JAKARTA, INDONESIA – Ibu Kota Jakarta, sebuah megapolitan yang terus bergulat dengan tantangan urbanisasi dan perubahan iklim, kembali menjadi sorotan dalam upaya mitigasi banjir. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, dalam sebuah kunjungan inspeksi ke proyek pengerukan Kali Cakung Lama di kawasan Rawa Indah, Cilincing, Jakarta Utara, pada Selasa, 27 Januari 2026, menyampaikan sebuah realitas pahit namun jujur: Jakarta tidak mungkin sepenuhnya bebas dari genangan air. Pernyataan ini bukan sekadar pengakuan atas keterbatasan, melainkan sebuah penekanan pada kompleksitas masalah banjir yang melingkupi kota ini, menuntut pendekatan multi-sektoral dan berkelanjutan yang melampaui solusi tunggal. Kunjungan ini, yang difokuskan pada salah satu urat nadi hidrologi penting di wilayah timur Jakarta, menggarisbawahi komitmen pemerintah provinsi untuk mengatasi ancaman banjir yang telah lama menjadi momok bagi jutaan penduduknya.
Pernyataan Pramono Anung ini mengemuka di tengah perdebatan panjang mengenai efektivitas berbagai strategi penanganan banjir di Jakarta. Sorotan utama dari diskursus ini, yang juga tercermin dalam pertanyaan kritis seperti “Pilihan Editor: Masih Efektifkah Normalisasi Sungai Mengatasi Banjir Jakarta”, menggarisbawahi urgensi untuk mengevaluasi kembali pendekatan yang ada. Di hadapan para pejabat daerah dan warga setempat, Gubernur Pramono dengan lugas menyatakan, “Walaupun secara tata ruang, saudara-saudara sekalian, tidak mungkin Jakarta ini tidak ada genangan.” Penegasan ini menyoroti akar masalah yang lebih dalam, yakni kondisi tata ruang Jakarta yang telah terbentuk selama puluhan tahun, dengan kepadatan penduduk yang ekstrem, minimnya area resapan air, serta sistem drainase yang seringkali tidak mampu menampung volume air saat curah hujan tinggi atau pasang laut (rob). Kondisi geografis Jakarta yang sebagian besar berada di dataran rendah, bahkan di bawah permukaan laut di beberapa titik, menjadikan kota ini sangat rentan terhadap genangan dan banjir, sebuah kenyataan yang terus diperparah oleh laju penurunan muka tanah yang signifikan akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan dan beban bangunan.


















