Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi telah mengambil langkah monumental yang diprediksi akan mengubah peta ekonomi global dengan menunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) berikutnya, sebuah keputusan strategis yang mengakhiri spekulasi berbulan-bulan mengenai masa depan kepemimpinan moneter di Washington. Penunjukan yang diumumkan pada Jumat, 30 Januari 2026 ini, menandai pergeseran signifikan dalam arah kebijakan finansial Amerika Serikat, di mana Trump memilih sosok yang dianggap mampu menyelaraskan visi pertumbuhan ekonomi Gedung Putih dengan instrumen kebijakan suku bunga. Langkah ini diambil tepat saat pasar finansial global tengah menanti kepastian pasca-keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga dana federal pada level 3,50 persen, sebuah angka yang telah menjadi titik pusat perdebatan politik dan ekonomi antara otoritas eksekutif dan bank sentral selama masa kepemimpinan Jerome Powell.
Keputusan Trump untuk menominasikan Kevin Warsh bukan sekadar pergantian personel rutin, melainkan sebuah pernyataan politik yang kuat terhadap independensi bank sentral yang selama ini dianggap terlalu kaku oleh sang Presiden. Mengutip laporan mendalam dari Bloomberg, Warsh dijadwalkan akan mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan dari Jerome Powell segera setelah masa jabatan Powell berakhir pada Mei mendatang. Penunjukan ini menutup proses panjang yang penuh dengan tekanan politik dan ketidakpastian pasar, di mana Trump secara terbuka mencari sosok yang tidak hanya memiliki kredibilitas di Wall Street, tetapi juga memiliki keberanian untuk melakukan perombakan struktural di tubuh The Fed. Kevin Warsh, yang kini berusia 55 tahun, bukanlah orang asing di lingkaran kekuasaan; ia sebelumnya pernah menjabat sebagai penasihat kebijakan ekonomi utama bagi Trump dan memiliki rekam jejak sebagai mantan gubernur The Fed yang memahami seluk-beluk birokrasi moneter dari dalam.
Kembalinya Warsh ke posisi puncak di Eccles Building dipandang sebagai sebuah “penebusan” profesional. Pada tahun 2017, Warsh sempat menjadi kandidat kuat untuk posisi yang sama, namun saat itu Trump lebih memilih Jerome Powell, sebuah keputusan yang belakangan sering disesali oleh Trump seiring dengan memanasnya hubungan antara Gedung Putih dan The Fed terkait kebijakan pengetatan moneter. Warsh dikenal sebagai kritikus vokal terhadap arah kebijakan The Fed dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sempat menyerukan perlunya reformasi besar-besaran terhadap cara bank sentral memandang inflasi dan mengelola neraca keuangannya yang membengkak. Dengan nominasi ini, Warsh kini memiliki kesempatan langka untuk mengimplementasikan visi “perombakan besar” yang selama ini ia suarakan, meskipun ia harus terlebih dahulu melewati proses konfirmasi di Senat yang diperkirakan akan berlangsung sengit mengingat kekhawatiran para ekonom mengenai potensi erosi independensi bank sentral di bawah tekanan politik langsung.
Dalam pernyataannya yang diunggah melalui platform Truth Social, Donald Trump memberikan pujian setinggi langit kepada Warsh, menyebutnya sebagai sosok yang “pas dengan peran sentral” dan memiliki kapasitas untuk menjadi Ketua The Fed terbaik dalam sejarah Amerika Serikat. Trump menekankan bahwa Warsh adalah figur yang memiliki pemahaman mendalam tentang pasar tanpa harus kehilangan integritas pribadinya. Menariknya, meskipun Trump secara konsisten mendesak penurunan suku bunga untuk memacu pertumbuhan ekonomi, ia menegaskan dalam sebuah wawancara bahwa dirinya tidak meminta komitmen formal atau janji khusus dari Warsh terkait pemangkasan suku bunga di masa depan. Trump menyatakan bahwa menanyakan hal tersebut secara langsung dianggap tidak pantas, meskipun ia mengakui telah mendiskusikan pandangan ekonomi secara luas dengan Warsh, yang secara terbuka telah menyuarakan dukungan terhadap pelonggaran kebijakan moneter demi meringankan beban biaya kredit bagi masyarakat umum.
Profil dan Rekam Jejak Kevin Warsh: Dari Wall Street ke Puncak Kebijakan Moneter
Lahir di Albany, New York, pada 13 April 1970, Kevin Warsh tumbuh dalam lingkungan keluarga Yahudi yang menjunjung tinggi pendidikan, sebagai anak ketiga dari pasangan Robert dan Judith Warsh. Perjalanan akademisnya sangat impresif, dimulai dari Shaker High School hingga meraih gelar sarjana dalam bidang kebijakan publik dari Stanford University pada tahun 1992 dengan fokus khusus pada ekonomi dan ilmu politik. Tidak berhenti di situ, ia melanjutkan studi hukum di Harvard Law School, salah satu institusi hukum paling bergengsi di dunia, dan lulus dengan predikat cum laude pada tahun 1995. Pendidikan formalnya yang kuat kemudian diperkaya dengan berbagai kursus spesialisasi mengenai mekanisme pasar modal dan obligasi di MIT Sloan School of Management serta Harvard Business School, memberikan Warsh landasan teoritis dan praktis yang sangat kuat untuk menavigasi kompleksitas sistem keuangan global.
Karier profesional Warsh dimulai di jantung keuangan dunia, Morgan Stanley di New York, pada tahun 1995. Selama tujuh tahun di sana, ia menunjukkan bakat luar biasa dalam meniti hierarki perusahaan hingga mencapai posisi direktur eksekutif di Departemen Merger dan Akuisisi (M&A). Pengalaman di sektor privat ini menjadi modal berharga ketika ia dipanggil untuk mengabdi di sektor publik. Pada periode 2002 hingga 2006, Warsh menjabat sebagai asisten khusus presiden untuk kebijakan ekonomi sekaligus sekretaris eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (NEC) di bawah pemerintahan George W. Bush. Dalam peran strategis ini, ia menjadi jembatan utama antara Gedung Putih dengan lembaga pengawas keuangan independen, serta memberikan masukan krusial terkait isu perbankan, surat berharga, dan stabilitas pasar finansial Amerika Serikat.
Transformasi Paradigma Moneter: Antara Inflasi dan Pertumbuhan
Salah satu aspek paling menarik dari profil Kevin Warsh adalah evolusi pandangan ekonominya yang sering kali dianggap “hawkish” namun kini cenderung “dovish”. Saat menjabat sebagai gubernur The Fed termuda dalam sejarah pada periode 2006-2011, Warsh dikenal sebagai sosok yang sangat waspada terhadap risiko inflasi. Bahkan di tengah badai krisis keuangan global 2008, ia tetap menyuarakan pentingnya menjaga stabilitas harga dan sering kali mendorong kenaikan suku bunga untuk mencegah gelembung ekonomi lebih lanjut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sikapnya mengalami pergeseran yang cukup drastis. Penampilannya di Fox News baru-baru ini menunjukkan kritik tajam terhadap kebijakan The Fed saat ini, di mana ia berargumen bahwa bank sentral memiliki kebijakan yang “benar-benar salah” dengan mempertahankan neraca keuangan yang terlalu besar dan suku bunga yang dianggap terlalu tinggi bagi kondisi ekonomi saat ini.
| Periode | Posisi/Jabatan | Institusi/Lembaga |
|---|---|---|
| 1995 – 2002 | Direktur Eksekutif (M&A) | Morgan Stanley |
| 2002 – 2006 | Asisten Khusus Presiden | Dewan Ekonomi Nasional (NEC) |
| 2006 – 2011 | Gubernur Federal Reserve | The Federal Reserve |
| 2011 – 2025 | Distinguished Visiting Fellow | Hoover Institution, Stanford |
| 2026 (Nominasi) | Ketua Federal Reserve | The Federal Reserve |
Warsh kini mengusung agenda besar yang ia sebut sebagai upaya “mengembalikan arah” The Fed yang dianggapnya telah kehilangan orientasi. Agenda tersebut mencakup beberapa poin krusial yang diprediksi akan menjadi fokus utamanya jika berhasil menjabat, antara lain:
- Pengecilan Neraca Keuangan: Mengurangi kepemilikan aset The Fed secara agresif untuk kembali ke fungsi dasar bank sentral.
- Pemangkasan Suku Bunga Strategis: Menurunkan biaya pinjaman guna memberikan stimulus langsung bagi sektor riil dan masyarakat umum.
- Reformasi Struktural Kepegawaian: Meninjau ulang komposisi dan birokrasi internal The Fed agar lebih responsif terhadap dinamika pasar.
- Redefinisi Target Inflasi: Mengevaluasi kembali cara bank sentral mengukur dan merespons tekanan inflasi di era ekonomi digital.
Meskipun penunjukan ini membawa harapan akan kebijakan yang lebih pro-pertumbuhan, tantangan besar menanti Warsh di Capitol Hill. Para kritikus mengkhawatirkan bahwa kedekatan Warsh dengan Trump dapat mengikis kepercayaan pasar terhadap objektivitas The Fed. Namun, para pendukungnya berargumen bahwa pengalaman luas Warsh di pasar modal dan pemerintahan justru merupakan kombinasi langka yang dibutuhkan untuk menavigasi ekonomi Amerika Serikat keluar dari ketidakpastian pasca-pandemi dan tekanan fiskal yang meningkat. Dengan kredibilitas pasar yang dimilikinya, Warsh diharapkan mampu menenangkan gejolak pasar obligasi sembari menjalankan mandat politik yang dipercayakan oleh Presiden Trump untuk membentuk ulang masa depan moneter Amerika Serikat.

















