JAKARTA – Dalam upaya mitigasi risiko banjir dan dampak cuaca ekstrem, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara proaktif telah mengambil langkah penting dengan memperpanjang pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau yang juga dikenal sebagai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga tanggal 1 Februari. Keputusan strategis ini diambil menyusul evaluasi mendalam terhadap kondisi cuaca terkini dan proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), guna mengantisipasi potensi curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana banjir di ibu kota. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa perpanjangan ini adalah bagian dari komitmen berkelanjutan Pemprov DKI dalam menjaga keamanan dan kenyamanan warga Jakarta dari ancaman hidrometeorologi.
Langkah perpanjangan OMC ini bukanlah keputusan yang diambil secara tergesa-gesa, melainkan hasil dari pemantauan intensif dan analisis data cuaca yang akurat dari BMKG. Gubernur Pramono Anung, saat meninjau proses pengerukan Kali Cakung Lama di Rawa Indah, Cilincing, Jakarta Utara, pada Selasa (27/1), menjelaskan urgensi di balik kebijakan ini. “Yang pertama untuk TMC, sekali lagi kami melihat cuaca yang ada. Hasil BMKG memang sekarang ini ada kemungkinan sampai dengan tanggal 1 Februari cuacanya kurang lebih harus dilakukan TMC,” ujar Pramono. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa intervensi cuaca melalui TMC adalah respons langsung terhadap prakiraan cuaca yang menunjukkan potensi akumulasi awan hujan signifikan di wilayah Jakarta dan sekitarnya hingga awal Februari.
Sebelum perpanjangan terbaru ini, Pemprov DKI Jakarta telah lebih dulu memperpanjang periode TMC hingga 27 Januari. Ini menunjukkan adanya serangkaian evaluasi dan keputusan bertahap yang didasarkan pada dinamika perubahan cuaca. Awalnya, operasi modifikasi cuaca ini dijadwalkan berakhir pada 23 Januari. Namun, melihat perkembangan cuaca yang terus berubah dan potensi ancaman yang masih ada, perpanjangan pertama dilakukan hingga 27 Januari, dan kini diperpanjang lagi hingga 1 Februari. Gubernur Pramono Anung secara lugas menyatakan bahwa intervensi cuaca ini telah terbukti efektif. Ia memberikan contoh konkret: “Seperti yang saya sampaikan beberapa minggu yang lalu, saya sudah memperpanjang TMC sampai dengan tanggal 27 per hari ini. Dan kalau hari ini tadi pagi jam 7 pagi tidak kita naikkan TMC-nya, pasti cuacanya berbeda dengan apa yang kita rasakan pada saat ini.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tanpa TMC, kondisi cuaca pada hari tersebut bisa jadi jauh lebih buruk, berpotensi membawa hujan deras yang tidak terkendali. TMC bekerja dengan menyemai awan hujan menggunakan bahan-bahan tertentu, seperti garam, untuk mempercepat proses kondensasi dan presipitasi di lokasi yang diinginkan, seringkali di luar wilayah target banjir, atau untuk memecah awan agar tidak terkonsentrasi di satu area.
Komitmen Anggaran dan Pencegahan Banjir Komprehensif
Aspek penting lain dari pelaksanaan TMC ini adalah dukungan anggaran yang kuat. Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta, melalui koordinasi erat dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, telah mengalokasikan dana yang memadai untuk operasi modifikasi cuaca selama satu bulan penuh. “Pemerintah DKI Jakarta bersama dengan DPRD DKI Jakarta memang sudah mengalokasikan untuk 1 bulan penuh anggarannya. Jadi kalau memang masih diperlukan kami akan melakukan TMC,” tegas Pramono. Alokasi anggaran ini mencerminkan komitmen serius pemerintah daerah dalam upaya pencegahan banjir, mengakui TMC sebagai salah satu instrumen vital dalam strategi penanganan bencana hidrometeorologi jangka pendek.
Pentingnya langkah ini tidak bisa diremehkan. Gubernur Pramono Anung menekankan bahwa tujuan utama dari TMC adalah untuk mencegah terulangnya dampak curah hujan tinggi yang dapat memicu banjir parah, seperti yang telah dialami warga Jakarta beberapa hari sebelumnya. “Yang paling penting adalah untuk jangan sampai dampak curah hujan yang tinggi kemudian mengakibatkan banjir yang seperti kita rasakan beberapa hari yang lalu,” ucapnya. Pengalaman pahit banjir di masa lalu menjadi pelajaran berharga, mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan preventif yang lebih agresif. Selain TMC sebagai solusi jangka pendek, penanganan banjir di Jakarta juga melibatkan serangkaian proyek komprehensif lainnya, seperti normalisasi sungai, pembangunan tanggul, optimalisasi sistem drainase, dan pengelolaan sampah, yang semuanya merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana yang terpadu.
Koordinasi Regional dan Fokus Utama Jakarta
Meskipun fokus utama TMC diarahkan untuk wilayah Jakarta, Pemprov DKI Jakarta menyadari bahwa penanganan banjir tidak dapat dilakukan secara parsial. Oleh karena itu, koordinasi yang erat dengan daerah-daerah penyangga ibu kota menjadi krusial. Gubernur Pramono Anung mengungkapkan bahwa Pemprov DKI juga melakukan intervensi di wilayah perbatasan, mengingat potensi hujan tinggi diperkirakan tidak hanya terjadi di Jakarta tetapi juga di daerah-daerah sekitar. “Kami sebenarnya juga melakukan di perbatasan. Karena memang ada kemungkinan untuk beberapa hari ini, baik di Tangerang, Tangerang Selatan, kemudian di Bogor, di Bekasi curah hujannya tinggi. Percuma mengerjakan hanya Jakarta, kemudian kami mendapatkan kiriman yang cukup besar,” jelas Pramono. Pernyataan ini menyoroti pentingnya pendekatan regional dalam pengelolaan air dan pencegahan banjir, mengingat Jakarta seringkali menjadi hilir dari aliran sungai yang melintasi kota-kota penyangga tersebut. Hujan deras di Bogor, misalnya, dapat menyebabkan peningkatan debit air Sungai Ciliwung yang kemudian berdampak langsung pada banjir di Jakarta.
Namun demikian, di tengah upaya koordinasi regional yang luas, Gubernur Pramono Anung kembali menegaskan bahwa prioritas utama pelaksanaan TMC tetap diarahkan untuk melindungi ibu kota. “Tetapi memang fokus utamanya adalah Jakarta. Fokus utamanya Jakarta,” pungkasnya. Penegasan ini menggarisbawahi bahwa meskipun dampak hujan di daerah penyangga sangat diperhitungkan, sumber daya dan strategi TMC secara spesifik dioptimalkan untuk meminimalkan risiko banjir di jantung pemerintahan dan ekonomi Indonesia. Perpanjangan Operasi Modifikasi Cuaca hingga 1 Februari ini menjadi bukti nyata keseriusan Pemprov DKI Jakarta dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem, menunjukkan komitmen untuk melindungi warganya melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif.


















