Indonesia, dengan kekayaan sumber daya panas bumi yang melimpah, seringkali hanya dikenal sebagai produsen energi listrik. Namun, potensi luar biasa ini jauh melampaui sekadar pembangkit listrik. Sebuah inovasi revolusioner dari Universitas Gadjah Mada (UGM) kini membuka babak baru dalam pemanfaatan panas bumi, mengubah limbah menjadi aset bernilai tinggi. Di tangan para peneliti UGM, endapan silika yang selama ini dianggap sebagai produk sampingan dari fluida panas bumi, kini berhasil disulap menjadi nanosilika dengan nilai ekonomis dan fungsionalitas yang luar biasa. Material nanosilika ini terbukti mampu secara signifikan meningkatkan produktivitas tanaman hingga mencapai 50 persen, sebuah terobosan yang menjanjikan masa depan cerah bagi sektor pertanian berkelanjutan.
Inovasi transformatif ini adalah buah karya dari seorang dosen berdedikasi dari Fakultas Teknik UGM, yaitu Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus. Dengan keahliannya di bidang rekayasa material, Prof. Himawan berhasil mengolah silika geothermal, yang merupakan produk ikutan tak terhindarkan dari operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi, menjadi material nano canggih. Material ini dirancang khusus untuk berfungsi ganda sebagai penguat struktural bagi tanaman sekaligus sebagai penyubur yang efektif. Pendekatan ini secara fundamental mengubah persepsi terhadap silika geothermal, dari yang semula dipandang sebagai masalah limbah yang memerlukan penanganan khusus, menjadi sumber daya strategis yang berpotensi besar untuk mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
“Selama ini, silika yang dihasilkan dari proses pemanfaatan panas bumi secara luas dianggap sebagai limbah yang tidak memiliki nilai ekonomis dan bahkan menimbulkan tantangan dalam pengelolaannya. Namun, kami, melalui penelitian dan pengembangan yang intensif, justru melihat dan mengidentifikasi silika ini sebagai sebuah sumber daya yang sangat strategis. Potensinya sangat besar, terutama untuk diaplikasikan dalam konteks pertanian berkelanjutan, di mana efisiensi sumber daya dan dampak lingkungan menjadi pertimbangan utama,” jelas Prof. Himawan pada hari Senin, 26 Januari 2026, menekankan pergeseran paradigma yang diemban oleh inovasinya.
Transformasi Limbah Menjadi Solusi Pertanian Berkelanjutan
Proses pengembangan nanosilika ini bukan sekadar konversi sederhana, melainkan melibatkan serangkaian tahapan kompleks dalam rekayasa material dan pengendalian proses yang telah dikembangkan secara bertahap dan sistematis. Melalui metodologi yang cermat, silika geothermal diubah menjadi nanosilika yang tidak hanya stabil secara fisik dan kimia, tetapi juga konsisten dalam kualitasnya, sebuah prasyarat vital untuk aplikasi skala besar. Aspek penting lainnya dari inovasi ini adalah desain prosesnya yang dirancang agar mudah direplikasi, memungkinkan teknologi ini untuk diadopsi dan diimplementasikan secara luas. Lebih jauh lagi, proses ini memiliki peluang besar untuk ditingkatkan ke skala industri, membuka jalan menuju hilirisasi produk turunan dan pemanfaatan yang lebih luas di luar batasan laboratorium penelitian. Pendekatan ini mencerminkan komitmen UGM untuk tidak hanya menghasilkan penemuan ilmiah, tetapi juga memastikan bahwa inovasi tersebut dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Di sektor pertanian, nanosilika memainkan peran multifaset yang krusial. Ukurannya yang sangat kecil, berada dalam rentang nanometer, memungkinkan material ini untuk mudah diserap oleh tanaman melalui berbagai mekanisme, termasuk melalui akar dan stomata daun. Setelah diserap, nanosilika bekerja dengan memperkuat dinding sel tanaman, memberikan integritas struktural yang lebih baik. Peningkatan kekuatan dinding sel ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan ketegakan batang, membuat tanaman lebih kokoh dan tahan terhadap rebah (lodging) akibat angin kencang atau hujan deras. Selain itu, nanosilika juga berperan penting dalam memperlancar transportasi nutrisi di dalam tubuh tanaman, memastikan bahwa elemen-elemen esensial dapat didistribusikan secara efisien ke seluruh bagian tanaman yang membutuhkan, sehingga metabolisme dan pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal.
Salah satu keunggulan paling menonjol dari nanosilika ini adalah dosis penggunaannya yang sangat rendah, hanya sekitar 1–2 kilogram per hektare. Angka ini jauh di bawah dosis yang dibutuhkan untuk pupuk makro konvensional seperti NPK (Nitrogen, Fosfor, Kalium), yang seringkali memerlukan puluhan hingga ratusan kilogram per hektare. Efisiensi dosis ini tidak hanya mengurangi biaya input bagi petani tetapi juga meminimalkan dampak lingkungan dari penggunaan pupuk berlebihan. Hasil uji coba lapangan yang telah dilakukan secara ekstensif menunjukkan peningkatan produktivitas yang substansial, berkisar antara 30–50 persen, pada berbagai komoditas pertanian. Spektrum komoditas yang telah diuji coba sangat luas, mulai dari tanaman pangan pokok seperti padi dan jagung, hingga buah-buahan bernilai ekonomi tinggi seperti alpukat, pepaya, dan anggur, membuktikan adaptabilitas dan efektivitas nanosilika ini di berbagai ekosistem pertanian.















