Menyusul tuntasnya masa rehabilitasi selama tiga bulan, aktor dan musisi kenamaan Onadio Leonardo alias Onad menegaskan komitmennya untuk melakukan perubahan fundamental dalam kehidupannya, terutama dalam hal memilih lingkungan pertemanan. Keputusan ini diambil setelah ia merenungi secara mendalam dampak yang ditimbulkan oleh pergaulan yang kurang bijak, sebuah pelajaran berharga yang ia petik dari pengalaman pahit terjerat kasus narkoba. Onad kini bertekad untuk menjadi lebih selektif, memprioritaskan hubungan yang membawa pengaruh positif dan menjauhkan diri dari potensi jebakan negatif yang dapat mengancam pemulihannya. Keputusan ini tidak hanya datang dari dirinya sendiri, tetapi juga mendapatkan dukungan penuh dari sang istri, Beby Prisillia, yang siap mendampingi setiap langkah perubahannya.
Pelajaran Berharga dari Rehabilitasi: Selektivitas dalam Lingkaran Sosial
Pengalaman menjalani rehabilitasi narkoba selama tiga bulan telah menjadi titik balik krusial bagi Onadio Leonardo. Ia mengakui bahwa periode tersebut memberikannya kesempatan untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam, terutama mengenai pentingnya memilih lingkungan pertemanan yang konstruktif. Kesadaran ini muncul dari pemahaman bahwa lingkaran sosial memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pembentukan karakter dan pengambilan keputusan seseorang. Onad kini menyadari bahwa pergaulan yang positif akan secara inheren memberikan dorongan dan dukungan yang baik bagi perkembangan pribadinya, sementara sebaliknya, pergaulan yang salah arah dapat dengan mudah menjerumuskan kembali ke dalam jurang masalah.
Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan awak media di Yayasan Natura Indonesia, Kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Rabu (28/1), Onad secara lugas menyatakan perubahannya. “Banget, banget. Akhirnya gue penting memilah-milah mana teman yang baik, seperti Habib (Jafar) baik. Banyak banget kemarin jenguk gue yang gue nggak nyangka,” ujarnya, menggarisbawahi betapa ia kini lebih menghargai kehadiran individu-individu yang memberikan energi positif. Ia menambahkan, “Jadi kayaknya gue harus memilah-milah teman sih habis ini. Pelajarannya tahu diri kali ya, janganlah Anda bodoh.” Pernyataan ini mencerminkan kesadaran penuhnya akan pentingnya menjaga diri dan membuat pilihan yang bijak dalam menentukan siapa saja yang boleh masuk ke dalam lingkarannya.
Lebih jauh, Onad mengungkapkan bahwa kesadaran ini juga datang dari apresiasi terhadap orang-orang yang telah memberikan dukungan selama masa sulitnya. Ia terkejut dan tersentuh oleh banyaknya pihak yang menjenguk dan memberikan semangat, termasuk sosok-sosok yang tidak terduga. Hal ini semakin memperkuat keyakinannya bahwa memilah teman adalah langkah krusial untuk membangun kembali kehidupannya dengan fondasi yang lebih kokoh dan positif. Ia menyadari bahwa pengalaman ini adalah sebuah pembelajaran berharga yang tidak akan ia sia-siakan, dan ia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.
Prioritas Pasca-Rehabilitasi: Keluarga dan Ketenangan Batin
Setelah resmi dinyatakan bebas dari pusat rehabilitasi, Onadio Leonardo memiliki serangkaian keinginan dan rencana yang ingin segera diwujudkan. Namun, di antara semua agenda tersebut, prioritas utamanya adalah kembali terhubung dengan orang-orang terkasih. Hal pertama yang paling ingin ia lakukan adalah segera bertemu dengan buah hatinya. Momen reuni dengan sang anak menjadi prioritas nomor satu baginya, menandakan betapa pentingnya peran keluarga dalam proses pemulihannya. Kepulangan ke rumah menjadi langkah awal sebelum ia menghubungi orang tuanya, yang ia yakini sangat kecewa dengan kejadian yang menimpanya.
“Kayaknya gue mau ke rumahnya Habib Ja’far dulu, itu udah pasti. Terus nomor satu mau ketemu anak gue dulu, gue pulang ke rumah dulu, baru gue mungkin telepon orang tua gue yang pasti kecewa banget,” ungkap Onad dengan nada penuh kerinduan. Ia juga menyadari bahwa tindakannya telah merugikan rekan-rekan kerjanya, dan ia berencana untuk meminta maaf serta memperbaiki hubungan profesional yang sempat terganggu. Setelah semua kewajiban emosional dan profesional terpenuhi, Onad berandai-andai ingin menikmati momen sederhana namun berharga, yaitu tidur nyenyak di rumahnya sendiri. “Habis itu tidur kali ya? Tidur di rumah kali ya paling enak ya. Rehab enak, rumah lebih enak nampaknya,” tuturnya, menggambarkan betapa ia merindukan kenyamanan dan kedamaian di lingkungan pribadinya.
Selama menjalani masa rehabilitasi yang memakan waktu cukup lama, Onad mengaku sangat merindukan berbagai aktivitas rutin yang biasa ia jalani. Kerinduan ini mencakup hal-hal sederhana seperti kembali bekerja, menghibur masyarakat melalui karya-karyanya, hingga kegiatan sosial seperti pergi ke pusat perbelanjaan. “Kayaknya rumah ya. Rumah gue kangen, gue kangen kerja lagi, gue kangen menghibur lagi. Gue kangen anak-anak gue sih ya, gue kangen semuanya lah. Gue kangen ke mal, kangen banyak lah yang dikangenin,” ujarnya, menunjukkan betapa ia ingin segera kembali beraktivitas secara normal dan produktif.
Dukungan Penuh Sang Istri: Menjaga Lingkaran Positif
Keputusan Onadio Leonardo untuk menjadi lebih selektif dalam memilih teman disambut baik dan didukung penuh oleh sang istri, Beby Prisillia. Beby menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi dan mengingatkan suaminya agar tetap berada di jalur yang benar. Ia secara aktif berperan dalam menjaga agar Onad tidak kembali terjerumus dalam kebiasaan buruk atau bergaul dengan orang-orang yang berpotensi memberikan pengaruh negatif.
“Iya, cukup dari Onad-nya aja sih. Aku selalu ingetin jangan aneh-aneh, jangan sembarangan bergaul. Sekarang juga lebih aware lah. Jadi lebih milihin lagi nanti habis ini. Pokoknya aku akan temenin dia terus,” tegas Beby, menunjukkan keseriusannya dalam mendukung proses pemulihan suaminya. Dukungan ini menjadi pilar penting bagi Onad, karena kehadiran sosok yang peduli dan mengingatkan akan sangat krusial dalam menjaga konsistensi perubahan positif yang telah ia mulai.
Kasus narkoba yang menjerat Onad bermula dari pengembangan penangkapan di daerah Sunter, Tanjung Priok. Saat penggeledahan dilakukan, pihak kepolisian berhasil mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk satu lembar papir, satu plastik klip kecil berisi batang ganja, dan satu boks kecil beserta tiga unit telepon genggam. Onad sendiri mengakui bahwa penggunaan narkoba tersebut dipicu oleh masalah pribadi yang sedang dihadapinya. Berdasarkan pengakuannya, Onad kemudian mengajukan permohonan asesmen kepada Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP). Setelah permohonan tersebut disetujui oleh BNNP, Onad pun secara resmi dijatuhi hukuman untuk menjalani rehabilitasi narkoba. Ia kemudian dipindahkan ke salah satu panti rehabilitasi di Jakarta Selatan pada Selasa (4/11) pagi untuk memulai program pemulihan yang dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan.


















