Pemerintah Indonesia kembali membuka keran pembiayaannya melalui instrumen Surat Utang Negara (SUN) dengan target ambisius meraup dana hingga Rp 33 triliun. Lelang yang dijadwalkan pada Selasa, 3 Februari 2026, ini menawarkan sembilan seri SUN dengan kupon menarik mulai dari 5,87 persen, menandai upaya berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan untuk menutupi defisit anggaran yang diproyeksikan, tetapi juga mencerminkan dinamika pasar surat utang negara yang terus berkembang, sebagaimana terungkap dari data resmi Kementerian Keuangan.
Strategi Pembiayaan APBN 2026 Melalui Lelang SUN
Kementerian Keuangan, melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), secara resmi mengumumkan rencana lelang Surat Utang Negara (SUN) yang akan diselenggarakan pada Selasa, 3 Februari 2026. Lelang ini merupakan bagian integral dari strategi pembiayaan APBN 2026, yang dirancang untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan negara. Penawaran obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah ini menargetkan perolehan dana sebesar Rp 33 triliun. Nominal per unit SUN yang ditawarkan adalah Rp 1 juta, dengan sembilan seri berbeda yang siap diperdagangkan. Tingkat kupon yang ditawarkan bervariasi, dimulai dari 5,87 persen, memberikan insentif menarik bagi para investor untuk menempatkan dananya pada instrumen yang dianggap aman ini.
Lelang ini bukan kali pertama dilakukan pada awal tahun. Mengacu pada data sebelumnya, lelang SUN yang dilaksanakan pada 20 Januari 2026 menunjukkan antusiasme pasar yang tinggi, dengan total penawaran yang masuk mencapai Rp 82,9 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah berhasil memenangkan penawaran senilai Rp 36 triliun, menunjukkan permintaan yang kuat terhadap surat utang negara. Angka ini memberikan gambaran optimisme bagi lelang yang akan datang, meskipun target yang ditetapkan kali ini sedikit lebih rendah.
Pernyataan resmi dari laman DJPPR Kementerian Keuangan, yang dikutip pada Minggu, 1 Februari 2026, menegaskan bahwa lelang SUN dalam mata uang Rupiah ini adalah untuk memenuhi target pembiayaan APBN 20256 (terdapat indikasi kesalahan pengetikan angka tahun pada sumber asli, diasumsikan merujuk pada APBN 2026 berdasarkan konteks keseluruhan). Hal ini menggarisbawahi peran krusial SUN sebagai salah satu instrumen utama dalam pengelolaan keuangan negara, terutama dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan anggaran.
Mekanisme Lelang dan Seri SUN yang Ditawarkan
Proses lelang SUN pada 3 Februari 2026 akan dibuka pada pukul 09.00 WIB dan ditutup pada pukul 11.00 WIB. Sistem pelelangan yang digunakan adalah yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, sebuah lembaga independen yang berperan penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan negara. Lelang ini bersifat terbuka (open auction), yang berarti semua peserta yang memenuhi syarat dapat mengajukan penawaran. Metode yang diterapkan adalah harga beragam (multiple price), di mana setiap penawaran yang diterima dapat memiliki harga yang berbeda, memberikan fleksibilitas kepada investor dalam menentukan imbal hasil yang mereka inginkan.
Sembilan seri SUN yang akan dilelang mencakup beberapa jenis, baik yang merupakan penerbitan baru (New Issuance) maupun penerbitan ulang (Reopening). Seri-seri tersebut adalah: SPN01260307 (New Issuance), SPN12260507 (Reopening), SPN12270204 (New Issuance), FR0109 (Reopening), FR0108 (Reopening), FR0106 (Reopening), FR0107 (Reopening), FR0102 (Reopening), dan FR0105 (Reopening). Keberagaman seri ini memberikan pilihan yang lebih luas bagi investor, baik yang mencari instrumen jangka pendek maupun jangka panjang, serta yang ingin berinvestasi pada seri yang sudah ada dengan rekam jejak yang terbukti.
Pemerintah, sebagai penerbit SUN, memiliki fleksibilitas untuk menjual seri-seri tersebut dengan jumlah yang bisa lebih besar atau lebih kecil dari jumlah indikatif yang telah ditentukan. Hak ini memungkinkan pemerintah untuk menyesuaikan volume penerbitan sesuai dengan kondisi pasar dan kebutuhan pembiayaan yang dinamis. Dinyatakan bahwa maksimal penawaran yang dapat dimenangkan bisa mencapai 150 persen dari target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp 23 triliun, menunjukkan potensi penyerapan dana yang lebih besar jika pasar merespons positif.
Peran SUN dalam Menutupi Defisit APBN dan Target Pembiayaan Utang
Lelang SUN ini secara fundamental bertujuan untuk memenuhi target pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026. Penerbitan obligasi pemerintah merupakan salah satu komponen kunci dalam strategi pembiayaan anggaran, yang juga berfungsi untuk menalangi defisit APBN. Untuk tahun 2026, defisit APBN diproyeksikan mencapai Rp 689,1 triliun. Angka defisit ini merupakan selisih antara total belanja negara dan total pendapatan negara, yang perlu ditutupi melalui berbagai sumber pembiayaan, termasuk penerbitan surat utang.
Merujuk pada Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (UU APBN) Nomor 17 Tahun 2025 untuk tahun anggaran 2026, target pembiayaan utang negara ditetapkan sebesar Rp 832,2 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan target tahun sebelumnya yang sebesar Rp 775,9 triliun. Peningkatan target pembiayaan utang ini mencerminkan kebutuhan yang lebih besar untuk membiayai belanja negara, termasuk belanja infrastruktur, belanja sosial, dan belanja operasional pemerintahan, di tengah potensi ketidakpastian ekonomi global maupun domestik. Lelang SUN yang rutin dilaksanakan menjadi salah satu cara pemerintah untuk mengelola kebutuhan pembiayaan utang ini secara terstruktur dan transparan.

















