Kematian tragis selebgram kenamaan Lula Lahfah di Apartemen Essence Darmawangsa, Jakarta Selatan, akhirnya menemui titik terang setelah pihak kepolisian melakukan serangkaian penyelidikan mendalam dan uji forensik terhadap berbagai barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP). Kasus yang sempat memicu spekulasi luas di jagat maya ini berpusat pada temuan sebuah tabung gas kecil berwarna merah muda yang dikenal sebagai Whip Pink, sebuah produk berisi gas Nitrogen Oksida (N₂O) yang belakangan menjadi tren penyalahgunaan zat rekreasional di berbagai belahan dunia. Dalam konferensi pers resmi yang digelar di Mapolres Metro Jakarta Selatan, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil uji laboratorium forensik, DNA yang menempel pada tabung tersebut serta bercak darah pada sprei di unit apartemen adalah identik dengan milik almarhumah, sementara rekaman CCTV memastikan tidak adanya aktivitas orang asing atau unsur kekerasan, yang berujung pada penghentian penyelidikan secara resmi.
Detail Penyelidikan dan Temuan Barang Bukti di Apartemen
Penyelidikan yang dipimpin oleh Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Iskandarsyah, dilakukan secara komprehensif untuk menjawab keraguan publik mengenai penyebab pasti meninggalnya sahabat dari musisi Reza Arap tersebut. Di dalam unit apartemen mewah tersebut, polisi mengamankan sejumlah barang bukti krusial yang menggambarkan aktivitas terakhir korban sebelum mengembuskan napas terakhir. Selain tabung gas Whip Pink yang menjadi sorotan utama, petugas juga menyita sebuah kotak obat berwarna merah muda yang berisi beberapa butir tablet, botol cairan (liquid), perangkat rokok elektrik (pod), serta perlengkapan sanitasi seperti tisu dan kapas yang telah ternoda bercak darah. Keberadaan barang-barang ini memberikan petunjuk kuat bagi tim medis dan forensik untuk memetakan kondisi kesehatan serta potensi paparan zat kimia pada tubuh korban.
Keabsahan bukti-bukti tersebut diperkuat dengan hasil pemeriksaan DNA yang dilakukan secara saintifik. Hasil uji laboratorium memastikan bahwa profil genetik yang ditemukan pada mulut tabung gas dan sprei tempat korban ditemukan tak bernyawa adalah milik Lula Lahfah secara eksklusif. Lebih lanjut, analisis terhadap rekaman kamera pengawas (CCTV) di area koridor dan pintu masuk unit apartemen menunjukkan bahwa tidak ada individu lain yang masuk atau keluar dari unit tersebut dalam rentang waktu yang mencurigakan sebelum jenazah ditemukan. Dengan tidak adanya bukti fisik kekerasan maupun indikasi tindak pidana dari pihak luar, kepolisian menyimpulkan bahwa kematian ini berkaitan erat dengan kondisi medis yang dipicu oleh faktor-faktor internal, termasuk penggunaan zat-zat yang ditemukan di lokasi.
Anatomi Whip Pink: Antara Kebutuhan Kuliner dan Bahaya Inhalasi
Fenomena Whip Pink yang muncul dalam kasus ini membuka tabir mengenai penyalahgunaan gas Nitrogen Oksida (N₂O) yang kian mengkhawatirkan di Indonesia. Secara fungsional, tabung gas kecil ini sebenarnya dirancang untuk keperluan kuliner profesional, khususnya sebagai pendorong (propellant) dalam alat pembuat whipped cream guna menghasilkan tekstur krim yang lembut dan mengembang sempurna. Di dunia medis, gas ini juga dikenal sebagai “gas tawa” yang digunakan oleh dokter gigi atau ahli anestesi sebagai bius tambahan atau pereda nyeri ringan selama prosedur pembedahan kecil atau persalinan. Namun, penggunaan medis selalu dilakukan dalam dosis yang sangat terukur, dicampur dengan oksigen murni, dan berada di bawah pengawasan ketat tenaga profesional untuk mencegah hipoksia atau kekurangan oksigen pada pasien.
Pakar farmakologi dan farmasi klinik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Apt. Zullies Ikawati, menekankan bahwa bahaya fatal muncul ketika gas ini dihirup secara langsung tanpa campuran oksigen untuk tujuan rekreasional atau mencari efek euforia sesaat. Saat masuk ke dalam paru-paru dalam konsentrasi tinggi, N₂O akan segera mendominasi aliran darah dan bekerja langsung pada sistem saraf pusat. Efek “melayang” yang dicari oleh pengguna sebenarnya adalah tanda awal dari terganggunya koordinasi saraf dan otak. Jika digunakan secara terus-menerus atau dalam dosis besar sekaligus, zat ini dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ vital akibat hilangnya suplai oksigen yang memadai ke jaringan tubuh.
Tren Global dan Peringatan Darurat dari Pakar Kesehatan
Penyalahgunaan Nitrogen Oksida bukan sekadar isu lokal, melainkan tren global yang telah lama dipantau oleh organisasi kesehatan dunia. Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengungkapkan data mengejutkan dari The Global Drug Survey yang melibatkan lebih dari 32.000 partisipan di 22 negara. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa sekitar 22,5 persen responden mengaku pernah menggunakan N₂O untuk mendapatkan efek euforia. Di Inggris, penggunaan gas ini bahkan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, menduduki peringkat ketiga zat yang paling sering disalahgunakan setelah kanabis dan kokain. Data dari Center of Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat yang diterbitkan dalam jurnal MMWR April 2025 juga mencatat lonjakan kasus penyalahgunaan hingga lima kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan angka penggunaan ini memicu kekhawatiran serius di kalangan praktisi kesehatan Indonesia. Prof Tjandra memperingatkan bahwa masyarakat, terutama generasi muda, harus sangat waspada dan tidak meremehkan risiko kesehatan yang mengintai di balik tabung berwarna merah muda tersebut. Badan Narkotika Nasional (BNN) pun terus didorong untuk memperkuat edukasi mengenai bahaya inhalasi gas non-medis ini. Meskipun status hukum gas N₂O untuk keperluan industri dan kuliner adalah legal, penggunaannya di luar peruntukan tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan yang membahayakan nyawa dan memerlukan regulasi serta pengawasan distribusi yang lebih ketat guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Dampak Neurologis dan Kerusakan Sistem Saraf Permanen
Dampak buruk pertama yang paling sering dilaporkan dalam literatur medis, termasuk jurnal The Lancet, adalah gangguan neurologi atau kerusakan sistem saraf yang bersifat progresif. Menghirup gas N₂O dalam jumlah besar dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 di dalam tubuh. Vitamin B12 memiliki peran krusial dalam pembentukan selubung mielin yang melindungi saraf. Ketika fungsi B12 terganggu, selubung ini akan rusak, mengakibatkan kondisi yang disebut mielo-neuropati. Gejala yang muncul meliputi parastesia (kesemutan hebat), ataxia (hilangnya koordinasi gerak), hingga kelemahan otot yang ekstrem. Dalam kasus yang parah, pengguna dapat kehilangan kemampuan untuk mengontrol buang air besar dan buang air kecil secara permanen.
Gangguan Psikiatri dan Risiko Komplikasi Organ Vital
Selain merusak fisik, penyalahgunaan Whip Pink juga menyerang kesehatan mental penggunanya. Paparan gas Nitrogen Oksida secara berlebihan dapat memicu berbagai gangguan psikiatri akut, mulai dari delusi, halusinasi visual maupun auditori, hingga kondisi paranoid dan depresi berat. Beberapa laporan medis bahkan mencatat terjadinya psikosis akut, di mana pengguna kehilangan kontak dengan realitas sepenuhnya. Dampak psikologis ini seringkali menjadi pemicu perilaku berisiko yang dapat mencelakai diri sendiri maupun orang lain di sekitar pengguna.
Secara sistemik, risiko kesehatan lain yang tidak kalah mengerikan adalah potensi terjadinya pembekuan darah di paru-paru (emboli paru) dan luka dingin atau frostbite pada saluran pernapasan akibat suhu gas yang sangat rendah saat keluar dari tabung. Penurunan kadar oksigen yang drastis juga dapat memicu hiperhomosisteinemia, sebuah kondisi medis yang memiliki kaitan erat dengan peningkatan risiko infark jantung (serangan jantung) dan stroke, meskipun penderitanya masih berusia muda. Kombinasi antara gangguan saraf, ketidakstabilan mental, dan kegagalan fungsi organ inilah yang menjadikan penyalahgunaan tabung gas merah muda ini sebagai ancaman mematikan yang nyata di tengah masyarakat modern.

















