JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk meningkatkan asupan nutrisi siswa sekolah, justru berujung petaka di dua wilayah berbeda, Palembang dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan. Ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan akut seperti mual, muntah, pusing, dan sakit perut hebat setelah mengonsumsi makanan yang disalurkan melalui program ini. Insiden di SMP Negeri 31 Palembang menyoroti temuan mengejutkan berupa roti kedaluwarsa yang diduga menjadi pemicu utama, sementara di SD Negeri 1 Pulau Negara, OKU Timur, puluhan siswa mengalami sakit perut parah akibat menyantap hidangan mie ayam yang terindikasi basi. Peristiwa ini telah memicu investigasi mendalam oleh pihak kepolisian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sekaligus menimbulkan kekhawatiran serius mengenai pengawasan mutu pangan dalam pelaksanaan program nasional yang vital ini.
Dugaan Keracunan Roti Kedaluwarsa di SMP Negeri 31 Palembang
Pada Jumat pagi, 30 Januari 2026, suasana ceria di SMP Negeri 31 Palembang, yang berlokasi di Jalan Pajajaran, Kelurahan Tuan Kentang, mendadak berubah menjadi kepanikan. Sekitar pukul 09.30 WIB, saat bantuan makanan dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di kawasan Jakabaring didistribusikan ke sekolah, para siswa dengan antusias menyantap paket roti dan susu yang diberikan. Namun, euforia tersebut hanya bertahan sejenak. Dalam kurun waktu kurang dari 15 menit, sejumlah siswa mulai mengeluhkan rasa tidak nyaman di perut, mual, hingga pusing yang hebat. Kondisi ini dengan cepat menyebar, mengubah suasana kelas menjadi kepanikan yang meluas.
Salah satu siswa yang mengalami dampak paling signifikan adalah Yoga Pratama, 13 tahun, siswa kelas 8. Ibundanya, Neti Herwati, menceritakan momen menegangkan ketika anaknya mulai merasakan keanehan pada gigitan kedua roti yang dikonsumsinya. “Anak saya bilang, satu kali telan masih biasa. Tapi saat kunyahan kedua, tenggorokannya mendadak tidak enak. Dia langsung mual, pusing, dan muntah-muntah,” ungkap Neti dengan nada cemas, menggambarkan betapa cepatnya gejala keracunan itu menyerang.
Melihat kondisi siswa yang kian melemah, pihak sekolah segera mengambil tindakan penanganan awal dengan memberikan susu steril. Namun, upaya tersebut belum menunjukkan perbaikan signifikan pada kondisi Yoga. Khawatir akan keselamatan anaknya, Neti memutuskan untuk membawa Yoga ke Puskesmas OPI Jakabaring untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Tidak hanya Yoga, tiga siswa lainnya, yakni Naurazin (13), Randi (13), dan Bagus Alkarnu (16), juga menunjukkan gejala serupa. Salah satu dari mereka bahkan terpaksa dibawa pulang oleh orang tuanya karena kekhawatiran yang mendalam terhadap kondisi kesehatannya.
Pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak sekolah terhadap sisa paket makanan yang belum dikonsumsi mengungkap fakta yang mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan. Ditemukan beberapa bungkus roti yang ternyata telah melewati tanggal kedaluwarsa. Penemuan ini seketika mengarahkan kecurigaan pada roti tersebut sebagai biang keladi keracunan massal yang menimpa para siswa. Menindaklanjuti laporan tersebut, aparat kepolisian dari Polsek Seberang Ulu I dan Polrestabes Palembang bergerak cepat ke lokasi kejadian. Kapolsek SU I, Kompol Heri, memastikan bahwa seluruh barang bukti berupa sampel roti dan susu telah diamankan untuk proses penyelidikan lebih lanjut. “Seluruh barang bukti sudah kami serahkan ke BPOM Palembang untuk dilakukan uji laboratorium secara mendalam guna mengetahui kandungan zat di dalamnya,” tegas Kompol Heri didampingi Ipda Adityan Ammar, menggarisbawahi keseriusan penanganan kasus ini. Hingga berita ini diturunkan, satu siswa masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas OPI Jakabaring, sementara pihak sekolah masih enggan memberikan keterangan resmi. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para penyedia jasa makanan terkait standar keamanan pangan bagi pelajar.
Puluhan Siswa SD di OKU Timur Dilarikan ke RS Akibat Mie Ayam Basi
Dalam waktu yang hampir bersamaan, kabar serupa datang dari SD Negeri 1 Pulau Negara, Kecamatan Buay Pemuka Peliung, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah ini juga berubah menjadi insiden kesehatan yang mengkhawatirkan. Puluhan siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan massal setelah menyantap hidangan mie ayam yang dibagikan pada Jumat, 30 Januari 2026. Gejala keracunan mulai terlihat segera setelah jam makan siang usai. Setidaknya lima siswa kelas II mengalami muntah-muntah hebat, sementara puluhan siswa lainnya mengerang kesakitan sambil memegangi perut mereka, menunjukkan tingkat keparahan yang mengkhawatirkan.
Linda, salah satu guru di SD Negeri Pulau Negara, membenarkan kejadian tersebut dan menjelaskan bahwa gejala keracunan muncul hampir bersamaan di antara para siswa tidak lama setelah mereka menghabiskan porsi mie ayam yang disajikan. “Setelah makan mie ayam, anak-anak mulai mengeluh sakit perut, bahkan ada yang langsung muntah di tempat,” ujar Linda saat dikonfirmasi pada Jumat sore, menggambarkan kepanikan yang melanda sekolah. Menyadari situasi yang semakin memburuk dan berpotensi menimpa lebih banyak siswa, pihak sekolah segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan distribusi sisa makanan. Upaya penanganan darurat dilakukan secara mandiri di sekolah sebelum akhirnya sembilan siswa yang menunjukkan gejala paling parah segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Martapura untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Kualitas makanan yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Negeri Agung Mak Nyus menjadi sorotan utama dalam insiden ini. Indikasi awal masalah muncul ketika kemasan mie ayam dibuka, tercium aroma tidak sedap yang kuat, menyerupai bau makanan basi. “Saat kemasan dibuka, tercium bau menyengat seperti makanan basi. Diduga kuat mie ayam tersebut memang sudah tidak layak konsumsi,” tambah Linda, memperkuat dugaan bahwa kualitas bahan pangan menjadi akar permasalahan. Program MBG di sekolah ini sendiri telah berjalan selama tiga minggu, dengan total sasaran mencapai 140 siswa. Meskipun sempat memicu kepanikan, kondisi sembilan siswa yang dirawat di RSUD Martapura dilaporkan mulai menunjukkan perbaikan dan stabil setelah mendapatkan penanganan medis yang memadai. Di sisi lain, Kepala SPPG Negeri Agung, Windah, memberikan pembelaan dengan menegaskan bahwa seluruh proses penyaluran makanan telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang ketat. “Setiap makanan yang kami salurkan sudah sesuai SOP. Kami juga menyimpan sampel makanan di dapur untuk keperluan pengecekan lebih lanjut,” pungkasnya singkat. Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan mutu pangan yang ketat dalam pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis di berbagai wilayah.
Investigasi Polisi dan BPOM, Sorotan Pengawasan Mutu Pangan
Menyikapi dua insiden keracunan massal yang melibatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Palembang dan OKU Timur, pihak berwenang segera mengambil langkah investigasi. Kepolisian dari Polsek Seberang Ulu I dan Polrestabes Palembang telah bergerak cepat di SMP Negeri 31 Palembang, mengamankan sampel roti dan susu yang diduga menjadi penyebab keracunan. Sampel-sampel tersebut kemudian diserahkan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palembang untuk dilakukan uji laboratorium secara mendalam. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kandungan zat yang mungkin berbahaya bagi kesehatan siswa dan memastikan apakah ada unsur yang tidak layak konsumsi atau bahkan berbahaya.
Di OKU Timur, meskipun tidak secara eksplisit disebutkan keterlibatan polisi dalam laporan awal, dugaan kuat terhadap kualitas mie ayam yang basi juga memerlukan penelusuran lebih lanjut. Pihak BPOM diharapkan akan melakukan pemeriksaan serupa terhadap sampel makanan yang disalurkan oleh SPPG Negeri Agung Mak Nyus. Kasus-kasus ini secara kolektif menimbulkan sorotan tajam terhadap sistem pengawasan mutu pangan yang diterapkan dalam pelaksanaan program MBG. Program yang seharusnya menjadi solusi untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah ini justru berpotensi menjadi ancaman kesehatan jika rantai pasok dan kualitas bahan pangan tidak dikelola dengan standar tertinggi. Keterlibatan BPOM dan kepolisian dalam investigasi ini diharapkan dapat mengungkap akar permasalahan, baik itu kelalaian dalam proses produksi, distribusi, maupun pengawasan, serta memberikan sanksi tegas kepada pihak yang bertanggung jawab. Selain itu, temuan ini juga akan menjadi evaluasi krusial untuk perbaikan dan penguatan mekanisme pengawasan program MBG di masa mendatang, demi menjamin keamanan dan kesehatan para siswa penerima manfaat.

















