| Nama Karakter | Pemeran | Deskripsi Peran |
|---|---|---|
| Biru Laut | Reza Rahadian | Aktivis mahasiswa idealis yang menjadi korban penghilangan paksa dan tahanan politik. |
| Kasih Kinanti | Dian Sastrowardoyo | Pemimpin perkumpulan Winatra yang tangguh dan menjadi rekan seperjuangan Laut. |
| Ibu Biru Laut | Christine Hakim | Sosok ibu yang didera kesedihan mendalam dan ketidakpastian atas nasib anaknya yang hilang. |
Reza Rahadian, yang dikenal sebagai aktor dengan kemampuan transformasi luar biasa, akan memerankan karakter sentral Biru Laut. Karakter ini digambarkan sebagai seorang pemuda yang penuh gairah terhadap sastra dan keadilan, namun harus menghadapi kenyataan pahit di sel tahanan bawah tanah. Tantangan fisik dan psikologis dalam memerankan Laut menjadi daya tarik tersendiri bagi Reza dalam proyek ini. Sementara itu, kehadiran Dian Sastrowardoyo sebagai Kasih Kinanti menjanjikan chemistry yang kuat di layar. Kasih Kinanti bukan sekadar pemanis cerita, melainkan simbol perlawanan perempuan yang teguh memegang prinsip organisasi Winatra di tengah tekanan rezim.
Melengkapi jajaran pemain bintang tersebut, aktris legendaris Christine Hakim akan memberikan kedalaman emosional sebagai ibu dari Biru Laut. Perannya sangat krusial untuk menggambarkan sisi humanis dari tragedi politik; bagaimana sebuah keluarga harus bertahan di tengah ketidakpastian dan rasa kehilangan yang tak kunjung usai. Melalui aktingnya, penonton diharapkan dapat merasakan pedihnya penantian seorang ibu yang setiap hari masih menyiapkan piring makan untuk anaknya yang tak kunjung pulang. Dengan kombinasi sutradara andal, jajaran pemain berkelas, dan naskah yang kuat, Laut Bercerita versi panjang diprediksi akan menjadi salah satu film sejarah paling berpengaruh di tahun 2025, sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan jejak perjuangan demokrasi di Indonesia.
Kontribusi pelaporan mendalam untuk artikel ini juga melibatkan Bagus Pribadi, yang turut memantau jalannya diskusi dan interaksi audiens selama acara berlangsung di Taman Ismail Marzuki. Kehadiran film ini diharapkan mampu memicu diskusi lebih lanjut mengenai hak asasi manusia dan pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa melalui medium seni visual yang berkualitas tinggi.


















