Indonesia secara resmi telah memperkokoh posisinya sebagai pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau global melalui kesepakatan strategis berskala masif yang bertujuan membangun ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi dari hulu ke hilir. Pada Jumat, 30 Januari 2026, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Aneka Tambang Tbk (Antam) bersama PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) secara resmi menandatangani kerangka kerja sama (framework agreement) dengan HYD Investment Limited, sebuah konsorsium raksasa yang dipimpin oleh Zhejiang Huayou Cobalt Co., EVE Energy Co., Ltd., dan PT Daaz Bara Lestari Tbk. Proyek ambisius yang dikenal sebagai “Proyek Titan” ini diproyeksikan menelan nilai investasi fantastis mencapai US$6 miliar atau setara dengan kurang lebih Rp94 triliun hingga Rp133 triliun, yang diharapkan menjadi katalisator utama dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Penandatanganan kerja sama yang berlangsung di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini disaksikan langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, serta jajaran direksi BUMN terkait. Langkah ini merupakan kulminasi dari proses negosiasi yang sangat panjang dan kompleks, yang telah dimulai sejak Bahlil Lahadalia masih menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Transformasi kebijakan ini menunjukkan konsistensi pemerintah Indonesia dalam mendorong realisasi hilirisasi mineral mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Bahlil menegaskan bahwa pembangunan ekosistem baterai mobil yang terintegrasi bukan sekadar proyek industri biasa, melainkan sebuah lompatan besar untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam revolusi kendaraan listrik dunia, tetapi menjadi pusat produksi utama yang mandiri dan berdaya saing global.
Restrukturisasi Konsorsium dan Skala Investasi Global dalam Proyek Titan
Salah satu poin krusial dalam perkembangan terbaru ini adalah perubahan komposisi mitra strategis dalam Proyek Titan. Sebelumnya, proyek hilirisasi baterai terintegrasi ini sempat dikaitkan dengan LG Energy Solution (LGES), namun setelah dinamika bisnis yang panjang, konsorsium HYD yang dipimpin oleh Huayou Cobalt resmi mengambil alih peran tersebut. Masuknya Huayou Cobalt dan EVE Energy membawa angin segar bagi industri baterai nasional, mengingat reputasi global mereka dalam pengolahan nikel dan manufaktur sel baterai. Kerja sama ini dirancang untuk mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari penambangan bijih nikel, pembangunan fasilitas pemurnian (smelter) dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), hingga produksi material aktif katoda dan sel baterai. Dengan target kapasitas produksi mencapai 20 Gigawatt hour (GWh), proyek ini akan menempatkan Indonesia dalam peta produsen baterai elit dunia.
Investasi senilai US$6 miliar ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga diproyeksikan akan memberikan dampak sosial-ekonomi yang signifikan bagi masyarakat luas. Pemerintah memperkirakan bahwa operasional penuh dari ekosistem baterai ini akan mampu menyerap sedikitnya 10.000 tenaga kerja terampil secara langsung. Penyerapan tenaga kerja ini diharapkan dapat menciptakan multiplier effect di wilayah-wilayah operasional, terutama di Halmahera Timur, Maluku Utara, yang menjadi pusat penambangan dan fasilitas hilirisasi, serta di wilayah Jawa Barat yang diproyeksikan menjadi pusat manufaktur komponen lanjutan. Kehadiran konsorsium HYD juga diharapkan membawa standar manajemen industri kelas dunia dan efisiensi produksi yang akan memperkuat daya tawar produk baterai “Made in Indonesia” di pasar internasional.
Kedaulatan Energi dan Implementasi Pasal 33 UUD 1945
Dalam kerangka kerja sama ini, Pemerintah Indonesia melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan penekanan khusus pada aspek kedaulatan negara. Sesuai dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, kekayaan alam harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, kepemilikan mayoritas dalam proyek strategis ini direncanakan akan berada di tangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Struktur kepemilikan ini menjadi jaminan bahwa kendali atas sumber daya strategis tetap berada di bawah entitas nasional, meskipun Indonesia tetap membuka pintu lebar-lebar bagi mitra asing untuk melakukan transfer teknologi dan penguasaan pasar global. Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan yang sangat jelas bahwa pengelolaan sumber daya alam harus memprioritaskan kepentingan nasional di atas segalanya.
Meskipun mengedepankan kedaulatan, Bahlil mengakui secara terbuka bahwa Indonesia masih memerlukan kolaborasi dengan pemain global seperti Huayou dan EVE Energy untuk menutup celah kompetensi, terutama dalam hal teknologi manufaktur sel baterai yang sangat canggih. Transfer teknologi menjadi salah satu klausul penting dalam perjanjian ini, di mana perusahaan nasional diharapkan dapat menyerap ilmu pengetahuan dan manajemen industri dari mitra Cina tersebut. Hal ini krusial agar di masa depan, Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi impor, tetapi mampu melakukan inovasi mandiri. Kerja sama ini dipandang sebagai model investasi yang saling menguntungkan (win-win solution), di mana investor mendapatkan akses ke cadangan nikel terbesar di dunia, sementara Indonesia mendapatkan modal, teknologi, dan akses ke rantai pasok global.
Ekspansi Pemanfaatan Baterai untuk Energi Baru Terbarukan (EBT)
Visi pembangunan industri baterai ini ternyata melampaui sektor otomotif semata. Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa baterai yang diproduksi nantinya juga akan dioptimalkan untuk mendukung program transisi energi nasional, khususnya dalam pengembangan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT). Indonesia memiliki ambisi besar untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 gigawatt. Dalam skema ini, baterai akan berfungsi sebagai Battery Energy Storage System (BESS) atau sistem penyimpanan energi skala besar. Teknologi ini sangat vital untuk mengatasi sifat intermiten dari energi surya, sehingga pasokan listrik tetap stabil meskipun matahari tidak bersinar. Dengan demikian, industri baterai ini menjadi tulang punggung bagi kemandirian energi nasional secara menyeluruh.
Keberhasilan Proyek Titan ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara kedua setelah Cina yang memiliki ekosistem baterai kendaraan listrik paling terintegrasi di dunia. Integrasi ini mencakup seluruh proses dari tambang, smelter, prekursor, katoda, hingga sel baterai dan daur ulang baterai. Pemerintah juga mendorong keterlibatan perusahaan daerah dan pengusaha lokal dalam rantai pasok ini untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi terdistribusi secara merata. Dengan dukungan penuh dari regulasi pemerintah dan komitmen investasi dari konsorsium HYD, Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi pusat gravitasi baru dalam industri hijau global, sekaligus membuktikan bahwa hilirisasi adalah kunci utama menuju negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

















