Setelah hampir enam tahun menepi dari hiruk-pikuk dapur rekaman, diva legendaris Dewi Gita secara mengejutkan kembali ke permukaan industri musik tanah air dengan merilis karya monumental bertajuk “Jalir Janji” yang diproyeksikan sebagai lagu tema utama (Original Soundtrack) untuk film horor teranyar produksi Abelle Pictures, Lastri: Arwah Kembang Desa. Kehadiran lagu ini bukan sekadar pelengkap sinematik, melainkan sebuah manifestasi emosional yang mendalam untuk menghidupkan legenda urban asal Pati, Jawa Tengah, yang dijadwalkan menyapa penonton di bioskop pada tahun 2026. Melalui kolaborasi apik antara produser Joe Richard dan visi artistik Dewi Gita, proyek ini berusaha menyatukan elemen mistis tradisional dengan aransemen pop kontemporer, menciptakan atmosfer kesunyian yang mencekam sekaligus menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarkannya. Keputusan Dewi Gita untuk turun tangan langsung sebagai komposer sekaligus penyanyi menegaskan kualitas produksi film perdana Abelle Pictures ini dalam upaya memberikan pengalaman audio-visual yang paripurna bagi para pencinta genre horor di Indonesia.
Kembalinya Dewi Gita ke studio rekaman menjadi catatan penting dalam perjalanan kariernya yang telah membentang selama puluhan tahun. Istri dari vokalis band Gigi, Armand Maulana, ini mengakui bahwa dirinya merasa terpanggil secara batiniah saat pertama kali disodorkan narasi mengenai karakter Lastri. Selama masa hiatusnya yang mencapai lebih dari setengah dekade, Dewi Gita sangat selektif dalam memilih proyek musik, namun “Jalir Janji” menawarkan kompleksitas emosi yang sulit untuk ditolak. Ia tidak hanya menyumbangkan suaranya yang khas dengan teknik vokal etnis yang kuat, tetapi juga merancang sendiri komposisi musiknya dari nol. Dalam proses kreatifnya, Dewi Gita memasukkan unsur-unsur instrumen tradisional seperti gamelan sesuai dengan permintaan khusus dari pihak produser yang menginginkan adanya identitas budaya yang kental. Hal ini bertujuan agar musik tersebut mampu merepresentasikan latar belakang cerita yang berakar pada tradisi masyarakat Jawa, sekaligus memberikan sentuhan magis yang menjadi ciri khas musikalitas seorang Dewi Gita selama ini.
Eksplorasi Musikalitas Etnis dan Atmosfer Magis dalam Jalir Janji
Lagu “Jalir Janji” dirancang dengan pendekatan yang sangat spesifik untuk membangkitkan bulu kuduk sekaligus rasa iba. Secara musikal, lagu ini merupakan persilangan antara genre pop modern dengan elemen etnis yang sangat dominan, menciptakan sebuah lanskap suara yang terasa lirih, sunyi, namun penuh dengan ketegangan horor yang subtil. Jika didengarkan secara saksama, aransemen yang dibangun oleh Dewi Gita ini memiliki kemiripan atmosfer dengan lagu-lagu daerah yang memiliki nilai sakralitas tinggi, seperti “Gending Sriwijaya” dari Sumatera Selatan yang megah namun misterius, serta nuansa melankolis yang kerap ditemukan dalam lagu-lagu Sunda seperti “Sangkuriang”. Penggabungan berbagai elemen budaya ini bukan tanpa alasan; Dewi Gita ingin menciptakan sebuah karya yang universal namun tetap memiliki “ruh” Indonesia yang kuat. Baginya, musik dalam film horor harus mampu berdiri sebagai entitas mandiri yang bisa menceritakan penderitaan karakter utama bahkan sebelum penonton melihat visualnya di layar lebar.
Dalam sebuah keterangan tertulis yang diterima pada Kamis, 29 Januari 2026, Dewi Gita menjelaskan bahwa penulisan lirik dan melodi “Jalir Janji” dilakukan dengan keterlibatan emosional yang sangat intens. Judul “Jalir Janji” sendiri merujuk pada konsep pengkhianatan atau janji yang tidak ditepati, sebuah tema sentral yang menjadi pemicu tragedi dalam film Lastri: Arwah Kembang Desa. Dewi mengungkapkan bahwa lagu ini berbicara tentang rasa keterikatan yang tak kunjung usai, luka batin yang menganga, dan dendam yang lahir dari cinta yang dikhianati. Saat mendalami naskah, ia membayangkan kesunyian seorang Lastri di tengah desa yang asri namun menyimpan rahasia kelam. Hal inilah yang mendorongnya untuk menciptakan aransemen yang minimalis di beberapa bagian guna menonjolkan aspek kesunyian, namun meledak dengan nuansa etnis yang magis pada bagian klimaks, sehingga emosi Lastri dapat tersampaikan secara utuh kepada pendengar dan calon penonton filmnya nanti.
Pihak rumah produksi Abelle Pictures, melalui produser Joe Richard, memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap dedikasi Dewi Gita dalam proyek ini. Joe Richard menegaskan bahwa sejak tahap awal pengembangan film Lastri, tim produksi sudah bersepakat bahwa mereka membutuhkan sebuah soundtrack yang memiliki “nyawa”, bukan sekadar lagu indah yang dipaksakan masuk ke dalam film. Joe menilai bahwa Dewi Gita berhasil menangkap esensi dari setiap adegan yang ada dalam film tersebut dan menerjemahkannya ke dalam notasi musik yang menghantui. Kehadiran “Jalir Janji” dianggap sebagai elemen krusial yang memperkuat narasi film, memberikan dimensi sedih dan misteri yang lebih tebal. Menurut Joe, soundtrack ini adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan karakter Lastri, di mana musik berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan perasaan penonton dengan penderitaan yang dialami oleh sang kembang desa dalam cerita tersebut.
Sinergi Narasi Film dan Kekuatan Karakter Lastri: Arwah Kembang Desa
Senada dengan Joe Richard, Produser Eksekutif Audy Bella menyatakan kekagumannya saat pertama kali mendengarkan versi demo dari lagu tersebut. Menurut Audy, melodi yang diciptakan Dewi Gita secara instan membuat seluruh tim produksi merasakan kehadiran sosok Lastri di dalam ruangan. Lirik yang puitis namun lugas dianggap mampu mewakili perasaan karakter-karakter dalam film yang terjebak dalam pusaran cinta, kehilangan, dan janji-janji yang tak pernah terucap secara tuntas. Kekuatan “Jalir Janji” terletak pada kemampuannya untuk membangun dunia film Lastri bahkan sebelum film tersebut resmi dirilis. Abelle Pictures merasa bangga dapat menggandeng diva sekelas Dewi Gita untuk film perdana mereka, sebuah langkah berani yang menunjukkan komitmen rumah produksi ini dalam menghasilkan karya horor berkualitas tinggi yang tidak hanya mengandalkan teknik jump scare, tetapi juga kedalaman cerita dan estetika audio.


















