Jakarta kembali bergulat dengan genangan air pada Jumat, 30 Januari 2026, malam, ketika hujan deras yang tak henti-hentinya mengguyur ibu kota memicu banjir di puluhan Rukun Tetangga (RT). Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat setidaknya 30 RT masih terendam, dengan sebagian besar konsentrasi banjir berada di wilayah Jakarta Timur, di mana ketinggian air bahkan mencapai 140 sentimeter. Kejadian ini memaksa ratusan warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman, meninggalkan rumah mereka yang terendam, dan menimbulkan pertanyaan mendesak tentang kesiapan infrastruktur kota menghadapi intensitas curah hujan yang semakin ekstrem. Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, mengkonfirmasi situasi tersebut, menegaskan upaya penanganan yang sedang dilakukan oleh berbagai instansi terkait untuk mempercepat surutnya genangan dan meminimalkan dampak bagi masyarakat.
Analisis Mendalam Dampak Banjir dan Respons BPBD DKI Jakarta
Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta sejak beberapa waktu lalu telah mengakibatkan meluasnya genangan air di berbagai kawasan. Berdasarkan laporan resmi yang dikeluarkan oleh BPBD DKI Jakarta pada Jumat, 30 Januari 2026, pukul 20.00 WIB, tercatat sebanyak 30 Rukun Tetangga (RT) masih tergenang air. Situasi ini merupakan dampak langsung dari curah hujan yang tinggi, yang memicu luapan dari beberapa sungai besar yang melintasi ibu kota. Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, dalam sebuah keterangan tertulis, secara gamblang menyatakan, “Hujan deras yang melanda wilayah DKI Jakarta menyebabkan terjadinya beberapa genangan di wilayah DKI Jakarta.” Pernyataan ini menggarisbawahi hubungan kausalitas antara intensitas hujan dan terjadinya banjir, sebuah fenomena yang semakin sering terjadi di perkotaan besar seperti Jakarta.
Menghadapi situasi darurat ini, BPBD DKI Jakarta tidak tinggal diam. Instansi tersebut telah mengerahkan seluruh sumber daya personelnya untuk memantau secara ketat perkembangan kondisi genangan di setiap wilayah yang terdampak. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa genangan dapat surut dalam waktu secepat mungkin, guna mengurangi penderitaan warga. Lebih lanjut, Mohammad Yohan menjelaskan, “Kami juga mengkoordinasikan unsur Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) untuk menyedot genangan dan memastikan tali air berfungsi dengan baik.” Kolaborasi antar-dinas ini sangat krusial, karena penanganan banjir membutuhkan sinergi berbagai keahlian dan instrumen, mulai dari pengaturan aliran air, perbaikan infrastruktur, hingga upaya penyelamatan dan evakuasi.
BPBD DKI Jakarta juga secara proaktif memberikan imbauan kepada seluruh masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan banjir. Dalam situasi darurat yang memerlukan penanganan segera, masyarakat diimbau untuk tidak ragu menghubungi layanan telepon darurat 112. Nomor tunggal ini dirancang untuk memudahkan akses masyarakat terhadap bantuan cepat dari berbagai layanan darurat pemerintah.
Distribusi Geografis dan Tingkat Keparahan Genangan
Analisis mendalam terhadap data yang dihimpun BPBD DKI Jakarta pada Jumat malam, 30 Januari 2026, menunjukkan pola distribusi genangan yang spesifik di tiga wilayah kota administrasi di Jakarta. Jakarta Selatan, meskipun hanya mencatat satu RT terdampak, yaitu di Kelurahan Pejaten Timur, namun ketinggian airnya mencapai 30 cm. Penyebab utama genangan di wilayah ini diidentifikasi sebagai kombinasi dari curah hujan yang tinggi dan luapan dari Kali Ciliwung, salah satu sungai vital yang melintasi Jakarta.
Wilayah Jakarta Timur menjadi episentrum banjir terparah, dengan total 27 RT yang tergenang. Genangan ini tersebar di beberapa kelurahan, yaitu Kelurahan Bidara Cina (4 RT), Kelurahan Kampung Melayu (18 RT), dan Kelurahan Cawang (5 RT). Tingkat keparahan banjir di Jakarta Timur sangat bervariasi, dengan ketinggian air yang dilaporkan mencapai 30 cm hingga 140 cm. Penyebabnya pun serupa dengan Jakarta Selatan, yakni curah hujan yang tinggi dan luapan dari Kali Ciliwung. Ketinggian air yang mencapai 1,4 meter di beberapa titik di Jakarta Timur tentu menimbulkan dampak yang signifikan, memaksa ratusan warga untuk mengungsi.
Sementara itu, Jakarta Utara melaporkan dua RT yang tergenang, tepatnya di Kelurahan Kapuk Muara. Ketinggian air di wilayah ini relatif lebih rendah, yaitu sekitar 30 cm. Penyebab genangan di Jakarta Utara adalah curah hujan tinggi yang berujung pada luapan Kali Angke. Meskipun ketinggian air tidak separah di Jakarta Timur, namun tetap saja menimbulkan ketidaknyamanan dan potensi kerugian bagi warga setempat.
Lokasi Pengungsian dan Upaya Pemulihan
Menghadapi situasi banjir yang cukup parah, khususnya di Jakarta Timur, BPBD DKI Jakarta telah mengidentifikasi dan memfasilitasi beberapa lokasi pengungsian bagi warga yang rumahnya terendam. Di Kelurahan Kampung Melayu, warga terdampak diarahkan ke beberapa titik, termasuk SDN Kampung Melayu 01 dan 02 yang menampung 113 Kepala Keluarga (KK) dengan total 405 jiwa. Masjid Jami Itihadul Ikhwan menjadi tempat berlindung bagi 54 KK (171 jiwa), sementara SMPN 26 Jakarta menampung 54 KK (250 jiwa). Jumlah pengungsi yang signifikan ini menunjukkan skala dampak banjir di wilayah tersebut.
Di Kelurahan Cawang, pengungsi ditempatkan di Saung Lapangan Tennis RW 03 (17 KK, 40 jiwa) dan Musholla Al Islah (20 KK, 50 jiwa). Sementara itu, di Kelurahan Bidara Cina, pengungsian dilakukan di Aula Masjid Al Abror (16 KK, 54 jiwa), SKKT (10 KK, 23 jiwa), Gor Otista (36 KK, 127 jiwa), dan SDN 05 (6 KK, 50 jiwa). Data ini memberikan gambaran konkret mengenai upaya penanggulangan bencana yang dilakukan, termasuk penyediaan tempat tinggal sementara bagi mereka yang kehilangan rumah akibat banjir.
Selain wilayah yang masih tergenang, BPBD DKI Jakarta juga melaporkan beberapa kawasan yang genangannya sudah surut. Ini menunjukkan adanya pergerakan positif dalam upaya penanganan banjir. Sebanyak 17 RT di berbagai kelurahan telah dilaporkan bebas dari genangan, antara lain di Kelurahan Cililitan (4 RT), Kelurahan Kembangan Selatan (3 RT), Kelurahan Kedaung Kali Angke (4 RT), Kelurahan Rawa Buaya (1 RT), Kelurahan Tanjung Barat (2 RT), Kelurahan Cilincing (1 RT), Kelurahan Balekambang (2 RT), Kelurahan Marunda (1 RT), Kelurahan Pengadegan (3 RT), Kelurahan Rawa Terate (1 RT), Kelurahan Gedong (3 RT), Kelurahan Kebon Baru (1 RT), Kelurahan Cawang (4 RT), Kelurahan Manggarai (4 RT), Kelurahan Pejaten Timur (4 RT), Kelurahan Rawajati (2 RT), dan Kelurahan Kampung Melayu (2 RT). Demikian pula, dua ruas jalan yang sebelumnya tergenang, yaitu Pulo Raya IV di Kelurahan Petogogan, Jakarta Selatan, dan Jl. Rawa Indah Dua di Kelurahan Pegangsaan Dua, Jakarta Utara, kini dilaporkan telah kembali normal.


















