Sebuah babak baru dalam kehidupan pribadi selebritas Tanah Air, penyanyi Denada Tambunan, telah terkuak, menguak polemik identitas dan dugaan penelantaran anak yang melibatkan seorang pemuda bernama Ressa Rizky Rossano. Setelah berbulan-bulan menjadi sorotan publik dan memicu spekulasi, pihak Denada akhirnya secara resmi mengonfirmasi bahwa Ressa memang merupakan putranya, sekaligus membantah keras tudingan penelantaran yang berujung pada gugatan ganti rugi fantastis sebesar Rp7 miliar. Konfirmasi ini disampaikan oleh kuasa hukum Denada, Muhammad Iqbal, yang menegaskan bahwa kliennya tidak hanya mengakui status Ressa, tetapi juga telah lama menjalankan tanggung jawab penuh, termasuk pembiayaan dan pendidikan, sebuah fakta yang bertolak belakang dengan narasi publik yang dibangun Ressa.
Polemik mengenai identitas Ressa Rizky Rossano, yang sempat membuat pengakuan mengejutkan di hadapan publik sebagai anak dari penyanyi Denada, kini mulai menemukan titik terang yang sangat dinantikan. Perbincangan hangat di berbagai platform media sosial dan media massa telah mencapai puncaknya dengan adanya konfirmasi resmi dari pihak Denada. Konfirmasi ini tidak hanya meredakan spekulasi, tetapi juga membuka tabir mengenai kompleksitas hubungan keluarga yang selama ini tersembunyi dari mata publik.
Kepastian mengenai status Ressa sebagai putra Denada disampaikan secara langsung oleh Muhammad Iqbal, kuasa hukum yang mewakili Denada Tambunan. Dalam sebuah keterangan pers yang diberikan kepada sejumlah awak media melalui pertemuan virtual pada Kamis, 29 Januari 2026, Iqbal dengan tegas menyatakan bahwa kliennya tidak hanya mengakui Ressa sebagai anak kandung, melainkan juga telah memberikan dukungan konkret dan berkelanjutan selama bertahun-tahun. Pernyataan ini menjadi fondasi utama dalam narasi Denada untuk membantah segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Menurut penuturan Muhammad Iqbal, Denada telah lama memikul tanggung jawab penuh terhadap Ressa. Dukungan tersebut tidak hanya bersifat moril, tetapi juga material, mencakup pembiayaan kebutuhan sehari-hari, penyediaan fasilitas yang memadai, hingga jaminan pendidikan. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang Denada sebagai seorang ibu, yang menurut pihak kuasa hukum, telah dijalankan jauh sebelum polemik ini mencuat ke permukaan publik. Detail mengenai jenis pembiayaan dan fasilitas yang diberikan, meskipun tidak dirinci secara spesifik, mengindikasikan adanya upaya Denada untuk memenuhi hak-hak dasar Ressa sebagai seorang anak.
Dengan demikian, pengakuan Denada terhadap Ressa bukanlah sekadar pernyataan lisan yang muncul di tengah tekanan publik, melainkan sebuah penegasan atas tanggung jawab yang telah dibuktikan melalui tindakan nyata. Iqbal menekankan bahwa Denada tidak pernah sekalipun menolak atau menyangkal keberadaan Ressa sebagai darah dagingnya. Fakta inilah yang kemudian menimbulkan keheranan besar di pihak Denada ketika Ressa tiba-tiba muncul di salah satu siniar (podcast) dan menyampaikan narasi yang seolah-olah dirinya selama ini berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari sang ibu kandung.
Kemunculan Ressa di podcast milik Denny Sumargo menjadi momen yang sangat mengejutkan bagi Denada dan tim kuasa hukumnya. Menurut Muhammad Iqbal, pihak Denada merasa bahwa status Ressa sebagai anak sudah diakui dan dipahami secara internal, sehingga tuntutan pengakuan yang disampaikan secara terbuka di platform publik dinilai tidak mencerminkan situasi yang sebenarnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai motif di balik langkah Ressa untuk membawa masalah keluarga ini ke ranah publik, apalagi dengan narasi yang kontras dengan penjelasan pihak Denada.
Denada Klarifikasi dan Gugatan Fantastis
Lebih jauh, polemik ini tidak hanya berkutat pada persoalan pengakuan semata. Pihak Denada juga mengungkapkan adanya gugatan hukum yang diajukan oleh Ressa Rizky Rossano dengan nilai ganti rugi yang terbilang fantastis. Dalam proses mediasi yang telah berjalan, Ressa disebutkan tetap bersikukuh meminta kompensasi finansial sebesar Rp7 miliar. Angka ini sontak menjadi sorotan, mengingat besarnya jumlah yang diminta dan konteks hubungan ibu-anak yang sedang diperdebatkan.

















