Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), barometer utama kinerja pasar modal Indonesia, mengakhiri sesi perdagangan siang pada Selasa, 27 Januari, di zona merah yang menunjukkan sentimen negatif di kalangan investor. Pada penutupan sesi pertama, IHSG tercatat melemah signifikan sebesar 0,60 persen, membawa posisinya turun ke level 8.921,66. Pelemahan ini mencerminkan adanya tekanan jual yang cukup dominan di pasar, mengindikasikan kekhawatiran investor terhadap berbagai faktor, baik domestik maupun global, yang mungkin mempengaruhi prospek ekonomi dan korporasi. Angka 8.921,66 merupakan titik penutupan yang menjadi perhatian, mengingat pergerakan indeks seringkali dijadikan acuan bagi kesehatan ekonomi secara makro. Penurunan sebesar 0,60 persen, meskipun terlihat moderat, dapat memicu analisis lebih lanjut mengenai sektor-sektor yang paling terdampak dan potensi arah pasar di sesi perdagangan berikutnya.
Tidak hanya IHSG, indeks LQ45, yang merepresentasikan 45 saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia, juga mengalami nasib serupa dengan pelemahan yang bahkan lebih tajam. LQ45 ditutup anjlok 1,01 persen, mencapai level 873,51. Penurunan LQ45 yang lebih dalam dari IHSG seringkali diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa saham-saham berkapitalisasi besar dan paling aktif diperdagangkan, yang notabene menjadi pilihan utama investor institusional, sedang menghadapi tekanan jual yang substansial. Ini mengindikasikan bahwa sentimen negatif tidak hanya menyebar secara umum tetapi juga secara spesifik menargetkan saham-saham unggulan. Analisis lebih lanjut terhadap pergerakan saham menunjukkan bahwa dari total saham yang diperdagangkan, hanya 232 saham yang berhasil menguat, sementara mayoritas, yaitu 441 saham, mengalami penurunan harga. Sebanyak 130 saham lainnya berakhir stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Rasio saham yang melemah terhadap saham yang menguat ini, yang hampir mencapai 2:1, secara jelas menggambarkan dominasi tekanan jual dan luasnya sentimen negatif yang meliputi pasar pada hari tersebut, menandakan pasar yang sedang dalam kondisi bearish.
Aktivitas perdagangan pada sesi tersebut juga memberikan gambaran mengenai dinamika pasar. Total frekuensi saham yang ditransaksikan mencapai 2,07 juta kali. Angka frekuensi yang tinggi ini bisa mengindikasikan partisipasi aktif dari investor ritel yang cenderung melakukan transaksi dalam jumlah kecil namun sering, atau bisa juga mencerminkan upaya investor untuk keluar dari posisi mereka di tengah ketidakpastian. Sementara itu, total volume perdagangan mencapai 33,23 miliar saham, dengan nilai transaksi agregat sebesar Rp 15,1 triliun. Volume dan nilai transaksi yang besar di tengah pelemahan pasar seringkali diartikan sebagai “panic selling” atau setidaknya aksi jual yang kuat dari investor yang ingin mengurangi eksposur risiko mereka. Nilai transaksi sebesar Rp 15,1 triliun menunjukkan likuiditas yang cukup dalam di pasar, meskipun arah pergerakan harga mayoritas saham cenderung negatif, menegaskan bahwa ada aliran dana keluar yang signifikan dari pasar saham Indonesia pada penutupan sesi siang tersebut.
Di tengah gejolak pasar saham domestik, nilai tukar rupiah juga menunjukkan sinyal pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip data yang dirilis oleh Bloomberg, rupiah tercatat melemah sebesar 24,5 poin, atau setara dengan 0,15 persen, menempatkan kurs pada level Rp 16.806,5 per dolar AS. Pelemahan mata uang ini, meskipun relatif kecil, menambah daftar kekhawatiran bagi pelaku pasar dan pengambil kebijakan. Depresiasi rupiah dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk sentimen global terhadap aset berisiko, perbedaan suku bunga antara Indonesia dan AS, neraca perdagangan, atau arus modal asing. Pelemahan rupiah memiliki implikasi penting bagi ekonomi Indonesia, seperti peningkatan biaya impor, potensi tekanan inflasi dari barang-barang impor, serta peningkatan beban utang luar negeri dalam mata uang asing bagi korporasi dan pemerintah. Level Rp 16.806,5 menjadi titik yang perlu dicermati, karena pergerakan nilai tukar rupiah sangat krusial bagi stabilitas ekonomi makro dan daya saing ekspor Indonesia.
Berikut kondisi bursa saham Asia siang ini:
Berbeda dengan kondisi pasar saham di Indonesia yang cenderung lesu, sebagian besar bursa saham utama di kawasan Asia justru menunjukkan kinerja yang positif pada sesi perdagangan siang hari yang sama. Fenomena ini menyoroti adanya divergensi sentimen investor dan faktor-faktor pendorong pasar yang berbeda di masing-masing negara. Kinerja positif di bursa regional ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, kebijakan moneter yang akomodatif, hingga sentimen investor yang optimis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut, yang kontras dengan tekanan yang dialami IHSG.
| Indeks | Negara | Perubahan (%) | Level Penutupan |
|---|---|---|---|
| Nikkei 225 | Jepang | +0,70% | 53.254,8 |
| Hang Seng | Hong Kong | +1,03% | 27.041 |
| SSE Composite | China | +0,06% | 4.135,04 |
| Straits Times | Singapura | +0,69% | 4.894,47 |


















