Goncangan hebat yang melanda stabilitas pasar modal Indonesia mencapai titik nadir menyusul pengunduran diri massal jajaran pimpinan tertinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Jumat (30/1/2026), sebuah peristiwa yang memaksa pemerintah melakukan intervensi darurat melalui rapat tertutup di Wisma Danantara pada Sabtu malam (31/1/2026). Krisis kepemimpinan ini dipicu oleh anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara drastis setelah otoritas indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), membekukan indeks Indonesia akibat isu transparansi kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi (coordinated trading). Sebagai langkah cepat untuk menenangkan pasar, Jeffrey Hendrik resmi ditunjuk sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI menggantikan Iman Rachman, sementara Friderica Widyasari Dewi mengambil alih nakhoda OJK sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua, guna memastikan operasional bursa dan pengawasan sektor keuangan tetap berjalan normal di tengah tekanan investor global yang kian meningkat.
Pertemuan mendadak yang digelar di Wisma Danantara tersebut menjadi sinyal kuat betapa seriusnya dampak dari kebijakan MSCI terhadap integritas pasar keuangan nasional. Pemerintah, yang diwakili oleh jajaran menteri ekonomi, harus bergerak cepat untuk mengisi kekosongan kekuasaan di dua lembaga vital tersebut demi mencegah pelarian modal asing (capital outflow) yang lebih masif. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa penunjukan Jeffrey Hendrik sebagai Pjs Direktur Utama BEI adalah langkah strategis untuk menjaga kesinambungan manajemen bursa. Jeffrey, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pengembangan BEI sejak Juni 2022, dinilai memiliki pemahaman mendalam mengenai struktur pasar dan hubungan internasional yang diperlukan untuk bernegosiasi dengan lembaga global seperti MSCI. Pengunduran diri Iman Rachman dan sejumlah petinggi lainnya dianggap sebagai konsekuensi logis dari penurunan kepercayaan pasar yang harus segera dipulihkan melalui transparansi yang lebih ketat.
Jeffrey Hendrik dan Misi Pemulihan Kepercayaan Investor Global
Sebagai Pejabat Sementara yang memegang kendali di masa krisis, Jeffrey Hendrik memikul beban berat untuk segera melakukan rekonsiliasi dengan pihak-pihak internasional. Tugas pertamanya yang paling krusial adalah memimpin delegasi BEI dalam pertemuan daring dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada Senin (2/2/2026). Pertemuan ini menjadi penentu masa depan indeks saham Indonesia di mata investor institusi dunia, mengingat pembekuan indeks oleh MSCI didasarkan pada kekhawatiran serius mengenai tata kelola dan transparansi kepemilikan saham di bursa domestik. Jeffrey dipastikan tidak akan melangkah sendirian; ia akan didampingi oleh tim manajemen inti yang telah diperkuat untuk menjawab keraguan MSCI terkait isu coordinated trading yang selama ini menjadi sorotan tajam. Langkah ini diharapkan dapat memberikan kepastian bahwa BEI tetap berkomitmen pada prinsip keterbukaan dan keadilan pasar.
Dukungan terhadap kepemimpinan transisi ini juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Dalam keterangannya, Airlangga menegaskan bahwa penunjukan Jeffrey Hendrik adalah pilihan yang paling rasional di tengah situasi darurat ini untuk memastikan roda organisasi di bursa tetap berputar tanpa hambatan teknis. Jeffrey sendiri, saat memberikan pernyataan di hadapan media, menekankan bahwa penunjukannya merupakan hasil dari proses internal yang sesuai dengan tata kelola perusahaan. Setelah pengunduran diri Iman Rachman, jajaran direksi segera menggelar rapat intensif yang kemudian mendapatkan restu penuh dari Dewan Komisaris. Jeffrey menjamin bahwa masa transisi ini tidak akan mengganggu kinerja operasional bursa harian, dan seluruh sistem perdagangan dipastikan tetap berjalan secara efisien untuk melayani para investor.
Selain fokus pada hubungan internasional, Jeffrey Hendrik juga dihadapkan pada tantangan domestik untuk menstabilkan psikologi pasar. Isu transparansi kepemilikan saham yang menjadi pemicu “teguran” MSCI memerlukan perbaikan regulasi dan pengawasan yang lebih ketat di level internal bursa. Sebagai mantan Direktur Pengembangan, Jeffrey memiliki rekam jejak dalam menginisiasi berbagai produk dan inovasi di pasar modal, yang kini diharapkan dapat ditransformasikan menjadi kebijakan pengawasan yang lebih mumpuni. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyatakan bahwa pengumuman resmi mengenai posisi Pjs Dirut ini akan dilakukan secara terbuka sebelum jam pembukaan perdagangan bursa pada hari Senin, sebagai bentuk komitmen terhadap keterbukaan informasi kepada publik dan seluruh pemangku kepentingan.
Restrukturisasi Total OJK demi Stabilitas Sektor Keuangan

















