Ringkasan Berita:
- Pihak kecamatan membongkar fakta mengenai gangguan mental yang dialami oleh Suderajat
- Tak hanya Suderajat tetapi istrinya juga kena bahkan lebih parah
- Kebohongan demi kebohongan digambarkan Suderajat saat mengobrol dengan Gubernur Jabar
Kisah pilu Ajat Suderajat, seorang pedagang es gabus yang sempat viral karena dugaan intimidasi aparat, kini mengambil dimensi yang jauh lebih kompleks. Dari simpati publik yang melimpah ruah, Suderajat kemudian dituding berbohong setelah serangkaian pernyataannya kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dinilai tidak konsisten dan bertentangan dengan fakta di lapangan. Namun, di balik gelombang cemoohan dan tudingan ketidakjujuran yang menimpanya, sebuah kebenaran mendalam akhirnya terkuak: Suderajat dan istrinya ternyata mengidap indikasi disabilitas mental, sebuah kondisi yang secara fundamental membentuk perilaku dan kemampuan komunikasinya, mengubah narasi dari sekadar “kebohongan” menjadi panggilan untuk empati dan penanganan khusus. Siapa sebenarnya Suderajat, mengapa ia dituding berbohong, dan bagaimana pihak berwenang mengurai benang kusut ini?
Pihak Kecamatan Bojonggede, melalui Camat Tenny Ramdhani, tampil ke muka publik untuk meluruskan kesalahpahaman yang beredar luas mengenai Suderajat. Dalam sebuah pernyataan yang mengguncang persepsi publik, Tenny Ramdhani menjelaskan bahwa hasil asesmen lintas instansi yang melibatkan berbagai pihak terkait, telah mengidentifikasi adanya indikasi disabilitas mental pada diri Suderajat, bahkan kondisi istrinya disebut-sebut lebih parah. Penjelasan ini menjadi kunci untuk memahami perilaku Suderajat yang kerap memberikan jawaban berubah-ubah saat ditanya, termasuk ketika berinteraksi dengan Dedi Mulyadi. Menurut Camat, inkonsistensi ini bukan semata-mata karena niat untuk berbohong, melainkan akibat dugaan gangguan mental pascatrauma yang secara signifikan memengaruhi kemampuan komunikasi verbal Suderajat dan istrinya. “Terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video YouTube) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya,” ujar Tenny Ramdhani, sebagaimana dikutip dari Tribun Jakarta pada Jumat (30/1/2026), yang kemudian dilansir kembali oleh TribunJatim.com pada Minggu (1/2/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa ada faktor psikologis yang mendasari setiap “kebohongan” atau inkonsistensi yang diperlihatkan Suderajat.

Kondisi disabilitas mental ini, menurut Tenny, menyebabkan Suderajat mengalami kesulitan yang signifikan dalam menyampaikan informasi secara runtut, konsisten, dan koheren. Bahkan, keterangan dari Ketua RT dan RW setempat yang telah lama mengenal Suderajat, turut menguatkan adanya tanda-tanda keterbelakangan secara psikologis dan mental yang sudah ada sejak lama. Kondisi ini kemudian diduga diperparah oleh tekanan berat yang dialami Suderajat setelah peristiwa yang menimpanya, termasuk insiden dugaan intimidasi oleh aparat yang membuatnya viral, serta sorotan publik yang intens. “Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah,” imbuh Tenny, menyoroti bahwa permasalahan kesehatan mental ini tidak hanya menimpa Suderajat tetapi juga pasangannya, dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi pada sang istri. Ketua RT dan RW juga mengonfirmasi bahwa Suderajat menunjukkan indikasi keterbelakangan psikologis dan mental bahkan dalam komunikasi sehari-hari dengan lingkungan sekitarnya. “Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya,” kata Tenny, menekankan bahwa meskipun pada Suderajat masih dalam tahap indikasi, kondisi istrinya jauh lebih kentara. Tekanan pascatrauma dan ketidakbiasaan berinteraksi dengan banyak orang setelah kejadian viral juga disebut-sebut memperburuk kondisi Suderajat, menjadikannya memerlukan perhatian dan penanganan khusus.
Intervensi Dedi Mulyadi dan “Kebenaran” yang Terkuak
Sebelum terungkapnya fakta mengenai kondisi mental Suderajat, mantan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sempat menemui langsung Ajat Suderajat, pedagang es gabus yang menjadi sorotan setelah dituduh menjual es berbahan spons. Momen pertemuan ini dibagikan Dedi Mulyadi melalui akun Instagram pribadinya, menunjukkan dirinya memberikan segepok uang kepada Suderajat sebagai bentuk bantuan. Namun, tak lama setelah pemberian tersebut, Dedi Mulyadi justru mengambil kembali sebagian uang itu. Tindakan ini didasari kekhawatiran bahwa uang tersebut mungkin tidak akan digunakan sesuai peruntukannya, melainkan dipakai sendiri oleh Suderajat tanpa melunasi kewajiban-kewajibannya. “Mau buat apa itu?” tanya Dedi Mulyadi. “Buat bayar sekolah pak,” jawab Suderajat. Mendengar jawaban yang dinilai kurang meyakinkan, Dedi Mulyadi memutuskan untuk mengatur sendiri alokasi bantuan agar benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi keluarga Suderajat. Ia menghitung kebutuhan untuk kontrakan setahun, biaya sekolah, dan utang warung, kemudian mengambil alih pembayaran tersebut secara langsung. “Bayar kontrakan setahun, nih saya aturin biar bapak beres. Nih buat kontrakan setahun, setahun kali 800 berapa? Rp 9,6 juta. Bayar sekolah dua ratus (ribu), bayar ke warung dua ratus (ribu), pas Rp 10 juta. Awas dibayarin ya. Bayar kontrakan. Atau saya uangnya ambil deh,” kata Dedi, seraya mengambil kembali uang tersebut. Dedi Mulyadi kemudian menegaskan akan langsung membayarkan kontrakan Suderajat dan mengecek langsung ke sekolah anaknya, serta meminta stafnya untuk melunasi utang di warung, sembari memberikan Rp 5 juta sebagai modal usaha dan kebutuhan sehari-hari selama sebulan. Tindakan Dedi ini, meskipun terlihat tegas, mengindikasikan adanya keraguan terhadap kemampuan Suderajat dalam mengelola bantuan, sebuah keraguan yang kini dapat dipahami lebih jauh setelah terkuaknya kondisi mental Suderajat.

Tiga Poin “Ketidakjujuran” yang Diungkap Gubernur
Dalam pertemuan lanjutan dengan Ajat Suderajat dan Ketua RW setempat, Dedi Mulyadi menyoroti tiga pernyataan Suderajat yang dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Poin-poin ini sempat menjadi dasar tudingan publik bahwa Suderajat berbohong, sebelum adanya klarifikasi dari pihak kecamatan. Pertama, mengenai pendidikan anak. Suderajat sebelumnya menyebut anaknya bersekolah di SD negeri, namun Dedi Mulyadi menemukan bahwa sekolah anak Suderajat ternyata adalah sekolah swasta. “Anaknya yang SD swasta, kata babe kemaren sekolahnya negeri. Ini (yang bener) sekolahnya swasta. Aku kan ngomong sama babeh ini, itu sekolah pasti swasta enggak mungkin bayaran. Sekolahnya swasta makanya bayar,” ujar Dedi Mulyadi seperti dikutip dari kanal YouTube-nya pada Kamis (29/1/2026). Meskipun demikian, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa seharusnya anak Suderajat tidak perlu membayar iuran, baik di sekolah negeri maupun swasta, mengingat putusan Mahkamah Konstitusi yang mengamanatkan pendidikan dasar gratis. Ia bahkan berencana untuk mengecek ke pemerintah Kabupaten Bogor jika iuran masih dimintai.













