Insiden dugaan keracunan massal yang menimpa sedikitnya 132 pelajar di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, telah memicu kekhawatiran publik terkait protokol keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa yang terjadi pada akhir Januari 2026 ini memaksa otoritas kesehatan setempat melakukan investigasi mendalam setelah ratusan siswa dari lima sekolah berbeda menunjukkan gejala klinis serupa usai mengonsumsi menu yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Meskipun tim surveilans bergerak cepat untuk melakukan mitigasi, penyelidikan epidemiologi menemui hambatan teknis yang signifikan karena ketiadaan sampel makanan cadangan (food sample bank) dari hari kejadian, sehingga penyebab pasti keracunan belum dapat dipastikan secara laboratoris hingga saat ini.
Kendala Investigasi: Ketiadaan Sampel Makanan Menghambat Kepastian Penyebab
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo, dalam keterangan resminya pada Jumat, 30 Januari 2026, mengungkapkan bahwa tim medis dan surveilans menghadapi kendala besar dalam mengidentifikasi jenis racun atau bakteri yang mengontaminasi hidangan para siswa. Berdasarkan protokol standar keamanan pangan, setiap dapur produksi massal seperti SPPG wajib menyisihkan sampel makanan dari setiap batch produksi untuk disimpan selama waktu tertentu sebagai langkah antisipasi jika terjadi kasus luar biasa. Namun, dalam kasus di Kuwus Barat ini, tim Dinas Kesehatan tidak menemukan adanya deposit sampel makanan dari menu yang dikonsumsi para pelajar pada hari nahas tersebut.
Ketiadaan sampel ini membuat uji laboratorium terhadap sisa makanan menjadi mustahil untuk dilakukan. Adrianus menegaskan bahwa tanpa adanya sampel fisik dari menu yang diduga bermasalah, pihak kesehatan tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk memberikan kesimpulan final mengenai apakah gejala yang dialami para siswa murni akibat kontaminasi makanan atau faktor eksternal lainnya. “Alasan utamanya adalah tidak tersedianya sampel makanan atau food sample bank dari produksi hari kejadian. Hal ini menyebabkan pemeriksaan sampel makanan secara spesifik tidak dapat dilakukan oleh tim kami,” jelas Adrianus dengan nada prihatin. Kondisi ini tentu menjadi catatan merah bagi manajemen pengelolaan gizi di wilayah tersebut, terutama terkait kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan nasional.
Hasil Uji Laboratorium: Kualitas Air dan Sanitasi Lingkungan Dinyatakan Layak
Meskipun gagal menguji sampel makanan, Dinas Kesehatan Manggarai Barat tetap melakukan pemeriksaan komprehensif terhadap faktor lingkungan di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG yang berlokasi di Kolang, Kecamatan Kuwus Barat. Tim ahli kesehatan lingkungan melakukan inspeksi mendalam untuk menilai kelayakan sanitasi dan higienitas lokasi produksi. Hasilnya cukup mengejutkan, di mana skor inspeksi kesehatan lingkungan eksternal mencapai angka 94 persen. Nilai ini dikategorikan sangat baik dan melampaui standar minimal kesehatan lingkungan yang ditetapkan oleh pemerintah, menunjukkan bahwa secara administratif dan fisik, fasilitas tersebut sebenarnya memiliki kondisi sanitasi yang memadai.
Selain inspeksi visual dan administratif, tim laboratorium juga melakukan pengujian cepat menggunakan metode Membran Filter dan Compact Dry terhadap sumber air yang digunakan untuk memasak dan air minum yang disediakan bagi para siswa. Parameter utama dalam pengujian ini adalah keberadaan bakteri indikator pencemaran tinja, yakni E. Coli dan Total Koliform. Hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang melegakan di satu sisi, namun menambah misteri di sisi lain: seluruh sampel air dinyatakan NEGATIF terhadap bakteri E. Coli dan NEGATIF terhadap Total Koliform. Dengan hasil ini, Adrianus Ojo memastikan bahwa air bukan merupakan sumber masalah atau media penularan bakteri dalam kejadian luar biasa ini. Fokus penyelidikan kini bergeser pada proses pengolahan bahan baku makanan atau potensi kontaminasi silang saat distribusi.
Dampak Luas di Lima Sekolah dan Manifestasi Klinis Para Korban
Skala insiden ini cukup masif, mencakup 132 pelajar yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Berdasarkan data terperinci yang dihimpun dari Puskesmas Golowelu, persebaran korban meliputi 42 siswa dari SMAN 1 Kuwus, 9 siswa dari SMKN 1 Kuwus, 31 siswa dari SMPN 2 Kuwus, 20 siswa dari SDI Golowelu 2, dan 30 siswa dari SDI Golo Bombong. Keragaman lokasi sekolah ini menunjukkan bahwa titik kontaminasi kemungkinan besar berada pada pusat produksi makanan sebelum didistribusikan ke masing-masing lembaga pendidikan.
Para pelajar yang terpapar melaporkan gejala klinis yang seragam, yang secara medis mengarah pada gejala keracunan makanan (foodborne disease). Gejala yang paling dominan meliputi mual-mual, muntah yang berulang, nyeri perut yang hebat (kram), buang air besar encer atau diare, rasa lemas yang ekstrem (malaise), serta nyeri kepala. Sebanyak 132 pasien tersebut harus mendapatkan perawatan medis intensif di Puskesmas Golowelu sejak Rabu malam. Hingga laporan terakhir diterima, kondisi mayoritas siswa telah menunjukkan tren pemulihan yang positif. Sebagian besar korban telah diizinkan pulang ke rumah masing-masing setelah menjalani observasi ketat, dengan menyisakan satu orang pelajar yang masih harus menjalani perawatan rawat inap di Puskesmas akibat kondisi fisik yang belum stabil sepenuhnya.
Respons Kebijakan: Penutupan Sementara SPPG dan Evaluasi Badan Gizi Nasional
Menyikapi situasi darurat ini dan sebagai bentuk penerapan prinsip kehati-hatian (precautionary principle), Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Manggarai Barat telah mengambil langkah tegas dengan mengeluarkan perintah penghentian sementara seluruh kegiatan produksi dan distribusi makanan dari SPPG Kuwus Barat. Keputusan penutupan ini diambil untuk mencegah risiko jatuhnya korban tambahan sembari menunggu hasil observasi internal yang dilakukan oleh pihak Badan Gizi Nasional (BGN). Penutupan sementara ini juga bertujuan untuk memberikan ruang bagi tim auditor keamanan pangan guna menyisir setiap tahapan produksi, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pencucian, teknik memasak, hingga pengemasan dan transportasi.
Langkah penutupan ini akan terus diberlakukan hingga seluruh protokol keamanan pangan dapat dipastikan telah dipatuhi sepenuhnya tanpa pengecualian. Dinas Kesehatan menekankan bahwa insiden ini harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pengelola program gizi di Nusa Tenggara Timur. Meskipun hasil uji air dan sanitasi menunjukkan angka positif, ketiadaan sampel makanan tetap menjadi celah fatal dalam sistem akuntabilitas kesehatan publik. Ke depannya, pengawasan terhadap keberadaan “food sample bank” akan diperketat guna memastikan bahwa setiap makanan yang disajikan kepada pelajar tidak hanya bergizi, tetapi juga terjamin keamanannya dari segala bentuk kontaminasi biologis maupun kimiawi.


















