Dalam sebuah drama sepak bola yang pahit dan penuh intrik, klub raksasa Italia, Napoli, secara mengejutkan harus menelan pil pahit tersingkir dari ajang Liga Champions musim 2025/2026. Kekalahan tipis 2-3 dari Chelsea di laga pamungkas fase liga, yang berlangsung di markas kebanggaan mereka, Stadion Diego Armando Maradona, pada Kamis (29/1/2026) dini hari WIB, menjadi penanda berakhirnya petualangan Partenopei di kompetisi elit Eropa tersebut. Meskipun berstatus sebagai juara bertahan Serie A dan sempat unggul 2-1 di babak pertama, kondisi tim yang kurang ideal serta jadwal padat menjadi sorotan tajam dari sang pelatih karismatik, Antonio Conte, yang menolak menyalahkan para pemainnya dan justru melontarkan kritik pedas terhadap sistem serta perbedaan finansial yang mencolok.
Juara Serie A Tersingkir dari Liga Champions
Kisah tersingkirnya Napoli dari Liga Champions musim ini adalah narasi yang kompleks, melibatkan ekspektasi tinggi sebagai juara Serie A, tekanan besar di laga penentuan, dan realitas keras sepak bola modern. Pertandingan melawan Chelsea bukanlah sekadar laga biasa; itu adalah pertarungan hidup mati yang menuntut kemenangan mutlak bagi Napoli untuk bisa melaju ke babak selanjutnya. Sayangnya, beban krusial ini harus diemban dengan kondisi tim yang jauh dari kata ideal. Antonio Conte secara terbuka mengungkapkan bahwa skuadnya “pincang,” hanya diperkuat oleh 13 pemain yang fit sepenuhnya untuk menghadapi tantangan sekelas Chelsea, sebuah tim yang, menurut sindiran Conte, memiliki sumber daya finansial yang jauh lebih superior.
Meskipun demikian, Napoli menunjukkan semangat juang yang luar biasa di hadapan publik sendiri. Mereka sempat membalikkan keadaan setelah tertinggal penalti, memimpin 2-1 hingga turun minum. Stadion Diego Armando Maradona bergemuruh, harapan membumbung tinggi. Namun, babak kedua menjadi mimpi buruk. Dua gol krusial dari pemain Chelsea, Joao Pedro, berhasil membuyarkan keunggulan Napoli dan mengunci kemenangan 3-2 untuk The Blues, sekaligus mengantarkan mereka ke babak 16 besar. Hasil ini terasa sangat menyakitkan bagi Partenopei, bukan hanya karena kalah di kandang, tetapi juga karena mereka gagal mempertahankan keunggulan yang sudah susah payah diraih.
Pujian Conte Kepada Pemain Napoli dan Kritik Tajamnya
Pasca-kekalahan yang menyakitkan tersebut, Antonio Conte, sosok yang dikenal dengan intensitas dan strateginya, menolak untuk menyalahkan Giovanni Di Lorenzo dan rekan-rekan setimnya. Sebaliknya, ia melontarkan pujian setinggi langit atas perjuangan dan mentalitas yang ditunjukkan pasukannya. “Saya merasa sangat bangga dengan perjuangan Giovanni Di Lorenzo dan kawan-kawan,” ujar Conte, menyoroti dedikasi para pemain di tengah keterbatasan. Menurut Conte, kekalahan dari Chelsea bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan Napoli tersingkir, melainkan akumulasi dari berbagai masalah, termasuk jadwal pertandingan yang padat dan tidak menguntungkan, yang ia sebut sebagai “murka soal jadwal.” Ia merasa bahwa timnya dipaksa bermain dalam kondisi yang tidak optimal, sebuah kritik yang sering dilontarkan oleh pelatih top lainnya terkait tuntutan kalender sepak bola modern.
Lebih jauh lagi, Conte tidak ragu untuk menyindir Chelsea dan menyoroti perbedaan finansial yang signifikan antara kedua klub. Dalam pandangannya, kemampuan Chelsea untuk memiliki kedalaman skuad yang mumpuni, bahkan saat menghadapi cedera, adalah cerminan dari kekuatan finansial yang tidak dimiliki Napoli. Sindiran ini bukan hanya tentang kekalahan di satu pertandingan, tetapi juga tentang realitas kompetitif di level tertinggi sepak bola Eropa, di mana kekuatan finansial seringkali menjadi penentu utama keberhasilan jangka panjang.
Dalam rekam jejaknya di Liga Champions, Antonio Conte telah memimpin empat klub berbeda: Napoli, Tottenham Hotspur, Inter Milan, dan Chelsea. Total, ia mencatatkan 16 kemenangan, 14 hasil imbang, dan 15 kekalahan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun ia adalah seorang manajer yang sukses, Liga Champions kerap menjadi batu sandungan baginya. Pencapaian terbaiknya di kompetisi ini adalah saat ia membawa Juventus melaju hingga perempat final pada musim 2012-2013, sebuah capaian yang belum mampu ia lampaui bersama klub-klub lainnya. Kontras dengan dominasinya di liga domestik, perjalanan Conte di Eropa memang seringkali berakhir lebih awal dari yang diharapkan, sebuah paradoks yang terus mengikuti karier manajerialnya.
Namun, di kompetisi domestik, Antonio Conte adalah sinonim dengan kesuksesan dan raihan trofi. Ia dikenal sebagai arsitek tim yang mampu membangun fondasi juara dan mengukir sejarah. Koleksi gelarnya di liga domestik sangat impresif, dengan total lima gelar Liga Italia yang diraih bersama tiga klub berbeda. Bersama Juventus, ia memenangkan Serie A tiga musim berturut-turut pada 2011-2012, 2012-2013, dan 2013-2014, menandai awal dominasi Bianconeri di era modern. Kemudian, ia sukses mengakhiri dominasi Juventus dengan membawa Inter Milan meraih Scudetto pada musim 2020-2021. Puncaknya, ia kembali membuktikan sentuhan emasnya dengan membawa Napoli menjuarai Serie A pada musim 2024-2025, hanya beberapa bulan sebelum kekalahan pahit di Liga Champions. Di luar Italia, Conte juga berhasil membawa Chelsea meraih gelar Liga Inggris pada musim 2016-2017, sebuah bukti adaptabilitas dan kehebatannya di liga yang berbeda.
Selain gelar liga, lemari trofi Conte juga dihiasi dengan piala-piala domestik lainnya. Ia berhasil meraih trofi Piala Super Italia (Supercoppa Italiana) sebanyak dua kali bersama Juventus (2012 dan 2013), serta menambah koleksinya bersama Napoli pada musim 2025-2026. Di Inggris, ia juga berhasil mempersembahkan Piala FA untuk Chelsea pada musim 2017-2018. Deretan gelar ini menggarisbawahi kemampuannya untuk tidak hanya memenangkan liga, tetapi juga kompetisi piala yang seringkali membutuhkan strategi dan manajemen skuad yang berbeda.
Meskipun Liga Champions seringkali menjadi tantangan, Conte sempat mencicipi kesuksesan di kompetisi Eropa lainnya. Prestasi terbaiknya di kompetisi Eropa, di luar Liga Champions, adalah saat ia membawa Inter Milan melaju hingga final Liga Europa pada musim 2019-2020. Sayangnya, dalam pertandingan final yang sengit tersebut, Inter Milan harus mengakui keunggulan wakil Spanyol, Sevilla, dengan skor tipis 2-3. Perjalanan tersebut, meskipun tidak berakhir dengan trofi, menunjukkan bahwa Conte memiliki kapasitas untuk membawa timnya bersaing di panggung Eropa, meskipun ia belum berhasil mengangkat trofi Liga Champions yang prestisius.
Kisah Napoli dan Antonio Conte di Liga Champions musim 2025/2026 menjadi pengingat pahit bahwa kesuksesan domestik tidak selalu berbanding lurus dengan dominasi di kancah Eropa. Meskipun Conte adalah seorang maestro dalam meraih gelar liga, ia masih harus mencari formula yang tepat untuk menaklukkan Liga Champions. Namun, pujiannya kepada para pemain dan kritik tajamnya terhadap sistem serta perbedaan finansial, menunjukkan bahwa ia adalah seorang manajer yang selalu membela timnya dan berani menyuarakan kebenaran, terlepas dari hasil akhir.


















