. Melalui karakter Bu Maya dan Sartika, film ini membuka ruang diskusi mengenai kompleksitas kehidupan perempuan, kekuatan naluri keibuan, serta tekanan sosial dan ekonomi yang seringkali memaksa mereka mengambil keputusan sulit. Penggambaran isu-isu ini secara mendalam dan empatik menjadikan Pangku sebuah karya sinematik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran.
Pilihan Editor: Bagaimana Musik dan Film Erros Djarot Terpengaruh Tasawuf


















