Dalam sebuah langkah diplomatik yang signifikan dan penuh kontroversi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menunjuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair sebagai salah satu anggota kunci dalam apa yang disebut “Dewan Perdamaian”. Dewan ini dibentuk dengan ambisi besar untuk mengawasi implementasi rencana 20 poin presiden AS, yang diklaim bertujuan untuk mengakhiri genosida Israel terhadap Palestina di Gaza. Pengumuman ini datang di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk di wilayah pesisir tersebut, di mana lebih dari 71.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, telah tewas sejak Oktober 2023.
Arsitek Masa Depan Gaza: Menjelajahi Anggota Dewan Perdamaian
Gedung Putih pada Jumat, seperti yang dilaporkan oleh Al Jazeera, mengonfirmasi bahwa Blair akan menjadi salah satu anggota eksekutif pendiri dewan tersebut. Kehadirannya tidak sendirian; ia akan bergabung dengan sejumlah tokoh berpengaruh lainnya yang mencerminkan spektrum politik dan ekonomi AS serta hubungan regional yang kompleks. Anggota eksekutif pendiri meliputi menantu Presiden Trump, Jared Kushner, yang dikenal sebagai penasihat senior dan arsitek utama kebijakan Timur Tengah pemerintahan Trump sebelumnya; Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, seorang senator Republik terkemuka dengan pengaruh signifikan dalam kebijakan luar negeri; dan utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, seorang pengembang properti terkemuka yang telah terlibat aktif dalam upaya perdamaian regional.
Selain figur politik dan diplomatik, dewan ini juga akan diperkuat oleh tokoh-tokoh dari sektor keuangan dan pembangunan global. Marc Rowan, CEO Apollo Global Management, salah satu perusahaan manajemen aset alternatif terbesar di dunia, akan membawa keahlian finansial yang krusial. Presiden Grup Bank Dunia, Ajay Banga, akan menyumbangkan pengalamannya dalam pembangunan ekonomi dan mobilisasi modal berskala besar. Terakhir, wakil penasihat keamanan nasional AS, Gabriel, akan memastikan koordinasi dengan prioritas keamanan nasional AS. Komposisi dewan ini menunjukkan upaya untuk menggabungkan kekuatan diplomatik, politik, finansial, dan keamanan dalam menangani kompleksitas krisis Gaza.
Mandat dewan ini sangat luas dan ambisius, mencakup “portofolio yang telah ditentukan dan sangat penting untuk stabilisasi dan keberhasilan jangka panjang Gaza”. Ini termasuk, namun tidak terbatas pada, “pembangunan kapasitas tata kelola, hubungan regional, rekonstruksi, daya tarik investasi, pendanaan skala besar, dan mobilisasi modal”. Setiap elemen ini mewakili tantangan monumental di Gaza yang hancur. Pembangunan kapasitas tata kelola memerlukan pembentukan institusi yang kredibel dan efektif di tengah kekosongan kekuasaan. Hubungan regional menuntut penyeimbangan kepentingan berbagai aktor, termasuk negara-negara Arab dan Israel. Rekonstruksi akan membutuhkan miliaran dolar dan koordinasi logistik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Daya tarik investasi dan pendanaan skala besar akan sangat bergantung pada stabilitas politik dan keamanan, yang saat ini masih jauh dari kenyataan. Untuk mengkoordinasikan upaya ini, diplomat Bulgaria Nickolay Mladenov, dengan pengalaman luasnya di PBB sebagai koordinator khusus untuk proses perdamaian Timur Tengah, akan menjabat sebagai Perwakilan Tinggi untuk Gaza, sebuah peran yang memerlukan keahlian diplomatik tingkat tinggi dan kemampuan negosiasi yang ulung.
Operasionalisasi Tata Kelola: Dewan Eksekutif Gaza dan Transisi Teknokratis
Selain Dewan Perdamaian yang lebih luas, pengumuman tersebut juga menyebutkan pembentukan Dewan Eksekutif Gaza, yang secara spesifik bertujuan untuk mendukung tata kelola dan layanan di Gaza. Dewan ini memiliki fokus yang lebih operasional dan melibatkan aktor regional yang krusial. Blair, Kushner, dan Witkoff juga ditunjuk sebagai anggota dewan ini, menunjukkan peran ganda mereka dalam kedua struktur. Kehadiran Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dan diplomat Qatar Ali Al Thawadi dalam dewan ini sangat signifikan, menggarisbawahi upaya untuk melibatkan kekuatan regional yang memiliki pengaruh besar di Gaza dan hubungan dengan faksi-faksi Palestina. Keikutsertaan mereka dapat menjadi kunci untuk mendapatkan legitimasi dan dukungan di lapangan, mengingat peran historis Turki dan Qatar dalam mendukung Gaza.
Pengumuman ini datang hanya beberapa hari setelah Witkoff mengumumkan peluncuran fase kedua dari rencana yang ditengahi AS untuk mengakhiri genosida Israel di Gaza. Rencana ini, menurut pemerintahan Trump, adalah “beralih dari gencatan senjata ke demiliterisasi, pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi”. Fase kedua ini menandai transisi krusial dari upaya penghentian kekerasan langsung menuju pembentukan struktur pemerintahan baru dan pembangunan kembali infrastruktur yang hancur. Konsep “demiliterisasi” Gaza akan melibatkan pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata, sebuah langkah yang sangat sensitif dan berpotensi memicu konflik. “Pemerintahan teknokratis” mengacu pada pembentukan komite ahli non-politik untuk mengelola urusan sehari-hari, sebuah model yang sering diusulkan untuk menghindari polarisasi politik. Gedung Putih mengkonfirmasi bahwa Ali Shaath akan memimpin komite teknokrat ini, yang diharapkan akan menangani pemerintahan sehari-hari di Gaza sebagai pengganti Hamas. Kelompok Palestina tersebut sebelumnya telah menyatakan kesiapan untuk meninggalkan tugas pemerintahannya di wilayah tersebut, seperti yang diuraikan dalam rencana Trump, sebuah pernyataan yang telah memicu berbagai spekulasi mengenai motivasi dan kondisi di baliknya.
Namun, di tengah retorika perdamaian dan rencana ambisius, realitas di lapangan tetap suram. Warga Palestina mempertanyakan apa artinya semua ini dalam praktiknya, mengingat Israel terus melakukan serangan mematikan di seluruh wilayah pesisir dan membatasi pengiriman bantuan kemanusiaan. Ini terjadi meskipun ada kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS yang seharusnya mulai berlaku pada 10 Oktober. Pelanggaran gencatan senjata yang terus-menerus ini mengikis kepercayaan dan mempersulit setiap upaya menuju stabilisasi. Sebagai bukti nyata dari kekerasan yang berkelanjutan, seorang gadis berusia 10 tahun, seorang anak laki-laki berusia 16 tahun, dan seorang wanita lanjut usia tewas dalam serangan Israel di Gaza pada Jumat, tepat ketika anggota komite teknokrat Palestina yang direncanakan duduk untuk pertama kalinya di Kairo untuk mempersiapkan peluncuran fase kedua rencana Trump. Kontras antara diskusi diplomatik di meja perundingan dan penderitaan di lapangan tidak bisa lebih tajam. Hingga saat ini, tidak ada tanggapan langsung dari Hamas dan faksi politik Palestina lainnya mengenai susunan dewan eksekutif Dewan Perdamaian, sebuah keheningan yang dapat diartikan sebagai ketidaksetujuan, kehati-hatian, atau bahkan ketidakrelevanan.
Penunjukan Kontroversial dan Arus Geopolitik
Partisipasi Tony Blair, yang menjabat sebagai perdana menteri Inggris dari 1997-2007, telah menjadi poin perdebatan utama sejak namanya disebut-sebut sebagai kandidat potensial beberapa bulan lalu. Mantan pemimpin Partai Buruh Inggris ini sangat mendukung apa yang disebut “perang melawan teror” yang dipimpin AS pada awal 2000-an, dan ia membawa Inggris bergabung dengan invasi Irak pada 2003 yang dipimpin Presiden AS George W. Bush. Warisan keputusannya di Irak, yang menyebabkan ketidakstabilan regional yang berkepanjangan dan hilangnya ribuan nyawa, masih sangat membekas di Timur Tengah. Penunjukannya dalam dewan yang bertujuan untuk membawa perdamaian di Gaza, wilayah yang juga telah lama menderita akibat konflik, memicu pertanyaan tentang kredibilitasnya dan persepsi di kalangan warga Palestina serta komunitas internasional.


















