Jakarta Selatan – Kabut misteri menyelimuti kepergian mendadak selebgram Lula Lahfah, yang ditemukan tak bernyawa di apartemen mewahnya di kawasan elite Jakarta Selatan. Penyelidikan mendalam kini tengah dilakukan oleh pihak kepolisian untuk mengungkap tabir di balik kematian tragis perempuan berusia 26 tahun ini. Lula ditemukan di unit apartemennya di lantai 5 Apartemen Essence, Jalan Dharmawangsa, Cipete Utara, Kebayoran Baru, pada Rabu, 28 Januari 2026. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk asisten rumah tangga (ART) pribadi korban dan tenaga medis, guna merangkai kronologi peristiwa yang berujung pada penemuan jasad Lula. Pihak kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan terus berjalan intensif, mengumpulkan berbagai bukti dan keterangan untuk memastikan penyebab pasti kematiannya, meskipun temuan awal mengarah pada dugaan kondisi medis yang dialami almarhumah.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Budi Hermanto, merinci bahwa hingga saat ini, total sepuluh saksi telah diperiksa oleh tim penyidik. Pemeriksaan saksi ini merupakan langkah krusial untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai aktivitas terakhir korban, kondisi kesehatannya, serta interaksi yang mungkin terjadi sebelum ia ditemukan meninggal. Meskipun berbagai temuan awal telah dikantongi oleh tim penyelidik, kepolisian masih enggan untuk menarik kesimpulan definitif mengenai penyebab kematian Lula Lahfah. Penegasan ini penting untuk menghindari spekulasi yang tidak berdasar dan memastikan bahwa setiap aspek kasus ditangani dengan cermat dan profesional.
Detil Kronologis: Erangan Kesakitan dan Penemuan Jasad
Salah satu keterangan paling mencengangkan datang dari asisten rumah tangga (ART) Lula Lahfah. Menurut kesaksiannya yang disampaikan melalui Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budhi Hermanto, terdengar suara erangan kesakitan yang diduga berasal dari kamar Lula pada dini hari sebelum ia ditemukan meninggal. “Jam 02.00 dini hari, ART mendengar dia (Lula) kayak kesakitan,” ujar Budhi, menggambarkan momen yang mungkin menjadi indikasi awal adanya kondisi darurat medis yang dialami korban. Suara tersebut menjadi petunjuk penting yang mengindikasikan bahwa Lula mungkin telah merasakan ketidaknyamanan atau rasa sakit yang signifikan pada jam-jam krusial tersebut.
Kepanikan mulai terasa pada pagi harinya. Sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB, ART korban kembali mencoba berkomunikasi dan mengetuk pintu kamar Lula. Namun, tidak ada respons yang datang dari dalam. Kekhawatiran yang semakin memuncak mendorong ART untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Bersama dengan bantuan petugas keamanan apartemen, pintu kamar Lula akhirnya dibuka secara paksa. Momen inilah yang akhirnya mengungkap tragedi penemuan jasad Lula Lahfah dalam kondisi tidak bernyawa di dalam kamarnya.
Riwayat Medis dan Temuan Penting di Lokasi Kejadian
Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa Lula Lahfah memiliki riwayat kesehatan yang cukup kompleks. Menurut keterangan dari Budhi Hermanto, almarhumah diketahui baru saja menjalani operasi batu ginjal. Selain itu, ia juga mengidap masalah asam lambung akut. Riwayat penyakit ini memberikan konteks penting terhadap kemungkinan penyebab kematiannya, meskipun kepolisian tetap berhati-hati dalam mengaitkannya secara langsung tanpa hasil pemeriksaan medis yang komprehensif.
Keterangan ART korban semakin memperkuat dugaan bahwa Lula memang dalam kondisi tidak sehat. Ia dilaporkan masih dalam keadaan sakit dan baru saja kembali dari proses berobat pada malam sebelum ditemukan meninggal dunia. Informasi ini menjadi salah satu pilar penting dalam rekonstruksi kejadian, menunjukkan bahwa kondisi medis almarhumah merupakan faktor yang patut dipertimbangkan secara serius oleh tim penyelidik.
Dalam upaya pengumpulan bukti di Tempat Kejadian Perkara (TKP), tim kepolisian berhasil mengamankan sejumlah barang yang berpotensi relevan. Kapolres Metro Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar I Putu Yuni Setiawan, mengkonfirmasi penemuan obat-obatan serta surat keterangan rawat jalan dari sebuah rumah sakit. “Tidak ada tanda-tanda penganiayaan, namun ditemukan obat-obatan dan surat rawat jalan dari RSPI,” ujar Yuni dalam keterangan tertulisnya. Penemuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa kematian Lula Lahfah mungkin berkaitan dengan kondisi medisnya. Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Jakarta Selatan, Komisaris Murodih, juga secara tegas menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya tanda-tanda bekas penganiayaan pada tubuh korban, sebuah temuan yang sangat krusial dalam menghilangkan kemungkinan adanya unsur kekerasan dalam kasus ini.
Keputusan Keluarga dan Kelanjutan Penyelidikan
Dalam sebuah perkembangan yang signifikan, keluarga Lula Lahfah telah menyatakan sikap mereka terkait proses penyelidikan. Pihak keluarga memutuskan untuk menolak pelaksanaan otopsi terhadap jenazah Lula. Keputusan ini, meskipun dapat mempersempit opsi investigasi medis, tidak menghentikan langkah kepolisian dalam mengungkap misteri kematiannya. Proses penyelidikan dipastikan akan terus berjalan dengan fokus pada metode investigasi lain yang tersedia.
Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Andaru Rahutomo, menjelaskan bahwa kepolisian akan sangat mengandalkan keterangan dari para dokter yang terlibat dalam penanganan Lula, baik sebelum maupun saat ditemukan meninggal. “Salah satu saksi yang diperiksa itu dokter yang pada saat itu hadir di TKP,” ujar Rahutomo pada Selasa, 27 Januari 2026. Keterangan medis dari para profesional ini diharapkan dapat memberikan gambaran klinis yang akurat mengenai kondisi almarhumah dan potensi penyebab kematiannya, terutama mengingat penolakan otopsi oleh keluarga. Dengan demikian, meskipun tanpa otopsi, penyelidikan akan tetap berupaya keras untuk mencapai titik terang.


















