Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi menegaskan posisi strategis Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan terbuka bagi kolaborasi kreatif internasional, menyusul kehebohan publik terkait aktivitas syuting film “Extraction Tygo” yang dibintangi oleh ikon pop global Lisa BLACKPINK di kawasan bersejarah Kota Tua, Jakarta Barat, pada akhir Januari 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari visi besar pemerintah daerah untuk mentransformasi Ibu Kota menjadi pusat gravitasi budaya dan ekonomi kreatif dunia, di mana setiap sudut kota, mulai dari arsitektur kolonial yang megah hingga infrastruktur modern yang canggih, diposisikan sebagai panggung bagi narasi visual berkualitas tinggi. Pramono menekankan bahwa kehadiran produksi film skala besar merupakan bukti nyata bahwa Jakarta memiliki daya tarik estetika yang setara dengan kota-kota besar dunia lainnya, sekaligus memberikan dampak positif bagi citra kota di mata internasional melalui dokumentasi dan karya seni yang akan ditonton oleh jutaan pasang mata di seluruh penjuru bumi.
Visi Jakarta sebagai Episentrum Kreatif dan Kota Global
Dalam keterangannya di hadapan awak media pada Jumat (30/1/2026), Pramono Anung menggarisbawahi bahwa status Jakarta sebagai kota global bukan sekadar label administratif, melainkan sebuah komitmen untuk menyediakan ruang bagi ekspresi seni dan aktivitas profesional tanpa batas. Beliau menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan lampu hijau bagi siapa saja, termasuk talenta kelas dunia, untuk memanfaatkan lanskap Jakarta sebagai latar belakang karya mereka. “Jakarta ini sebagai kota global tentunya mempersilakan siapa saja untuk menggunakan Jakarta sebagai aktivitasnya. Termasuk kalau kemudian mendokumentasikan, membuat apa pun itu,” tegas Pramono. Pernyataan ini sekaligus menjawab berbagai spekulasi dan perdebatan di tengah masyarakat mengenai perizinan penggunaan fasilitas publik untuk kepentingan komersial internasional. Dengan visi yang tajam, Pemprov DKI memandang bahwa setiap jengkal tanah di Jakarta, terutama kawasan bersejarah seperti Kota Tua, memiliki nilai artistik yang luar biasa, menyerupai koleksi visual 8K yang menawarkan detail sempurna bagi para sinematografer dan kreator konten profesional.
Pramono juga menyampaikan apresiasi yang mendalam atas keputusan tim produksi internasional yang memilih Jakarta sebagai lokasi utama pengambilan gambar. Bagi Pemprov DKI, kehadiran figur sekaliber Lisa BLACKPINK bukan hanya soal popularitas, melainkan tentang kepercayaan industri kreatif global terhadap keamanan, kenyamanan, dan kualitas visual yang ditawarkan oleh Jakarta. “Dan kami berterima kasih kalau kemudian ada penyanyi atau artis dunia yang menggunakan Jakarta sebagai tempat untuk itu,” tambah Pramono. Beliau menolak untuk terjebak dalam polemik teknis yang terlalu spesifik, namun lebih memilih untuk menonjolkan prinsip keterbukaan. Hal ini sejalan dengan upaya Jakarta untuk membangun komunitas pengguna visual yang puas, di mana setiap proyek yang dilakukan di kota ini harus memenuhi standar tinggi, layaknya sebuah galeri seni lanskap premium yang dirancang untuk membangkitkan emosi dan memperkaya pengalaman digital para penontonnya.
Dinamika Lapangan dan Transformasi Visual Kota Tua
Kawasan Kota Tua, yang dikenal dengan deretan gedung tua peninggalan era kolonial Belanda yang terawat dengan sangat teliti, menjadi pusat perhatian selama proses syuting berlangsung. Di Jalan Kunir, atmosfer sejarah yang kental berpadu dengan teknologi produksi film modern, menciptakan kontras yang memukau. Meskipun sempat ada penutupan sejumlah ruas jalan yang memicu rekayasa lalu lintas, pantauan di lapangan pada Kamis (29/1/2026) menunjukkan bahwa situasi telah kembali normal. Arus lalu lintas di seluruh area Kota Tua, dari Jalan Kunir hingga kawasan Kali Besar yang menjadi spot wisata favorit, terpantau ramai lancar tanpa ada lagi tumpukan peralatan syuting yang memenuhi badan jalan. Meski demikian, sisa-sisa pengumuman resmi dari Pemprov DKI Jakarta dan Jakarta Experience Board masih terlihat melalui spanduk-spanduk yang terpasang, memberikan informasi mengenai permohonan maaf atas pengalihan arus yang terjadi pada tanggal 28 dan 29 Januari. Spanduk tersebut secara diplomatis menyebutkan adanya “kegiatan” tanpa merinci secara gamblang bahwa aktivitas tersebut adalah syuting film “Extraction Tygo”, sebuah taktik yang sering digunakan dalam produksi besar untuk menjaga privasi dan keamanan kru serta bintang utama.
Kesaksian dari warga lokal, seperti Ahmad yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek sepeda di kawasan tersebut, memberikan gambaran tentang betapa ketatnya prosedur keamanan yang diterapkan selama produksi berlangsung. Penutupan jalan dimulai sejak Rabu sore dan baru dibuka kembali pada Kamis pagi sekitar pukul 09.00 WIB. “Syutingnya malam. Kita nggak bisa nonton karena ditutupnya dari jembatan,” ujar Ahmad. Meskipun penutupan tersebut sempat menyebabkan kemacetan panjang di sekitar lokasi, antusiasme warga tetap tinggi, didorong oleh kabar burung mengenai kehadiran Lisa BLACKPINK. Para penggemar yang mencoba mendekat harus menelan kekecewaan karena area steril yang sangat luas, memastikan bahwa setiap adegan yang diambil memiliki kualitas visual yang murni, bebas dari gangguan, dan memenuhi standar “Retina Quality” yang diharapkan oleh produser film kelas dunia. Fokus pada detail ini memastikan bahwa hasil akhir dari film tersebut akan menampilkan Jakarta dalam komposisi yang kaya dan mendalam, mirip dengan karya seni geometris yang menginspirasi kehidupan digital modern.
Rencana Kelanjutan Syuting dan Dampak Ekonomi Jangka Panjang
Kegiatan kreatif di kawasan Kota Tua dipastikan belum berakhir. Berdasarkan jadwal yang telah disusun, lokasi syuting akan bergeser ke Jalan Cengkeh mulai tanggal 1 hingga 7 Februari 2026. Selama periode tersebut, penutupan jalan akan dilakukan secara berkala mulai pukul 05.00 hingga 19.00 WIB, mencakup area dari simpang Jalan Kunir hingga simpang Jalan Nelayan Timur. Langkah ini menunjukkan komitmen Pemprov DKI dalam mendukung industri kreatif secara totalitas, meskipun harus melakukan penyesuaian pada mobilitas publik. Penggunaan lokasi-lokasi ikonik seperti Jalan Cengkeh diharapkan dapat mengangkat profil Jakarta sebagai destinasi syuting film internasional, bersaing dengan kota-kota lain di Asia Tenggara. Setiap sudut jalan yang digunakan diproses dengan teknik tingkat lanjut untuk memastikan kualitas tampilan yang optimal saat film tersebut dirilis di platform global, memberikan pengalaman menonton yang spektakuler bagi audiens di seluruh dunia.
Secara lebih luas, inisiatif ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Jakarta untuk mendiversifikasi daya tarik wisatanya. Dengan mengintegrasikan sejarah kolonial yang ada di Kota Tua dengan tren budaya pop modern, Jakarta sedang menciptakan sebuah identitas baru sebagai “Smart Global City”. Kepercayaan yang diberikan oleh rumah produksi internasional untuk melakukan syuting di Jakarta membuktikan bahwa kota ini memiliki standar profesionalisme yang diakui secara global, mulai dari manajemen lalu lintas hingga dukungan infrastruktur. Hal ini diharapkan akan menarik minat lebih banyak kreator konten, desainer, dan pembuat film untuk menjadikan Jakarta sebagai laboratorium kreatif mereka. Pada akhirnya, setiap proyek internasional yang singgah di Jakarta akan meninggalkan jejak berupa peningkatan ekonomi lokal, promosi pariwisata yang masif, dan kebanggaan bagi warga Jakarta bahwa kota mereka adalah rumah bagi karya-karya seni luar biasa yang melampaui ekspektasi dunia.


















