Industri perfilman tanah air tengah bersiap menyambut sebuah perhelatan akbar yang menandai tiga dekade eksistensi salah satu rumah produksi paling berpengaruh di Indonesia. Miles Films, yang telah menjadi pilar kreativitas sejak tahun 1995, merayakan perjalanan panjangnya melalui sebuah pameran retrospektif yang mendalam bertajuk “Musik Miles Films: 30 Tahun Mendengar Terdengar”. Pameran ini bukan sekadar seremoni ulang tahun, melainkan sebuah eksplorasi sensorik yang akan dibuka untuk publik mulai tanggal 27 Januari 2026 dan berlangsung hingga September 2026. Bertempat di Ruang Pamer Temporer Galeri Lokananta, Surakarta, eksibisi ini dirancang untuk membedah anatomi hubungan antara elemen auditif dan visual yang telah menjadi ciri khas tak terpisahkan dari setiap karya produksi Miles Films selama tiga puluh tahun terakhir.
Dalam penyelenggaraannya, Miles Films menggandeng kolaborator strategis yakni .this/PLAY dan pihak pengelola Lokananta untuk mengkurasi sebuah pengalaman ruang yang imersif. Pameran ini mengundang para pengunjung untuk menyelami lebih dalam mengenai bagaimana musik tidak hanya berfungsi sebagai latar belakang, tetapi sebagai identitas fundamental yang membentuk karakter film-film mereka. Melalui penelusuran jejak bunyi, rangkaian nada, dan komposisi gambar, publik diajak untuk melintasi garis waktu estetika Miles Films. Perjalanan ini dimulai dari era analog yang penuh keterbatasan teknis namun kaya akan eksperimentasi, hingga memasuki era digital modern yang menawarkan presisi suara tanpa batas. Narasi yang dibangun dalam pameran ini menekankan bahwa setiap dekade yang dilalui Miles Films adalah sebuah proses belajar untuk “mendengar” aspirasi zaman dan memastikan bahwa pesan yang ingin disampaikan dapat “terdengar” dengan jernih oleh penontonnya.
Creative Director Miles Films, Riri Riza, memberikan penekanan khusus bahwa dalam ekosistem kreatif mereka, musik menempati kasta yang setara dengan skenario maupun sinematografi. Dalam sesi jumpa pers yang berlangsung khidmat di Lokananta Surakarta pada Senin, 26 Januari 2026, Riri mengungkapkan bahwa keterikatan pribadinya dengan musik telah dimulai jauh sebelum ia mengarahkan kamera di lokasi syuting. Baginya, musik adalah fondasi riset. Setiap proyek film di Miles selalu diawali dengan pencarian identitas suara yang mampu merepresentasikan emosi terdalam dari setiap karakter. Riri menegaskan bahwa waktu dalam sebuah film diukur bukan hanya melalui durasi visual, melainkan melalui apa yang terdengar oleh telinga penonton. Musik, dialog, dan desain suara harus melebur menjadi satu kesatuan organik yang membangun ritme narasi serta memperkuat intensitas setiap adegan, sehingga emosi yang dirasakan penonton menjadi lebih autentik dan mendalam.
Senada dengan visi artistik tersebut, Mira Lesmana selaku pendiri dan produser visioner Miles Films, memaparkan filosofi di balik penggunaan musik dalam karya-karyanya. Meskipun dalam teori film dasar sebuah visual seharusnya mampu bercerita sendiri tanpa bantuan suara (silent cinema), Mira percaya bahwa musik memiliki kekuatan metafisika untuk memberikan “nyawa tambahan”. Musik mampu menghidupkan kembali esensi dari apa yang ingin disampaikan oleh sebuah gambar diam atau gerak. Dalam pandangan Mira, sebuah adegan yang sudah dianggap “hidup” secara visual akan mengalami peningkatan nilai artistik yang signifikan saat diberikan sentuhan musik yang tepat. Seringkali, hasil akhir dari perpaduan musik dan gambar ini melampaui ekspektasi awal para kreatornya, menciptakan sebuah dimensi baru yang sebelumnya tidak terbayangkan dalam proses penulisan naskah.
Rekam Jejak Kolaborasi Maestro dan Evolusi Musikalitas
Selama tiga puluh tahun berkiprah, Miles Films telah membuktikan konsistensinya dalam menghadirkan film-film dengan standar artistik yang tinggi. Rentang waktu ini mencakup berbagai mahakarya, mulai dari fenomena kebangkitan film anak melalui “Petualangan Sherina” pada tahun 2000, hingga proyek ambisius masa depan seperti “Rangga & Cinta” yang dijadwalkan rilis pada 2025. Kekuatan musikalitas Miles Films tidak lepas dari tangan dingin para maestro penata musik yang telah berkolaborasi lintas generasi. Nama-nama besar di industri musik Indonesia telah memberikan kontribusi signifikan dalam membangun lanskap suara Miles Films, menciptakan harmoni yang terus diingat oleh masyarakat luas hingga hari ini.
| Kategori Kolaborator | Nama Penata Musik / Musisi |
|---|---|
| Penata Musik Legendaris | Elfa Secioria, Thoersi Argeswara, Djaduk Ferianto |
| Komposer Kontemporer | Anto Hoed & Melly Goeslaw, Erwin Gutawa, Indra Lesmana |
| Generasi Baru & Penyanyi | Sherina Munaf, Anggun C. Sasmi, Iwa K |
| Grup Band & Duo | Garasi, Mocca, Nidji, Gigi, RAN, Endah N Rhesa |
Keberhasilan Miles Films dalam mengintegrasikan musik ke dalam budaya populer tercermin dari banyaknya lagu tema (soundtrack) yang menjadi ikon zaman. Lagu-lagu tersebut tidak hanya berhenti sebagai pelengkap film, tetapi bertransformasi menjadi lagu kebangsaan bagi generasinya masing-masing. Dari energi rock alternatif yang diusung oleh Garasi, nuansa retro-pop dari Mocca, hingga dentuman semangat dari Nidji dan RAN, semuanya telah melekat erat dalam memori kolektif penonton Indonesia. Konsistensi ini menunjukkan bahwa Miles Films memiliki ketajaman dalam memilih talenta musik yang mampu menerjemahkan visi sutradara ke dalam notasi yang menyentuh hati.
Eksplorasi Miles Films mencapai puncaknya melalui genre film musikal yang telah mereka revitalisasi berkali-kali. “Petualangan Sherina” menjadi tonggak sejarah yang membuka kembali ruang bagi film musikal anak di layar lebar Indonesia setelah sekian lama vakum. Keberhasilan ini kemudian dilanjutkan dengan film “Untuk Rena” pada tahun 2005 yang membawa nuansa drama musikal yang lebih intim. Kini, melalui “Rangga & Cinta”, Miles Films berusaha menghadirkan evolusi musikalitas dengan mengadopsi bahasa generasi baru, menggabungkan tradisi musikal klasik dengan elemen pop modern yang relevan bagi audiens masa kini. Pameran ini mendokumentasikan setiap transisi genre tersebut secara mendalam, memperlihatkan bagaimana Miles Films beradaptasi dengan perubahan selera zaman tanpa kehilangan integritas seninya.
Pengunjung pameran akan disuguhi berbagai artefak kreatif yang jarang terekspos ke publik. Koleksi yang dipamerkan mencakup arsip fisik rilisan musik dalam berbagai format, draf asli lirik lagu yang ditulis tangan oleh para komposer, hingga lembaran notasi musik yang menjadi dasar dari skor film-film legendaris. Selain koleksi statis, pameran ini juga menghadirkan instalasi interaktif yang dirancang untuk memberikan pengalaman praktis bagi pengunjung. Salah satu daya tarik utama adalah instalasi yang memungkinkan pengunjung untuk “masuk” ke dalam simulasi ruang studio rekaman. Di sana, publik dapat merasakan secara langsung proses teknis bagaimana elemen suara dan musik dipadukan dengan potongan gambar (mixing and dubbing), memberikan gambaran nyata tentang kerumitan di balik layar produksi sebuah film berkualitas tinggi.
Sigit D. Pratama, selaku Founder sekaligus Lead Spatial Designer dari .this/PLAY, menjelaskan bahwa desain ruang pameran ini dikonsepkan sebagai sebuah ekshibisi yang dinamis dan terus berkembang (evolving exhibition). Fokus utama dari perancangan ruang ini adalah untuk merayakan relasi dua arah yang harmonis antara musik, suara, dan visual dalam linimasa tiga dekade. Sigit ingin memastikan bahwa setiap sudut ruangan mampu bercerita, di mana setiap kunjungan akan memberikan perspektif yang berbeda bagi pengunjung. Dengan pendekatan desain spasial yang modern, pameran ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat melihat sejarah, tetapi menjadi ruang hidup di mana pengunjung bisa merasakan denyut kreatif yang terus mengalir dalam tubuh Miles Films.
Lokananta Sebagai Simbol Sejarah dan Kebaruan Budaya
Pemilihan Galeri Lokananta di Surakarta sebagai lokasi pameran bukanlah tanpa alasan yang kuat. Sebagai cagar budaya musik tertua di Indonesia, Lokananta memegang nilai historis yang sangat sakral. Riri Riza menyatakan kekagumannya terhadap Lokananta sebagai aset budaya pop Indonesia yang luar biasa. Menurutnya, merayakan sejarah musik film di tempat yang menjadi saksi bisu perkembangan industri rekaman nasional adalah sebuah keputusan yang sangat relevan. Revitalisasi Lokananta dengan pendekatan yang kontemporer menjadikannya ruang yang tepat untuk mempertemukan tradisi musik masa lalu dengan inovasi perfilman masa kini. Solo, dengan segala kekayaan budayanya, dianggap sebagai rumah yang hangat untuk membicarakan masa depan musik dan film Indonesia.
Melalui penyelenggaraan pameran “Musik Miles Films: 30 Tahun Mendengar Terdengar”, Mira Lesmana berharap publik dapat menangkap semangat eksperimental yang selalu dijunjung tinggi oleh Miles Films. Proses pencarian musik untuk sebuah film adalah perjalanan panjang yang penuh dengan trial and error, dedikasi, dan kecintaan pada seni. Dengan memamerkan jejak-jejak proses tersebut, Miles Films ingin menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya dan berani melakukan eksplorasi tanpa batas. Pameran ini menjadi bukti nyata bahwa dalam tiga dekade, Miles Films tidak hanya sekadar membuat film, tetapi telah membangun sebuah warisan budaya yang akan terus terdengar gaungnya di masa depan.


















