Kemacetan parah yang melumpuhkan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, pada Kamis (29/1/2026) pagi, menjadi saksi bisu keganasan banjir yang kembali merendam ruas jalan vital tersebut. Ribuan kendaraan dilaporkan nyaris tak bergerak selama berjam-jam, menciptakan pemandangan horor bagi para pengguna jalan yang terjebak dalam antrean panjang. Fenomena ini bukan sekadar insiden lalu lintas biasa, melainkan sebuah pengingat pahit akan kerentanan infrastruktur kota metropolitan ini terhadap bencana musiman, yang dampaknya terasa hingga berjam-jam bahkan seharian penuh, memaksa warga menunda kepulangan dan menimbulkan frustrasi massal. Pertanyaan krusial pun mengemuka: kapan solusi permanen akan terwujud untuk mengakhiri siklus derita banjir dan macet di salah satu arteri utama Jakarta Barat ini?
Analisis Mendalam: Akar Masalah Banjir dan Kemacetan di Daan Mogot
Jalan Daan Mogot, sebagai salah satu koridor transportasi utama yang menghubungkan Jakarta Barat dengan wilayah sekitarnya, kerap kali menjadi titik rawan bencana banjir. Insiden pada Kamis (29/1/2026) pagi, yang mengakibatkan kemacetan parah hingga berjam-jam, bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Data dan laporan sebelumnya mengindikasikan bahwa problematika banjir dan kemacetan di kawasan ini memiliki pola yang berulang. Beberapa hari sebelum kejadian tersebut, dilaporkan pula adanya banjir dengan ketinggian yang signifikan, bahkan hampir mencapai 50 sentimeter, yang secara drastis memperlambat laju kendaraan berat dan memaksa sebagian pengemudi untuk melakukan putar balik demi menghindari genangan yang lebih dalam.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai efektivitas sistem drainase dan pengelolaan tata ruang di area tersebut. Banjir yang merendam jalan utama hingga ketinggian 20 hingga 40 sentimeter, seperti yang dilaporkan pada kejadian horor tersebut, secara efektif melumpuhkan total arus lalu lintas sejak pagi hari. Stasiun Pompa Daan Mogot, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penanganan banjir, dalam beberapa kasus dilaporkan menjadi titik akhir dari kemacetan yang mengarah ke Cengkareng, menandakan adanya kapasitas atau efisiensi yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Kendaraan yang berhasil melewati genangan tersebut pun baru dapat kembali memasuki jalan arteri, menunjukkan betapa parahnya dampak banjir terhadap mobilitas.
Dampak Sosial dan Ekonomi dari Kelumpuhan Arus Lalu Lintas
Kemacetan horor yang terjadi di Jalan Daan Mogot pada Kamis (29/1/2026) pagi bukan hanya sekadar gangguan lalu lintas, melainkan sebuah tragedi yang berdampak luas bagi kehidupan ribuan warga. Pengguna jalan dilaporkan terjebak dalam kemacetan hingga berjam-jam, sebuah pengalaman yang tidak hanya melelahkan secara fisik tetapi juga menguras emosi. Upaya sederhana untuk pulang ke rumah setelah beraktivitas sehari-hari harus tertunda, bahkan bagi sebagian orang, memakan waktu yang sangat lama. Situasi ini secara langsung mengganggu jadwal pribadi, profesional, dan keluarga, menciptakan stres dan frustrasi yang signifikan.
Lebih jauh lagi, kelumpuhan arus lalu lintas ini juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi. Keterlambatan pengiriman barang, terganggunya jadwal operasional bisnis yang bergantung pada transportasi darat, serta hilangnya jam produktif para pekerja akibat terjebak macet, semuanya berkontribusi pada kerugian ekonomi yang tidak dapat diabaikan. Dalam beberapa kasus, rasa frustrasi yang mendalam akibat terjebak macet bahkan mendorong sebagian pengendara sepeda motor untuk melakukan aksi nekat melawan arus. Tindakan ini, meskipun lahir dari keputusasaan, justru berpotensi menambah kesemrawutan dan kekacauan lalu lintas, memperburuk kondisi yang sudah ada dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Harapan Warga: Menuju Solusi Permanen
Di tengah siklus banjir dan kemacetan yang terus berulang di Jalan Daan Mogot, suara-suara warga semakin lantang menyuarakan harapan akan adanya solusi yang permanen. Pengalaman pahit terjebak berjam-jam di tengah genangan air dan antrean kendaraan yang tak kunjung bergerak telah menjadi pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Warga, yang setiap harinya bergantung pada kelancaran arus lalu lintas di jalur ini, mendambakan adanya intervensi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan dari pihak pemerintah.
Harapan ini bukan sekadar ungkapan kekecewaan, melainkan sebuah tuntutan logis atas pentingnya infrastruktur perkotaan yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya melakukan penanganan sporadis saat bencana terjadi, tetapi juga melakukan kajian mendalam mengenai akar permasalahan banjir di kawasan Daan Mogot. Hal ini mungkin mencakup evaluasi dan peningkatan sistem drainase, normalisasi sungai atau saluran air yang melintas di area tersebut, pengelolaan sampah yang lebih baik untuk mencegah penyumbatan saluran, serta peninjauan kembali tata ruang untuk mengantisipasi potensi genangan air.
Dengan adanya solusi permanen, diharapkan Jalan Daan Mogot dapat kembali berfungsi optimal sebagai urat nadi transportasi, membebaskan warga dari ancaman kemacetan horor dan genangan air yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk mewujudkan visi ini, demi terciptanya Jakarta Barat yang lebih aman, nyaman, dan bebas dari ancaman banjir yang berulang.


















