Wilayah yang berpotensi hujan lebat 27-28 Januari
Rabu, 28 Januari 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem, khususnya hujan lebat dan angin kencang, yang diperkirakan akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia pada periode 27 hingga 28 Januari. Analisis mendalam dari BMKG mengungkapkan bahwa fenomena cuaca ini bukan merupakan kejadian tunggal, melainkan hasil dari interaksi kompleks berbagai dinamika atmosfer yang berlangsung secara simultan pada skala global, regional, hingga lokal. Dalam sepekan terakhir, para ahli meteorologi telah memantau perubahan signifikan dalam pola atmosfer yang secara kolektif meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi di beberapa daerah kunci. Pemahaman komprehensif terhadap faktor-faktor pemicu ini menjadi krusial bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mempersiapkan diri dan melakukan mitigasi yang efektif terhadap dampak yang mungkin timbul.
Penyebab Hujan Lebat dan Angin Kencang: Sebuah Analisis Multiskala
Menurut laporan terbaru dari BMKG, intensifikasi hujan lebat dan hembusan angin kencang di berbagai penjuru Nusantara disebabkan oleh konvergensi beberapa sistem atmosfer yang dinamis. Penjelasan ini merujuk pada serangkaian peristiwa meteorologis yang saling terkait, yang mencakup perubahan iklim global, perkembangan sistem tekanan rendah di Samudra Hindia, hingga aktivitas gelombang atmosfer di wilayah ekuator. Setiap elemen ini memainkan peran penting dalam mengondisikan atmosfer Indonesia menjadi lebih tidak stabil dan kaya uap air, menciptakan lingkungan yang sangat mendukung pembentukan awan hujan dengan intensitas tinggi.
Dampak Global: Penguatan El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan La Nina Lemah
Pada skala global, salah satu faktor dominan yang teridentifikasi adalah penguatan fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO), yang saat ini mengindikasikan kondisi La Nina lemah. La Nina, sebagai fase dingin dari ENSO, ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Meskipun dalam kategori lemah, kondisi La Nina ini memiliki implikasi signifikan terhadap pola cuaca global, termasuk di Indonesia. Secara spesifik, La Nina cenderung meningkatkan pasokan uap air di atmosfer di atas wilayah Indonesia, khususnya bagian timur. Peningkatan kelembapan ini menjadi bahan bakar utama bagi proses konveksi, yaitu pergerakan vertikal massa udara lembap yang membentuk awan-awan kumulonimbus raksasa. Awan-awan inilah yang kemudian melepaskan curah hujan ekstrem, berkontribusi pada potensi hujan lebat yang diprediksi BMKG.
Ancaman Regional: Kemunculan Bibit Siklon Tropis 91S dan 92P
Selain pengaruh global, dinamika regional juga turut berperan dalam memperburuk kondisi cuaca. BMKG memantau secara ketat kemunculan dua bibit siklon tropis yang berpotensi memengaruhi pola cuaca di Indonesia. Pertama, Bibit Siklon Tropis 91S terpantau di wilayah Samudra Hindia, tepatnya di selatan Sumbawa. Bibit siklon ini menunjukkan tekanan udara minimum sekitar 1.004 hPa dan kecepatan angin maksimum mencapai 30 knot (sekitar 55 km/jam). Keberadaannya di selatan Sumbawa sangat relevan karena dapat menarik massa udara lembap dari wilayah sekitarnya, serta memicu peningkatan konvergensi dan gesekan angin yang mendukung pembentukan awan hujan intensif di wilayah Nusa Tenggara dan sekitarnya. Kedua, Bibit Siklon 92P juga terpantau aktif di Teluk Carpentaria, dengan tekanan udara minimum sebesar 1008 hPa dan kecepatan angin sebesar 15 knot (sekitar 28 km/jam). Meskipun lokasinya lebih jauh, bibit siklon ini tetap memiliki potensi untuk memengaruhi pola tekanan dan pergerakan massa udara di sekitar Indonesia, secara tidak langsung berkontribusi pada peningkatan intensitas hujan di beberapa wilayah.
Peran Penting Monsun Asia dan Cross Equatorial Northerly Surge (CENS)
Faktor lain yang tidak kalah krusial adalah potensi peningkatan aktivitas Monsun Asia. Monsun Asia merupakan sistem angin musiman berskala besar yang membawa massa udara lembap dari Samudra Pasifik dan Laut Cina Selatan menuju wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Peningkatan aktivitas monsun ini berarti aliran massa udara lembap menjadi lebih kuat dan konsisten. Fenomena ini diperparah dengan adanya Cross Equatorial Northerly Surge (CENS). CENS adalah aliran massa udara dingin dan lembap dari belahan bumi utara yang melintasi ekuator menuju belahan bumi selatan. Ketika CENS aktif, ia bertindak sebagai “pembawa” uap air yang sangat efisien, mempercepat transfer massa udara lembap ke wilayah Indonesia. Kombinasi dari monsun yang aktif dan CENS ini secara signifikan meningkatkan suplai kelembapan atmosfer, yang pada gilirannya memicu peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di selatan Indonesia. BMKG secara spesifik menyoroti dampak ini pada Sumatera Bagian Selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, di mana potensi hujan lebat dan angin kencang menjadi sangat tinggi.
Aktivitas Gelombang Atmosfer: MJO, Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin
Pada skala lokal hingga intraseasonal, aktivitas gelombang atmosfer turut memperparah kondisi cuaca. Madden–Julian Oscillation (MJO)


















