Suasana duka yang mendalam menyelimuti Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, saat keluarga besar dan kerabat memberikan penghormatan terakhir kepada musisi legendaris sekaligus vokalis band Element, Lucky Widja. Di tengah isak tangis yang tertahan, Aleima Sharuna, istri mendiang, berdiri tegar untuk membagikan momen-momen terakhir serta wasiat emosional yang ditinggalkan oleh suaminya. Kepergian Lucky bukan hanya meninggalkan kekosongan di panggung musik tanah air, tetapi juga menyisakan luka yang amat dalam bagi keluarga kecil yang selama ini ia cintai dengan sepenuh hati.
Salah satu poin paling mengharukan yang diungkapkan oleh Sharuna adalah mengenai pesan terakhir atau wasiat yang disampaikan Lucky jauh sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya. Lucky Widja secara spesifik menyampaikan keinginan agar jika suatu saat ia berpulang, jasadnya dapat disemayamkan di satu liang lahat yang sama dengan mendiang ayahnya. Permintaan ini bukan sekadar efisiensi lahan pemakaman, melainkan sebuah simbol ikatan batin yang sangat kuat antara Lucky dan sang ayah yang telah lebih dulu berpulang. Sharuna, dengan penuh ketulusan, memastikan bahwa keinginan terakhir suaminya tersebut terlaksana dengan khidmat pada prosesi pemakaman yang berlangsung pada Senin, 26 Januari tersebut.
Keputusan untuk memakamkan Lucky dengan sistem tumpang di atas makam ayahnya di TPU Jeruk Purut diambil berdasarkan pemahaman mendalam Sharuna terhadap rasa hormat dan kasih sayang Lucky kepada orang tuanya. Menurut Sharuna, Lucky selalu memendam kerinduan yang besar terhadap sosok ayahnya semasa hidup. Dengan menempatkan peristirahatan terakhir mereka dalam satu titik koordinat yang sama, Sharuna merasa telah membantu mewujudkan “pertemuan kembali” yang dinanti-nantikan oleh suaminya di alam keabadian. “Mas Lucky kan juga sayang sekali sama papanya. Jadi anggap saja ini momen mereka untuk bertemu kembali,” tutur Sharuna dengan nada suara yang bergetar namun penuh keyakinan.
Selain urusan peristirahatan terakhir, Sharuna juga membeberkan sebuah rencana besar yang kini tinggal menjadi kenangan pahit. Lucky Widja ternyata telah mempersiapkan sebuah kejutan istimewa untuk merayakan ulang tahun istrinya yang jatuh pada bulan Juli mendatang. Sebagai sosok suami yang selalu ingin memberikan yang terbaik, Lucky telah merancang sebuah perjalanan liburan ke luar negeri bersama istri dan anak-anak mereka. Rencana ini sudah dibicarakan dengan matang, di mana Lucky sangat antusias untuk membawa keluarganya melihat dunia luar sebagai bentuk apresiasi atas dukungan keluarga selama ia berjuang melawan penyakitnya.
Rencana liburan bulan Juli tersebut kini menjadi memori yang menyakitkan sekaligus mengharukan bagi Sharuna. Ia menceritakan betapa gigihnya Lucky dalam mengupayakan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya, meskipun kondisi fisiknya sendiri sedang tidak dalam keadaan prima. Bagi Lucky, melihat senyum di wajah istri dan anak-anaknya adalah prioritas utama yang melampaui rasa sakit yang ia rasakan. “Dia sangat berusaha untuk menyenangkan kita semua. Sebenarnya kita sudah punya rencana bulan Juli pergi bareng ke luar negeri dalam rangka ulang tahun saya,” ungkap Sharuna, menggambarkan sosok Lucky sebagai pria yang selalu menempatkan kepentingan keluarga di atas segalanya.
Dedikasi Tanpa Batas: Warisan Kasih Sayang Lucky Widja Sebagai Kepala Keluarga
Di mata Aleima Sharuna, Lucky Widja bukan sekadar musisi berbakat dengan suara emas, melainkan sosok suami dan ayah yang nyaris sempurna dalam menjalankan perannya. Sharuna mengenang bagaimana Lucky selalu mencurahkan perhatian ekstra, terutama kepada anak-anak mereka. Dedikasi Lucky terhadap buah hatinya digambarkan sebagai sesuatu yang luar biasa; ia bersedia melakukan apa saja, mengorbankan waktu dan energinya, demi memastikan anak-anaknya merasa dicintai dan terlindungi. Kebaikan hati Lucky inilah yang membuat kepergiannya terasa begitu menyesakkan bagi siapa pun yang mengenalnya secara pribadi.
Kini, setelah sang pilar keluarga telah tiada, Sharuna memikul tanggung jawab besar untuk menjaga stabilitas emosional anak-anak mereka. Kehilangan sosok ayah secara tiba-tiba tentu memberikan guncangan hebat bagi psikologis anak-anak yang masih membutuhkan figur pelindung. Sharuna mengakui bahwa anak-anaknya mengalami fase kesedihan yang naik-turun, di mana tangisan sering kali pecah saat mereka menyadari bahwa sang ayah tidak akan lagi pulang ke rumah. Kebingungan menyelimuti keseharian mereka, namun Sharuna memilih pendekatan yang jujur dan terbuka dalam menghadapi situasi pelik ini.
Dalam memberikan pemahaman kepada anak-anaknya, Sharuna memilih untuk tidak menutup-nutupi kenyataan pahit mengenai kematian. Ia percaya bahwa kejujuran adalah kunci agar anak-anak dapat memproses rasa duka dengan cara yang sehat. Dengan menjelaskan situasi apa adanya, Sharuna berharap anak-anaknya dapat lebih mengerti dan menerima kenyataan bahwa ayah mereka telah berada di tempat yang lebih baik. “Anak akan lebih mengerti dan lebih paham situasi kalau seperti itu, dibandingkan ada yang ditutup-tutupi,” jelasnya mengenai metode pengasuhan di tengah masa berkabung ini.
Kondisi kesehatan Lucky Widja sebelum mengembuskan napas terakhirnya ternyata memang telah menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan. Sharuna menceritakan kronologi medis yang cukup cepat, di mana Lucky sempat mengalami kondisi “drop” selama beberapa hari. Meskipun sudah merasa tidak enak badan, Lucky sempat menunjukkan sisi keras kepalanya yang khas, di mana ia sempat menolak untuk segera dilarikan ke rumah sakit karena tidak ingin membuat keluarganya khawatir secara berlebihan. Namun, kondisi fisik yang terus melemah akhirnya memaksa keluarga untuk membawanya ke instalasi gawat darurat.
Perjalanan medis terakhir Lucky dimulai pada Minggu pagi, 25 Januari, ketika ia akhirnya dilarikan ke IGD karena kondisinya yang sudah sangat lemas. Dari ruang IGD, tim medis memutuskan untuk segera memindahkan Lucky ke ruang ICU guna mendapatkan perawatan intensif karena indikator kesehatannya yang terus memburuk. Sayangnya, takdir berkata lain. Setelah berjuang melewati masa kritis di ruang ICU selama beberapa jam, Lucky Widja dinyatakan meninggal dunia pada Minggu malam. Proses yang begitu cepat ini meninggalkan syok yang mendalam bagi Sharuna, yang mendampingi setiap detik perjuangan suaminya di rumah sakit.
Perjuangan Tersembunyi Melawan Penyakit TB Ginjal dan Rutinitas Cuci Darah
Selama ini, publik mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik penampilannya yang tetap profesional, Lucky Widja sedang berperang melawan penyakit serius. Sharuna mengungkapkan bahwa suaminya menderita penyakit Tuberkulosis (TB) Ginjal. Berbeda dengan TBC pada umumnya yang menyerang organ paru-paru, bakteri tuberkulosis pada kasus Lucky menyerang jaringan ginjalnya. Kondisi ini merupakan bentuk TBC ekstra-paru yang cukup langka dan memiliki dampak yang sangat merusak terhadap fungsi ekskresi tubuh, yang pada akhirnya memicu komplikasi gagal ginjal kronis.
Akibat kerusakan ginjal yang sudah mencapai tahap lanjut, Lucky Widja harus bergantung pada prosedur hemodialisis atau cuci darah untuk bertahan hidup. Sharuna memaparkan bahwa rutinitas cuci darah ini telah dijalani oleh Lucky selama kurang lebih satu tahun terakhir. Sebanyak dua kali dalam seminggu, Lucky harus menghabiskan waktu berjam-jam di rumah sakit untuk membersihkan darahnya dari racun-racun sisa metabolisme yang tidak bisa lagi disaring oleh ginjalnya. Perjuangan ini dilakukan Lucky dengan penuh ketabahan demi bisa terus mendampingi keluarganya lebih lama lagi.
Meskipun harus menjalani prosedur medis yang melelahkan dan menyakitkan secara rutin, Lucky jarang mengeluh di hadapan publik maupun keluarga besarnya. Ia tetap berusaha tampil bugar dan menjalankan aktivitasnya sebagai musisi sebisa mungkin. Namun, beban penyakit TB Ginjal yang dikombinasikan dengan kelelahan fisik akibat cuci darah jangka panjang akhirnya mencapai titik jenuh. Tubuh Lucky tidak lagi mampu menahan serangan infeksi dan penurunan fungsi organ yang terjadi secara simultan pada hari-hari terakhirnya sebelum masuk ke rumah sakit.
Kepergian Lucky Widja menjadi pengingat akan bahaya komplikasi penyakit TBC yang tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan. Bagi keluarga, Lucky adalah pahlawan yang telah berjuang hingga titik darah penghabisan. Bagi dunia musik Indonesia, ia adalah legenda yang karya-karyanya akan tetap abadi. Pemakaman di TPU Jeruk Purut hari itu bukan hanya sekadar prosesi penguburan, melainkan sebuah penghormatan atas perjalanan hidup seorang pria yang mencintai keluarganya tanpa syarat dan berjuang melawan sakitnya dengan martabat yang tinggi.
Kini, Aleima Sharuna dan anak-anaknya harus melangkah maju tanpa kehadiran fisik Lucky di sisi mereka. Namun, dengan terpenuhinya wasiat terakhir untuk bersanding dengan sang ayah di liang lahat, serta kenangan akan kasih sayang yang melimpah, keluarga merasa memiliki kekuatan untuk melanjutkan hidup. Lucky Widja telah menyelesaikan tugasnya di dunia, meninggalkan warisan berupa lagu-lagu indah dan teladan sebagai seorang kepala keluarga yang berdedikasi tinggi hingga napas terakhirnya.
















