Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami guncangan hebat pada perdagangan Rabu (28/1) yang memicu kepanikan di kalangan pelaku pasar setelah anjlok tajam hingga 8 persen, memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt demi meredam volatilitas yang ekstrem. Kejatuhan ini menandai salah satu hari terburuk bagi pasar modal domestik tahun ini, di mana tekanan jual masif dari investor asing dan kekhawatiran akan fenomena margin call membayangi pergerakan indeks hingga akhirnya ditutup melemah 7,35 persen di level 8.320,5. Fenomena ini memicu respons cepat dari otoritas bursa dan pemerintah, termasuk ultimatum dari Menteri Keuangan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk segera melakukan pembenahan internal guna melindungi investor ritel dari potensi kerugian yang lebih sistemik di masa depan.
Guncangan Hebat di Lantai Bursa: Mekanisme Trading Halt dan Tekanan Jual Masif
Kondisi pasar modal Indonesia pada hari Rabu tersebut digambarkan sebagai situasi yang sangat fluktuatif sejak pembukaan perdagangan. Tekanan jual yang tidak terbendung membuat IHSG terjun bebas tak lama setelah sesi II dimulai. Penurunan yang menyentuh angka 8 persen ke level 8.261,7 memaksa otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengaktifkan protokol darurat berupa trading halt. Langkah ini diambil sesuai dengan regulasi bursa yang bertujuan untuk memberikan waktu bagi investor untuk mencerna informasi dan mencegah penurunan harga yang lebih irasional akibat kepanikan (panic selling). Meskipun perdagangan kemudian dilanjutkan, indeks tetap tidak mampu keluar dari zona merah yang sangat pekat.
Data perdagangan menunjukkan bahwa kejatuhan ini bersifat menyeluruh, mencakup hampir seluruh sektor di pasar saham. Hingga akhir sesi, tercatat sebanyak 753 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 37 saham yang mampu bertahan di zona hijau, dan 16 saham lainnya bergerak stagnan. Kehancuran ini juga terlihat pada Indeks LQ45, yang merupakan kumpulan saham-saham dengan likuiditas tinggi dan fundamental kuat, yang merosot 7,26 persen ke posisi 812,539. Intensitas perdagangan pada hari itu sangat luar biasa, dengan frekuensi transaksi mencapai 3,9 juta kali dan volume perdagangan menembus 60,2 miliar saham. Total nilai transaksi yang tercatat mencapai angka fantastis Rp 44,9 triliun, sebuah angka yang menunjukkan besarnya likuiditas yang keluar maupun berpindah tangan di tengah badai koreksi tersebut.
Dinamika Aliran Modal Asing dan Ketahanan Investor Ritel
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Irvan Susandy, memberikan penjelasan mendalam mengenai arus modal selama periode kritis ini. Pada sesi I saja, investor asing telah mencatatkan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 3 triliun. Irvan mencoba memberikan perspektif yang lebih tenang dengan membandingkan angka tersebut terhadap total nilai transaksi yang mencapai Rp 30 triliun pada pertengahan hari. Menurutnya, meskipun terjadi net outflow, angka tersebut menunjukkan bahwa masih ada minat beli yang cukup besar di pasar, mengingat porsi jual bersih asing hanya sekitar 10 persen dari total aktivitas perdagangan pada saat itu. “Di sesi I net outflow dari asing Rp 3 triliun. Which is menurut kita Rp 3 triliun dari Rp 30 triliun, karena posisinya sebenarnya asing juga masih ada beli gitu loh dan cukup banyak belinya,” ujar Irvan saat ditemui di Gedung BEI.
Namun, isu yang paling krusial di mata investor domestik adalah risiko margin call. Irvan mengakui bahwa dengan penurunan harga saham yang tajam, terutama pada saham-saham yang masuk dalam daftar margin, potensi terjadinya forced sell atau jual paksa oleh sekuritas menjadi sangat tinggi. Saham-saham yang mengalami koreksi lebih dari 7 persen, bahkan hingga 10-15 persen, secara otomatis akan memicu sistem peringatan pada akun margin investor. Meskipun demikian, pihak BEI mengklaim bahwa hingga saat ini pelemahan IHSG belum menjadi isu yang mengancam stabilitas investor ritel secara luas. Keyakinan ini didasarkan pada pengamatan bahwa mekanisme pasar masih berjalan dengan baik dan belum ada laporan mengenai kegagalan sistemik terkait transaksi margin di kalangan ritel.
Optimisme Otoritas Bursa di Tengah Sentimen Negatif Global
Senada dengan Irvan, Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menekankan bahwa tingginya nilai transaksi di tengah kejatuhan indeks merupakan sinyal positif mengenai kepercayaan investor terhadap fundamental pasar modal Indonesia. Iman menyoroti bahwa nilai transaksi yang mencapai Rp 31 triliun hingga Rp 44,9 triliun terjadi secara organik tanpa adanya dorongan dari pengumuman besar seperti laporan MSCI. Hal ini, menurutnya, membuktikan bahwa 90 persen pelaku pasar masih memiliki kepercayaan terhadap prospek jangka panjang pasar saham Indonesia. “Hari ini tanpa adanya MSCI bikin report announcement Rp 31 triliun. Pak Irvan bilang tadi, hari ini yang keluar berapa Rp 3,6 triliun dari Rp 30 triliun. Jadi 90% masih percaya market kita,” tegas Iman.
Meskipun otoritas bursa mencoba menenangkan pasar, para analis dan ekonom memberikan pandangan yang lebih kritis. Beberapa analis memprediksi bahwa pelemahan IHSG masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, mengingat sentimen global yang belum sepenuhnya stabil. Investor diingatkan untuk tetap waspada dan tidak terburu-buru melakukan bottom fishing tanpa analisis fundamental yang matang. Kondisi ini menuntut investor ritel untuk lebih disiplin dalam mengelola manajemen risiko, terutama bagi mereka yang menggunakan fasilitas leverage atau margin dalam bertransaksi.
Intervensi Pemerintah dan Urgensi Pembenahan Struktur Pasar
Kejatuhan tajam IHSG hingga 8 persen ini akhirnya menarik perhatian serius dari pemerintah pusat. Menteri Keuangan Purbaya dilaporkan telah memberikan ultimatum kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk segera melakukan langkah-langkah konkret hingga bulan Maret mendatang. Fokus utama dari instruksi ini adalah untuk melakukan pembenahan internal dan koordinasi yang lebih erat dengan BEI guna memastikan perlindungan terhadap investor ritel. Pemerintah mengkhawatirkan bahwa jika volatilitas ekstrem ini terus berlanjut tanpa ada perbaikan struktural, kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal sebagai instrumen investasi jangka panjang dapat tergerus.
Ekonom senior dari Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai bahwa ambruknya IHSG ini seharusnya dijadikan momentum emas untuk melakukan pembenahan menyeluruh. Menurutnya, koreksi besar ini bukan sekadar tekanan pasar jangka pendek, melainkan sinyal bahwa ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan transparansi dan integritas pasar. Pembenahan ini mencakup pengawasan terhadap transaksi margin, peningkatan standar emiten, hingga edukasi yang lebih masif bagi investor ritel agar tidak terjebak dalam euforia maupun kepanikan pasar yang berlebihan. Dengan langkah pembenahan yang tepat, pasar saham Indonesia diharapkan dapat bangkit kembali dengan struktur yang lebih kokoh dan tahan terhadap guncangan eksternal di masa depan.
Berikut adalah ringkasan statistik penutupan perdagangan pada Rabu, 28 Januari:
| Indikator Pasar | Nilai / Jumlah |
|---|---|
| Penutupan IHSG | 8.320,5 (-7,35%) |
| Indeks LQ45 | 812,539 (-7,26%) |
| Saham Menguat | 37 Saham |
| Saham Melemah | 753 Saham |
| Saham Stagnan | 16 Saham |
| Total Nilai Transaksi | Rp 44,9 Triliun |
| Volume Perdagangan | 60,2 Miliar Saham |
| Frekuensi Transaksi | 3,9 Juta Kali |
Situasi ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pasar modal adalah ekosistem yang dinamis dan penuh risiko. Koordinasi antara BEI, OJK, dan Pemerintah menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui penguatan sektor finansial. Bagi investor, periode koreksi tajam ini merupakan ujian bagi strategi investasi dan ketahanan psikologis dalam menghadapi dinamika pasar yang tidak menentu.


















