Dalam sebuah malam yang penuh drama dan euforia di Stadion Camp Nou, Barcelona berhasil mengukir kemenangan krusial yang memastikan langkah mereka langsung ke babak 16 besar Liga Champions 2025/26. Pada Kamis dini hari WIB, 29 Januari 2026, raksasa Catalan itu bangkit dari ketertinggalan untuk menaklukkan FC Copenhagen dengan skor telak 4-1. Hasil gemilang ini tidak hanya mengamankan posisi kelima di klasemen akhir fase liga dengan total 16 poin, tetapi juga menegaskan ambisi Barcelona di kompetisi paling elite Eropa, membuktikan ketahanan mental dan kualitas skuad di bawah tekanan.
Pertandingan dimulai dengan kejutan yang membungkam seisi Camp Nou. Bermain di hadapan ribuan pendukung setia, Barcelona justru harus tertinggal lebih dulu akibat sebuah kesalahan fatal di lini pertahanan. Bek tengah, Jules Kounde, melakukan umpan yang kurang cermat di area berbahaya, sebuah blunder yang langsung dimanfaatkan dengan sigap oleh penyerang tajam Copenhagen, Viktor Dadason. Dengan insting golnya yang mematikan, Dadason berhasil mengonversi peluang tersebut menjadi gol pembuka, membawa tim tamu unggul dan menciptakan atmosfer tegang di kubu tuan rumah. Gol cepat ini menjadi pukulan telak yang memaksa Barcelona untuk segera merespons, menguji kedalaman strategi dan mentalitas para pemainnya sejak awal laga.
Namun, babak kedua menjadi saksi bisu kebangkitan luar biasa dari Barcelona. Setelah jeda, tim asuhan Xavi Hernandez (jika masih melatih) atau pelatih lainnya, tampil dengan intensitas yang berbeda, menunjukkan determinasi tinggi untuk membalikkan keadaan. Hanya tiga menit setelah peluit babak kedua dibunyikan, tepatnya pada menit ke-48, bomber veteran Robert Lewandowski berhasil menyamakan kedudukan. Menerima umpan terukur dari penyerang muda sensasional, Lamine Yamal, Lewandowski menunjukkan ketenangannya di depan gawang untuk mencetak gol penting yang membangkitkan semangat tim dan para suporter. Momentum positif ini berlanjut. Pada menit ke-60, giliran Yamal sendiri yang menjadi pahlawan, mencetak gol yang membawa Barcelona berbalik unggul 2-1. Gol ini tidak hanya menunjukkan bakat alaminya tetapi juga kemampuannya untuk tampil menentukan di panggung besar.
Dominasi Barcelona semakin tak terbendung. Keunggulan mereka bertambah menjadi 3-1 melalui eksekusi penalti yang dingin dari Raphinha. Hadiah penalti diberikan setelah Robert Lewandowski dijatuhkan di dalam kotak terlarang oleh pemain bertahan Copenhagen, sebuah insiden yang tak terbantahkan. Raphinha, dengan kepercayaan diri penuh, sukses menunaikan tugasnya, memperlebar jarak skor dan semakin memantapkan posisi Barcelona. Pesta gol ditutup dengan indah pada menit ke-85 oleh pemain pengganti, Marcus Rashford. Melalui sebuah tendangan bebas spektakuler yang melesat deras ke gawang lawan, Rashford memastikan kemenangan telak 4-1 bagi Barcelona. Gol ini menjadi penutup manis bagi penampilan impresif mereka, menunjukkan kedalaman skuad dan kemampuan para pemain pengganti untuk memberikan dampak signifikan. Di penghujung laga, Copenhagen sempat memperkecil ketertinggalan pada menit ke-89, namun gol tersebut dianulir setelah tinjauan VAR yang menunjukkan posisi offside, mengukuhkan skor akhir 4-1 untuk keunggulan Barcelona.
Strategi dan Performa Kunci: Jalan Menuju 16 Besar
Kemenangan atas Copenhagen bukan sekadar hasil tiga poin, melainkan sebuah pernyataan tegas tentang kesiapan Barcelona menghadapi tantangan di Liga Champions musim 2025/26. Di bawah format kompetisi yang baru, di mana 8 tim teratas dari fase liga langsung lolos ke babak 16 besar, finis di peringkat kelima dengan 16 poin adalah pencapaian strategis yang sangat vital. Ini menghindarkan Barcelona dari babak playoff yang ketat dan melelahkan, memberikan mereka waktu lebih untuk mempersiapkan diri menghadapi fase gugur. Performa di babak kedua, khususnya, menyoroti adaptasi taktis dan semangat juang yang tinggi. Dari ketertinggalan satu gol, tim menunjukkan kedewasaan dan keberanian untuk mengubah jalannya pertandingan. Kontribusi individu seperti Yamal yang memberikan assist dan mencetak gol, Lewandowski yang menjadi titik fokus serangan dan memimpin di lini depan, serta Raphinha dan Rashford yang menambah daya gedor, semuanya krusial dalam membalikkan keadaan. Kemenangan ini juga akan menjadi suntikan moral yang besar bagi skuad, membangun kepercayaan diri untuk menghadapi lawan-lawan yang lebih berat di babak selanjutnya.
Analisis Mendalam Susunan Pemain dan Dampak Pergantian
Susunan pemain yang diturunkan oleh kedua tim memberikan gambaran tentang strategi yang diusung. Barcelona tampil dengan formasi yang mengandalkan kecepatan di sayap dan kreativitas di lini tengah. Di bawah mistar gawang, Joan Garcia dipercaya menjaga pertahanan. Lini belakang diisi oleh Jules Kounde, Cubarsi, Martin (yang kemudian digantikan oleh Araujo pada menit ke-72), dan Balde. Di lini tengah, Eric Garcia (digantikan oleh Bernal pada menit ke-46) dan Olmo (digantikan oleh Rashford pada menit ke-72) bertugas mengatur tempo, didampingi oleh Lamine Yamal, Fermin Lopez (yang digantikan oleh Casado pada menit ke-79), dan Raphinha di posisi yang lebih menyerang. Ujung tombak serangan dipercayakan kepada Robert Lewandowski. Pergantian pemain seperti masuknya Araujo, Bernal, Rashford, dan Casado menunjukkan fleksibilitas taktik pelatih dan keinginan untuk menyegarkan tim serta menambah daya serang di momen-momen krusial.
Di sisi lain, FC Copenhagen menurunkan skuad yang berupaya menahan gempuran Barcelona dan mengandalkan serangan balik cepat. Dominik Kotarski menjaga gawang mereka. Lini pertahanan diisi oleh Meling, Hatzidiakos, Gabriel Pereira, dan Junnosuke Suzuki. Di lini tengah, Lopez, Larsson (yang digantikan oleh Moukoko pada menit ke-65), dan Clem berusaha mengimbangi permainan Barcelona. Sementara itu, lini serang diisi oleh Achouri (digantikan oleh Silva pada menit ke-65), Elyounoussi (yang digantikan oleh Hojer pada menit ke-78), dan pencetak gol awal, Viktor Dadason. Pergantian pemain Copenhagen, meskipun bertujuan untuk memperkuat tim, tidak cukup untuk menahan gelombang serangan Barcelona di babak kedua. Kemenangan ini bukan hanya sekadar hasil pertandingan, tetapi sebuah narasi tentang ketekunan, adaptasi, dan keunggulan taktis yang membawa Barcelona melangkah lebih jauh di panggung Liga Champions.


















