Tujuh Skenario Potensial Jika Amerika Serikat Melancarkan Serangan Militer Terhadap Iran
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, dengan Amerika Serikat dilaporkan siap melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam waktu dekat. Meskipun target serangan yang mungkin telah teridentifikasi, konsekuensi dari tindakan tersebut tetap menjadi subjek spekulasi yang intens. Jika tidak ada kesepakatan menit terakhir yang tercapai dan Presiden Donald Trump memutuskan untuk memerintahkan pasukan AS menyerang, berbagai skenario potensial dapat terungkap, mulai dari intervensi yang presisi hingga kekacauan regional yang meluas. Artikel ini akan mengupas secara mendalam tujuh kemungkinan hasil dari konfrontasi militer antara dua kekuatan besar tersebut, menyoroti kompleksitas dan implikasi global yang mungkin timbul.
Analisis mendalam terhadap kemungkinan skenario ini sangat krusial mengingat sejarah intervensi militer Barat di negara lain. Pengalaman di Irak dan Libya, misalnya, menunjukkan bahwa meskipun tujuan awal mungkin untuk mengakhiri kediktatoran brutal, transisi menuju demokrasi seringkali diwarnai oleh kekacauan dan pertumpahan darah yang berkepanjangan. Kasus Suriah, yang berhasil menggulingkan Presiden Bashar Al-Assad melalui revolusi internal tanpa dukungan militer Barat, menawarkan perspektif berbeda mengenai jalur menuju perubahan politik. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif tentang berbagai kemungkinan hasil serangan AS terhadap Iran menjadi penting untuk memprediksi dinamika regional dan global di masa depan.

1. Serangan Terarah dan Presisi: Harapan Optimistis Menuju Demokrasi
Skenario paling optimis membayangkan serangan militer Amerika Serikat yang bersifat terbatas dan sangat presisi. Dalam skenario ini, Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS akan menargetkan secara spesifik pangkalan-pangkalan militer Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) beserta unit Basij yang berada di bawah kendalinya, lokasi peluncuran rudal balistik, serta fasilitas penyimpanan senjata nuklir dan rudal balistik Iran. Tujuannya adalah untuk melumpuhkan kemampuan militer strategis Iran tanpa menimbulkan korban sipil yang signifikan dan memicu keruntuhan rezim yang ada.
Jika serangan ini berhasil melemahkan rezim yang sudah ada, langkah selanjutnya yang diharapkan adalah transisi menuju demokrasi yang sejati. Dalam visi ini, Iran akan mampu bergabung kembali dengan komunitas internasional, melepaskan diri dari isolasi dan kebijakan luar negeri yang konfrontatif. Namun, perlu digarisbawahi bahwa skenario ini sangat bergantung pada asumsi yang ideal. Sejarah intervensi militer Barat di Irak dan Libya menunjukkan bahwa transisi menuju demokrasi pasca-konflik seringkali tidak berjalan mulus. Kedua negara tersebut mengalami periode kekacauan dan pertumpahan darah yang berkepanjangan meskipun rezim diktator berhasil digulingkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai stabilitas jangka panjang dan keberlanjutan demokrasi di Iran jika skenario ini terwujud.
2. Rezim Bertahan dengan Kebijakan Moderat: Model Venezuela yang Diragukan
Skenario kedua, yang juga dianggap berada di ujung skala kemungkinan yang lebih kecil, adalah bahwa rezim Iran akan bertahan pasca-serangan AS, namun dipaksa untuk memoderasi kebijakan luar negerinya. Model ini seringkali disamakan dengan “model Venezuela”, di mana tindakan militer yang cepat dan kuat oleh AS membuat rezim tetap utuh, tetapi dengan tekanan yang signifikan untuk mengubah arah kebijakannya. Dalam konteks Iran, ini berarti Republik Islam akan terus eksis, sebuah hasil yang mungkin tidak memuaskan sebagian besar warga Iran yang menginginkan perubahan fundamental.
Namun, dalam skenario ini, rezim Iran akan berada di bawah tekanan kuat untuk mengurangi dukungannya terhadap milisi-milisi yang dianggap sebagai aktor kekerasan di seluruh Timur Tengah. Selain itu, Iran juga diharapkan untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi program nuklir dan rudal balistik domestiknya. Upaya penindasan terhadap protes internal juga diharapkan akan dilonggarkan. Meskipun demikian, para analis meragukan kemungkinan ini, mengingat rekam jejak kepemimpinan Republik Islam yang telah terbukti menentang perubahan selama 47 tahun. Kekhawatiran muncul bahwa rezim yang telah lama berkuasa dan memiliki kepentingan kuat dalam status quo akan sulit untuk mengubah arah kebijakan secara drastis, bahkan di bawah tekanan eksternal yang besar.
3. Keruntuhan Rezim dan Penggantian oleh Pemerintahan Militer
Banyak pengamat percaya bahwa keruntuhan rezim Iran dan penggantian oleh pemerintahan militer adalah salah satu hasil yang paling mungkin terjadi jika serangan AS dilancarkan. Meskipun rezim tersebut jelas tidak populer di kalangan sebagian besar penduduk Iran, terdapat kekuatan keamanan yang besar dan terorganisir, seperti IRGC dan unit Basij, yang memiliki kepentingan pribadi dalam mempertahankan status quo. Selama bertahun-tahun, protes internal telah berulang kali terjadi, namun selalu berhasil diredam dengan kekuatan dan kebrutalan yang tidak terbatas oleh aparat keamanan.
Salah satu alasan utama mengapa protes sejauh ini gagal menggulingkan rezim adalah minimnya pembelotan dari pihak militer atau keamanan. Dalam situasi kekacauan pasca-serangan AS, dapat dibayangkan bahwa kekosongan kekuasaan yang timbul akan diisi oleh kekuatan militer yang kuat. Pemerintahan militer yang didominasi oleh tokoh-tokoh IRGC mungkin akan muncul sebagai entitas yang mampu menegakkan kembali ketertiban, meskipun dengan cara yang otoriter. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan berlanjutnya penindasan dan kurangnya kemajuan menuju sistem politik yang lebih representatif.

4. Pembalasan Iran: Serangan Terhadap Pasukan AS dan Negara Tetangga
Iran telah berulang kali bersumpah untuk membalas setiap serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat, dengan pernyataan bahwa “jarinya berada di pelatuk”. Meskipun Iran tidak dapat menandingi kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS secara konvensional, mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan yang signifikan. Persenjataan rudal balistik dan drone mereka, yang banyak di antaranya disembunyikan di gua-gua, bawah tanah, atau di lereng gunung terpencil, dapat menjadi ancaman serius.
Target potensial untuk serangan balasan Iran meliputi pangkalan-pangkalan dan fasilitas AS yang tersebar di sepanjang sisi Arab Teluk, terutama di Bahrain dan Qatar. Selain itu, Iran juga dapat memilih untuk menargetkan infrastruktur penting dari negara-negara yang dianggap terlibat dalam serangan AS, seperti Yordania atau Israel. Serangan rudal dan drone yang menghancurkan fasilitas petrokimia Saudi Aramco pada tahun 2019, yang dikaitkan dengan milisi yang didukung Iran di Irak, memberikan gambaran nyata tentang kerentanan Arab Saudi terhadap rudal Iran. Negara-negara tetangga Iran di Teluk Arab, yang merupakan sekutu AS, akan berada dalam posisi yang sangat rentan, karena tindakan militer AS apa pun berpotensi memicu serangan balasan yang mengarah pada mereka.
5. Iran Membalas dengan Ranjau Laut di Teluk Persia
Ancaman pemasangan ranjau laut di Teluk Persia telah menjadi potensi yang mengkhawatirkan bagi pelayaran global dan pasokan minyak sejak perang Iran-Irak pada tahun 1980-1988. Saat itu, Iran memang diketahui memasang ranjau di jalur pelayaran, yang kemudian dibersihkan oleh kapal penyapu ranjau Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Selat Hormuz yang sempit, yang memisahkan Iran dan Oman, merupakan titik krusial dalam jalur pelayaran global. Sekitar 20 persen ekspor Gas Alam Cair (LNG) dunia dan antara 20-25 persen minyak serta produk sampingannya melewati selat ini setiap tahunnya.
Iran telah melakukan latihan dalam penyebaran ranjau laut dengan cepat, menunjukkan kesiapan mereka untuk menggunakan taktik ini sebagai respons terhadap serangan. Jika Iran benar-benar melakukan pemasangan ranjau laut, hal ini pasti akan berdampak besar pada perdagangan dunia dan memicu lonjakan harga minyak global. Gangguan terhadap pasokan energi dapat memiliki konsekuensi ekonomi yang luas, mempengaruhi negara-negara di seluruh dunia yang bergantung pada impor minyak dan gas.
6. Pembalasan Iran: Menenggelamkan Kapal Perang AS
Salah satu ancaman yang paling dikhawatirkan oleh personel Angkatan Laut AS yang bertugas di Teluk adalah “serangan serbu” oleh Iran. Ini adalah taktik di mana Iran meluncurkan sejumlah besar drone berdaya ledak tinggi dan kapal torpedo cepat ke satu atau beberapa target. Tujuannya adalah untuk membanjiri sistem pertahanan jarak dekat Angkatan Laut AS, bahkan yang paling canggih sekalipun, sehingga tidak mampu melenyapkan semua ancaman tepat waktu. Angkatan Laut IRGC, yang telah menggantikan Angkatan Laut Iran konvensional di Teluk, telah lama memfokuskan pelatihan mereka pada peperangan non-konvensional atau “asimetris” untuk mengatasi keunggulan teknis musuh utama mereka, Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Penenggelaman kapal perang AS, ditambah dengan kemungkinan penangkapan para awak yang selamat, akan menjadi penghinaan besar bagi Amerika Serikat. Meskipun skenario ini dianggap tidak mungkin terjadi, sejarah mencatat insiden serupa. Kapal perusak USS Cole yang bernilai miliaran dolar lumpuh akibat serangan bunuh diri Al-Qaeda di pelabuhan Aden pada tahun 2000, menewaskan 17 pelaut AS. Sebelumnya, pada tahun 1987, seorang pilot jet Irak secara keliru menembakkan dua rudal Exocet ke kapal perang AS, USS Stark, menewaskan 37 pelaut. Insiden-insiden ini menunjukkan bahwa bahkan kekuatan militer yang superior pun dapat menjadi sasaran serangan yang merusak.

7. Keruntuhan Rezim dan Kekacauan Regional
Skenario yang paling mengkhawatirkan bagi negara-negara tetangga Iran, seperti Qatar dan Arab Saudi, adalah keruntuhan rezim yang diikuti oleh kekacauan. Selain kemungkinan perang saudara yang mirip dengan yang terjadi di Suriah, Yaman, dan Libya, ada juga risiko bahwa ketegangan etnis dapat meningkat menjadi konflik bersenjata. Kelompok minoritas seperti Kurdi dan Baluchi mungkin berupaya melindungi komunitas mereka sendiri di tengah kekosongan kekuasaan nasional. Hal ini dapat memicu gelombang ketidakstabilan yang meluas di seluruh kawasan Timur Tengah.
Meskipun banyak pihak, termasuk Israel, mungkin akan senang melihat Republik Islam Iran berakhir karena kekhawatiran terhadap program nuklirnya, tidak ada yang menginginkan negara terbesar di Timur Tengah berdasarkan populasi—sekitar 93 juta jiwa—terjerumus ke dalam kekacauan. Kekacauan semacam itu dapat memicu krisis kemanusiaan dan pengungsi yang masif, yang dampaknya akan terasa jauh melampaui batas-batas Iran. Bahaya terbesar saat ini adalah bahwa Presiden Trump, setelah mengerahkan kekuatan militer yang besar di dekat perbatasan Iran, merasa tertekan untuk bertindak demi menjaga kredibilitasnya. Hal ini dapat memicu perang yang tidak memiliki akhir yang jelas dan dengan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi serta berpotensi merusak bagi stabilitas global.

















