| Jenjang Pendidikan | Jumlah Sekolah Negeri | Status Pengelolaan |
|---|---|---|
| Sekolah Dasar (SDN) | 284 Unit | Dinas Pendidikan Surabaya |
| Sekolah Menengah Pertama (SMPN) | 63 Unit | Dinas Pendidikan Surabaya |
| Total Fasilitas | 347 Bangunan | Pemerintah Kota Surabaya |
Restrukturisasi Satuan Tugas: Penguatan Tenaga Teknis di Dinas Pendidikan
Salah satu perubahan fundamental yang dilakukan Eri Cahyadi adalah restrukturisasi tanggung jawab pemeliharaan fisik sekolah. Seiring dengan perubahan nomenklatur pemerintahan, tanggung jawab pembangunan dan perbaikan gedung sekolah kini sepenuhnya melekat pada Dinas Pendidikan, tidak lagi berada di bawah kendali Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (Dinas Cipta Karya). Untuk mendukung transisi ini, Eri telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus sarana dan prasarana yang diisi oleh tenaga-tenaga ahli di bidang konstruksi dan teknik sipil. Eri menegaskan bahwa guru dan tenaga pendidik harus fokus pada kurikulum dan kualitas pengajaran, sementara urusan teknis bangunan harus ditangani oleh profesional yang memahami struktur dan material. Keberadaan Kepala Bidang (Kabid) baru yang memiliki latar belakang teknis diharapkan mampu mempercepat proses identifikasi kerusakan dan eksekusi perbaikan di lapangan tanpa birokrasi yang berbelit-belit.
Dalam visi jangka panjangnya, Wali Kota Surabaya menginginkan setiap gedung sekolah di Surabaya tidak hanya aman secara struktural, tetapi juga memiliki standar estetika yang modern dan berkualitas tinggi. Standar ini diibaratkan seperti kualitas visual premium yang ditemukan dalam dunia digital, di mana setiap detail harus memenuhi kriteria visual excellence layaknya resolusi 4K atau kualitas Retina yang tajam. Pemerintah kota berkomitmen untuk menghadirkan lingkungan belajar yang artistik dan menarik secara visual, terinspirasi dari keindahan desain modern seperti gradient backgrounds yang halus dan landscape design yang tertata rapi. Dengan menghadirkan sentuhan desain yang segar dan kontemporer, seperti penggunaan HD minimal patterns pada interior kelas, diharapkan siswa merasa lebih nyaman dan terinspirasi, layaknya melihat karya seni yang fungsional di setiap sudut sekolah mereka.
Komitmen perbaikan ini juga mencakup kecepatan penanganan terhadap kerusakan ringan yang ditemukan selama proses inventarisasi. Jika tim Satgas menemukan ruang kelas dengan kerusakan minor, perbaikan akan dilakukan secara instan tanpa harus menunggu tahun anggaran berikutnya melalui mekanisme dana darurat atau perawatan rutin. Eri Cahyadi kembali menegaskan bahwa keamanan siswa adalah prioritas absolut yang tidak bisa ditawar. Dengan sistem pemantauan harian dan pelaporan yang cepat, diharapkan kejadian plafon ambruk di SMPN 60 tidak akan pernah terulang di sekolah manapun di Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya kini bergerak menuju era baru manajemen fasilitas pendidikan yang lebih transparan, teknis, dan mengutamakan kualitas jangka panjang demi masa depan generasi emas di Kota Surabaya.

















