KUALA LUMPUR – Lanskap sepak bola Malaysia diguncang badai kontroversi yang berujung pada pengunduran diri kolektif seluruh Komite Eksekutif Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) pada Rabu, 27 Januari 2026. Keputusan drastis ini, yang diumumkan secara resmi, merupakan respons langsung terhadap skandal pemalsuan dokumen tujuh pemain naturalisasi yang digunakan dalam kualifikasi Piala Asia, sebuah insiden yang telah menarik perhatian serius dari badan sepak bola dunia, FIFA. Langkah ini diambil demi menyelamatkan martabat institusi FAM dan meminimalkan potensi dampak negatif yang lebih luas terhadap perkembangan sepak bola nasional, sekaligus menunjukkan keseriusan dalam menghadapi krisis tata kelola yang sedang melanda.
Skandal Pemalsuan Dokumen: Akar Krisis yang Mengguncang FAM
Inti dari krisis yang melanda FAM berawal dari terkuaknya kasus tujuh pemain naturalisasi yang terbukti menggunakan dokumen palsu untuk mengklaim memiliki keturunan Malaysia. Klaim keturunan ini menjadi dasar legal bagi mereka untuk memperkuat tim nasional dalam ajang kualifikasi Piala Asia. Skandal ini mulai mencuat ke permukaan setelah Malaysia meraih kemenangan telak 4-0 atas Vietnam dalam pertandingan kualifikasi yang berlangsung pada Juni 2025. Kemenangan tersebut, yang seharusnya menjadi momen kebanggaan, justru memicu kecurigaan dan laporan yang akhirnya sampai ke telinga FIFA.
Menanggapi laporan tersebut, FIFA segera melancarkan investigasi mendalam. Hasil penyelidikan FIFA mengkonfirmasi adanya pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh ketujuh pemain tersebut. Sebagai konsekuensi dari pelanggaran serius ini, FIFA tidak tinggal diam. Sanksi pertama dijatuhkan dengan menangguhkan ketujuh pemain tersebut dari segala aktivitas sepak bola selama satu tahun penuh. Keputusan ini secara efektif menghentikan partisipasi mereka dalam kompetisi domestik maupun internasional.
Tidak berhenti di situ, FIFA juga memberikan pukulan telak kepada FAM sebagai badan pengatur sepak bola di Malaysia. Pada September 2025, FAM dijatuhi denda sebesar 400.000 dollar AS, yang setara dengan sekitar Rp 6,6 miliar. Denda ini merupakan cerminan dari kegagalan FAM dalam melakukan pengawasan dan verifikasi yang memadai terhadap status kewarganegaraan para pemain yang memperkuat tim nasionalnya. Meskipun FAM sempat mengajukan banding atas sanksi yang dijatuhkan, upaya tersebut kandas setelah komite FIFA menolak banding mereka. Penolakan ini semakin mempertegas keseriusan FIFA dalam menangani kasus ini.
Teguran Keras FIFA dan Langkah Hukum FAM
Lebih lanjut, FIFA tidak hanya memberikan sanksi finansial dan personal, tetapi juga melayangkan kritik tajam melalui sebuah laporan resmi. Laporan tersebut secara eksplisit mengkritik FAM karena dianggap gagal mengambil tindakan disipliner yang tegas dan jelas terhadap para pemain yang terlibat dalam skandal pemalsuan dokumen. FIFA juga menuntut dilakukannya penyelidikan menyeluruh terhadap seluruh aspek perilaku dan tata kelola di dalam tubuh FAM. Laporan ini memberikan sinyal kuat bahwa FIFA memandang masalah ini bukan hanya sekadar pelanggaran administrasi, melainkan juga terkait dengan integritas dan sistem manajemen di federasi sepak bola Malaysia.
Menghadapi tekanan yang semakin besar dan penolakan banding dari FIFA, FAM kemudian mengambil langkah hukum lebih lanjut dengan mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang berkedudukan di Swiss. CAS merupakan badan independen yang bertugas menyelesaikan sengketa olahraga internasional. Saat ini, kasus tersebut masih dalam proses peninjauan oleh CAS, yang diharapkan dapat memberikan putusan yang adil dan objektif terkait dengan sanksi yang telah dijatuhkan.
Pengunduran Diri Massal: Upaya Menyelamatkan Reputasi Institusional
Dalam menghadapi situasi yang kian memburuk ini, seluruh pengurus eksekutif FAM mengambil keputusan monumental untuk mengundurkan diri secara massal. Langkah ini, yang diumumkan oleh penjabat Presiden FAM, Yusoff Mahadi, dalam sebuah pernyataan kepada wartawan, memiliki tujuan ganda yang krusial. Pertama, pengunduran diri ini merupakan upaya serius untuk melindungi reputasi dan kepentingan institusional FAM. Dengan mundurnya seluruh jajaran pengurus, FAM seolah memberikan sinyal bahwa mereka mengakui adanya kesalahan yang terjadi dan siap untuk melakukan reformasi internal.
Kedua, dan tidak kalah pentingnya, langkah ini diambil untuk memitigasi risiko dampak buruk yang lebih luas yang dapat memengaruhi sepak bola Malaysia secara keseluruhan. Skandal ini berpotensi merusak citra sepak bola Malaysia di mata internasional, mempengaruhi hubungan dengan FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), serta menimbulkan keraguan terhadap integritas kompetisi yang ada. Dengan mundurnya pengurus eksekutif, diharapkan badan-badan sepak bola internasional tersebut dapat menilai secara independen, melakukan tinjauan terhadap situasi di FAM, dan jika diperlukan, mengambil tindakan yang tepat terhadap masalah tata kelola, administrasi, dan prosedur yang ada.
Yusoff Mahadi menyatakan optimisme bahwa pengunduran diri ini akan membuka jalan bagi evaluasi yang lebih objektif dari FIFA dan AFC. Ia berharap, melalui langkah ini, FAM dapat memulai babak baru dalam upaya perbaikan diri dan pemulihan kepercayaan dari berbagai pihak. Keputusan ini menandai titik krusial dalam sejarah sepak bola Malaysia, di mana sebuah federasi memilih untuk melakukan introspeksi mendalam dan mengambil tanggung jawab atas kesalahan yang terjadi, demi masa depan sepak bola nasional yang lebih baik dan berintegritas.


















