Operasi pencarian korban tewas akibat bencana tanah longsor di Kampung Babakan Cibudah, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, terpaksa dihentikan sementara pada Rabu, 28 Januari 2026, menyusul kondisi cuaca buruk yang membahayakan keselamatan tim gabungan. Keputusan krusial ini diambil setelah beberapa hari upaya intensif dilakukan sejak Sabtu, 24 Januari 2026, ketika tanah longsor pertama kali terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, menegaskan bahwa keselamatan personel menjadi prioritas utama, mengingat potensi longsor susulan akibat tanah yang labil dan material lumpur tebal yang menyulitkan proses evakuasi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan operasi SAR akan dilanjutkan, menunggu perbaikan kondisi alam.
Faktor Cuaca Buruk dan Medan Sulit Hentikan Pencarian
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, memaparkan secara rinci alasan di balik penghentian sementara operasi pencarian korban longsor di Cisarua. Ia menjelaskan bahwa hujan yang turun dengan intensitas sedang hingga tinggi, disertai angin kencang, telah menyebabkan kondisi tanah di sekitar lokasi bencana menjadi sangat labil. Labilnya tanah ini menimbulkan kekhawatiran serius akan terjadinya longsor susulan yang dapat membahayakan keselamatan para personel tim SAR gabungan yang tengah berjuang di lapangan. Ade secara tegas menyatakan bahwa melanjutkan pencarian dalam kondisi seperti itu adalah tindakan yang tidak memungkinkan dan berisiko tinggi. “Keselamatan personel menjadi prioritas,” tegas Ade Dian dalam sebuah pernyataan resmi yang dikutip oleh Antara pada Rabu, 28 Januari 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi etos kerja tim SAR yang mengutamakan pencegahan cedera atau korban jiwa tambahan di antara para penyelamat itu sendiri.
Lebih lanjut, Ade Dian juga menyoroti tantangan lain yang dihadapi tim SAR, yaitu keberadaan material lumpur yang tebal di lokasi longsor. Ketebalan lumpur ini secara signifikan menyulitkan pergerakan dan upaya evakuasi para personel. Lumpur yang pekat menghambat akses untuk menjangkau dan mengeluarkan korban yang diduga masih tertimbun di bawah timbunan tanah dan puing-puing. Kondisi medan yang sulit ini, diperparah oleh cuaca yang tidak bersahabat, membuat tim SAR harus mengambil keputusan sulit untuk menghentikan sementara operasi demi menghindari risiko yang lebih besar. Meski demikian, Ade Dian memastikan bahwa pencarian akan segera dilanjutkan begitu kondisi cuaca menunjukkan perbaikan yang memadai dan medan menjadi lebih aman untuk dijangkau.
Protokol Pencarian dan Evaluasi Berkelanjutan
Meskipun operasi dihentikan sementara, upaya pencarian korban longsor di Cisarua ini memiliki kerangka waktu yang jelas. Pemerintah daerah setempat telah mengusulkan agar pencarian korban dilakukan selama periode dua minggu. Usulan ini kemudian disepakati oleh tim SAR gabungan, dengan mekanisme evaluasi yang akan dilaksanakan pada hari ketujuh sejak dimulainya kembali operasi. “Kami mengikuti ketentuan tersebut. Nanti dievaluasi apakah perlu perpanjangan atau tidak, tergantung hasil pencarian,” ujar Ade Dian, mengindikasikan bahwa keputusan lanjutan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di lapangan dan efektivitas upaya pencarian yang telah dilakukan.
Tanah longsor yang melanda Kampung Babakan Cibudah, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, merupakan insiden tragis yang terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026. Bencana ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang telah mengguyur wilayah Bandung Barat sejak Jumat, 23 Januari 2026. Intensitas hujan yang berkelanjutan selama berjam-jam ini telah jenuhkan tanah, membuatnya tidak mampu lagi menahan beban, sehingga memicu pergerakan tanah yang masif. Dampak dari longsor ini sangat menghancurkan, menimbun pemukiman warga dan menimbulkan korban jiwa.
Sebelum penghentian sementara dilakukan, upaya pencarian telah membuahkan hasil yang signifikan, meskipun diiringi duka mendalam. Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii melaporkan bahwa hingga hari keempat operasi pencarian, tim SAR gabungan berhasil menemukan 47 kantong jenazah. “Per hari ini jam 17.30 bahwa body bag yang kita temukan dari tim SAR gabungan jumlah ada 47 body bag dan ini sudah kita serah terimakan,” kata Syafii pada Selasa. Temuan ini menunjukkan betapa parahnya skala bencana dan betapa besar upaya yang telah dikerahkan oleh tim SAR gabungan dalam menghadapi situasi yang sangat sulit ini. Data ini juga mengindikasikan bahwa masih ada kemungkinan korban lain yang belum teridentifikasi atau ditemukan, yang menjadi motivasi utama untuk melanjutkan pencarian setelah kondisi memungkinkan.


















