Dalam dunia yang seringkali terpolarisasi oleh hukuman mati, seorang fotografer kelahiran Tokyo, Toshi Kazama, telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk menangkap realitas suram di balik jeruji besi, mendokumentasikan kehidupan narapidana yang menunggu eksekusi di Amerika Serikat dan Taiwan. Perjalanan Kazama dimulai pada tahun 1990-an, saat ia, seorang fotografer komersial di New York, tergerak oleh sebuah berita tentang narapidana remaja yang menghadapi hukuman mati. Rasa penasaran yang mendalam mendorongnya untuk melampaui batas-batas profesionalnya, membawanya pada sebuah misi kemanusiaan yang tak terduga. Keputusannya untuk bertemu langsung dengan narapidana tersebut membuka babak baru dalam kariernya, mengubahnya menjadi advokat gigih anti-hukuman mati. Hingga kini, Kazama telah memotret 22 narapidana hukuman mati, sebuah karya monumental yang tidak hanya mengungkap sisi manusiawi dari mereka yang dianggap paling hina, tetapi juga mempertemukannya dengan keluarga korban, memperkaya pemahamannya tentang kompleksitas keadilan dan penderitaan.
Peringatan! Cerita ini mengandung detail yang mungkin membuat Anda merasa tidak nyaman.
Perjalanan Menyelami Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
Kisah Toshi Kazama bermula dari sebuah berita yang memantik rasa ingin tahunya yang luar biasa. Di tengah kesibukan kariernya sebagai fotografer komersial di New York pada era 1990-an, sebuah artikel tentang seorang narapidana remaja yang divonis hukuman mati menarik perhatiannya. Narapidana tersebut, Michael Shawn Barnes, dijatuhi hukuman mati di negara bagian Alabama, Amerika Serikat, pada tahun 1996. Barnes ditangkap saat usianya baru menginjak 17 tahun dan divonis bersalah atas kasus pembunuhan dan pemerkosaan, dengan hukuman akhir berupa kursi listrik. Kazama, yang tergerak oleh nasib remaja ini, memutuskan untuk menelusuri lebih jauh. Setelah melalui berbagai rintangan, ia berhasil mendapatkan izin untuk mengunjungi Barnes di penjara. Pertemuan ini menjadi titik balik yang monumental. Alih-alih sosok mengerikan yang ia bayangkan, Kazama justru berhadapan dengan seorang “anak laki-laki biasa”. Pengalaman ini menanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa di balik kejahatan yang dilakukan, terdapat aspek kemanusiaan yang seringkali terabaikan oleh masyarakat. Barnes sendiri memiliki IQ yang rendah dan mengalami kesulitan belajar yang parah, namun hakim tetap menjatuhkan hukuman mati dengan alasan kurangnya belas kasihan terhadap korban. Meskipun juri awalnya merekomendasikan hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat, keputusan akhir hakim tetap pada hukuman mati. Namun, nasib Barnes sedikit berbelok pada 12 Juni 1998, ketika pengadilan tingkat pertama merevisi hukumannya menjadi penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat, dengan mempertimbangkan keadaan yang dapat meringankan.
Sejak pertemuan pertamanya dengan Barnes, Kazama tidak pernah berhenti. Ia terus mendokumentasikan kehidupan narapidana hukuman mati, sebuah proyek yang telah membawanya ke berbagai penjuru Amerika Serikat dan bahkan ke Taiwan, mendokumentasikan total 22 narapidana. Beberapa dari mereka yang ia potret telah menjalani eksekusi, sementara yang lain masih menunggu nasib mereka di balik sel. Perjalanan panjang ini tidak hanya memberinya perspektif unik tentang sistem peradilan pidana dan hukuman mati, tetapi juga mempertemukannya dengan para kerabat korban, menambah lapisan kompleksitas pada pemahamannya tentang keadilan, kehilangan, dan duka. Kazama sendiri mengakui bahwa pekerjaan ini telah mentransformasi dirinya menjadi seorang juru kampanye anti-hukuman mati yang tak kenal lelah, berdedikasi untuk menyuarakan sisi lain dari cerita yang jarang terdengar.
Momen-Momen Krusial dan Dampak Emosional
Salah satu momen paling menggugah dalam perjalanan Kazama adalah ketika ia mendokumentasikan Sean Sellers, seorang narapidana yang dihukum karena tiga kasus pembunuhan. Sellers, yang menganggap Kazama sebagai temannya, bahkan mengundang fotografer tersebut untuk menyaksikan eksekusinya di Oklahoma pada tahun 1999. Kazama memutuskan untuk tidak hadir, namun ia mengirimkan surat kepada Sellers, menyatakan simpatinya atas nasib yang akan menimpanya. Pada malam eksekusi Sellers, 4 Februari 1999, Kazama terbangun di apartemennya di New York, pikirannya tertuju pada apa yang terjadi di penjara Oklahoma pada jam satu pagi. Ia menggambarkan secara rinci proses eksekusi mati dengan suntikan kimia: suntikan pertama untuk menenangkan, suntikan kedua untuk membuat tertidur, dan suntikan ketiga yang mematikan pada pukul 01:10 yang menyebabkan penyusutan seluruh otot tubuh. Dalam beberapa menit setelah suntikan ketiga, Sellers dinyatakan meninggal. Peristiwa ini mengguncang Kazama hingga ke intinya. Ia mengaku menjadi seperti “mayat hidup” selama tiga bulan setelah eksekusi tersebut, merasa mati rasa, tidak berdaya, dan mengalami depresi mendalam. Momen sebelum eksekusi, Sellers diberi mikrofon untuk menyampaikan pernyataan terakhirnya. Kazama mencatat bahwa Sellers tidak menunjukkan banyak penyesalan, sebuah fakta yang memicu kemarahan keluarga korban. Pengalaman ini menyoroti kompleksitas emosi yang terlibat dalam hukuman mati, baik bagi narapidana, keluarga korban, maupun mereka yang menjadi saksi atau terlibat dalam prosesnya.
Selama bertahun-tahun berinteraksi dengan narapidana hukuman mati, Kazama menemukan bahwa banyak dari mereka enggan membicarakan kejahatan yang telah mereka lakukan. Ia menceritakan pertemuannya dengan Napoleon Beazley, yang dieksekusi dengan suntikan mematikan pada tahun 2002 setelah divonis bersalah atas pembunuhan seorang pria berusia 63 tahun di Texas. Beazley lebih banyak berbicara tentang keinginannya untuk makan sebelum eksekusi, daripada membahas pembunuhan itu sendiri. Kazama berpendapat bahwa publik seringkali salah memahami sikap narapidana hukuman mati, bertanya-tanya mengapa mereka tidak menunjukkan penyesalan, bahkan di ambang kematian. Hal ini menunjukkan bahwa penyesalan bukanlah respons universal, dan setiap individu menghadapi akhir hidupnya dengan cara yang berbeda, seringkali dengan beban psikologis yang berat yang membuat mereka sulit untuk merefleksikan tindakan masa lalu.
Menjadi Korban untuk Memahami Penderitaan
Perjalanan Kazama dalam memahami hukuman mati tidak hanya terbatas pada pengamatannya terhadap narapidana. Ia sendiri pernah mengalami menjadi korban kejahatan. Pada tahun 2003, saat berjalan kaki menuju rumah bersama putrinya di New York, Kazama diserang oleh orang tak dikenal yang memukul kepalanya dengan keras. Serangan ini membuatnya koma selama lima hari dan meninggalkan luka permanen di kepalanya, serta masalah pendengaran dan keseimbangan yang dialaminya hingga kini. Meskipun ia berharap mendapatkan permintaan maaf dari penyerangnya yang tidak pernah ditemukan oleh polisi, Kazama memilih untuk mengubah cara pandangnya terhadap pengalaman traumatis tersebut. Ia menemukan inspirasi dalam kisah Bud Welch, seorang ayah yang putrinya, Julie Marie, menjadi salah satu korban tewas dalam pemboman gedung federal di Oklahoma City pada tahun 1995. Awalnya mendukung hukuman mati bagi pelaku, Welch kemudian menjadi kampanye anti-hukuman mati. Kazama sependapat bahwa hukuman mati tidak serta-merta membantu keluarga korban mengatasi rasa kehilangan. Ia percaya bahwa keluarga korban membutuhkan dukungan yang berbeda, termasuk dukungan finansial. “Keluarga korbanlah yang paling menderita,” ujar Kazama, menggarisbawahi bahwa publik seringkali salah paham, mengira ia sendiri adalah korban dan ingin membalas dendam. “Ini mentalitas gila yang kita miliki,” tambahnya, mengkritisi pola pikir yang seringkali didorong oleh keinginan balas dendam daripada pemulihan dan keadilan yang sesungguhnya.
Pengalamannya sebagai korban kejahatan semakin memperkuat keyakinannya bahwa hukuman mati bukanlah solusi. Ia menyadari bahwa penderitaan yang dialami keluarga korban adalah sesuatu yang mendalam dan kompleks, dan hukuman mati tidak dapat mengembalikan apa yang telah hilang. Dukungan yang dibutuhkan oleh keluarga korban lebih bersifat holistik, mencakup aspek emosional, psikologis, dan bahkan finansial, untuk membantu mereka bangkit dari tragedi yang menimpa.
Dampak Karya dan Pertempuran Selanjutnya
Karya fotografi Toshi Kazama mendapatkan pengakuan yang signifikan pada tahun 2005 ketika Mahkamah Agung Amerika Serikat menggunakan foto-fotonya sebagai bukti dalam kasus penting Roper versus Simmons. Dalam putusan bersejarah ini, hakim menyatakan bahwa hukuman mati tidak boleh dijatuhkan kepada pelaku kejahatan yang berusia di bawah 18 tahun. Kazama merasa lega dan senang bahwa karyanya memiliki dampak positif dalam melindungi kaum muda dari hukuman mati. Ia mengakui bahwa ini hanyalah “satu langkah” dalam perjuangan yang lebih besar, dan masih banyak yang harus dilakukan. Namun, pengakuan ini menjadi bukti nyata bahwa seni fotografi dapat menjadi alat yang ampuh untuk mempengaruhi kebijakan publik dan melindungi hak asasi manusia.
Lebih jauh lagi, interaksi Kazama dengan para sipir penjara juga mengungkap dampak psikologis yang mereka alami akibat berinteraksi dengan narapidana yang akan dieksekusi. Dalam kunjungan pertamanya ke penjara Alabama, Kazama menyaksikan para penjaga mempersiapkan eksekusi. Ia menggambarkan bau daging manusia yang terbakar dan ekspresi wajah narapidana yang ia temui di sana, yang oleh para penjaga disebut sebagai “orang mati yang berjalan”. Para sipir juga menceritakan tugas “yang tidak menyenangkan” yaitu mengumpulkan sisa-sisa tubuh yang hangus setelah eksekusi. Pengalaman ini semakin memperkuat tekad Kazama untuk menghentikan praktik hukuman mati. Pejabat penjara seringkali memohon kepadanya, “Tolong beri tahu seluruh dunia, agar kita tidak perlu membunuh manusia lagi.” Kazama juga menjelaskan taktik yang digunakan di penjara AS, seperti kursi listrik dengan beberapa tombol yang hanya satu yang berfungsi, untuk menghindari satu algojo merasa bertanggung jawab penuh atas kematian terpidana. Demikian pula di Jepang, di mana hukuman mati dilakukan dengan cara menggantung, terdapat tiga sakelar pintu jebakan, namun hanya satu yang beroperasi, sehingga para penjaga tidak tahu mana yang akan terbuka.
Merujuk pada data Amnesty International, pada tahun 2024, tercatat 1.518 eksekusi mati di seluruh dunia, dengan mayoritas terjadi di Iran, Irak, dan Arab Saudi. Di Amerika Serikat, terdapat 25 eksekusi, dan angka ini tidak termasuk ribuan narapidana yang diperkirakan dieksekusi di China, yang tidak merilis data resmi. Angka-angka ini menggarisbawahi skala global dari isu hukuman mati yang terus berlanjut.
Salah satu narapidana yang didokumentasikan oleh Kazama adalah Christa Pike, yang dihukum mati karena membunuh seorang wanita berusia 19 tahun, Colleen Slemmer, pada tahun 1995 ketika Pike berusia 18 tahun. Pengadilan di Tennessee telah menetapkan tanggal 30 September 2026 sebagai tanggal eksekusi Pike, yang jika dilaksanakan akan menjadi eksekusi mati pertama terhadap narapidana perempuan di negara bagian tersebut dalam lebih dari 200 tahun. Kazama menggambarkan Pike sebagai “perempuan yang sangat ramah” dan sulit dipercaya bahwa ia mampu melakukan pembunuhan tersebut, meskipun Pike mengakuinya. Pike belum menunjukkan penyesalan. Kazama, yang sudah bertahun-tahun tidak berbicara dengan Pike, kini berusaha agar penegak hukum menunda eksekusi tersebut. Ia berencana untuk berbicara dengan kuasa hukum Pike mengenai langkah-langkah terbaik yang dapat diambil untuk menyelamatkan Pike dari eksekusi, menunjukkan komitmennya yang berkelanjutan untuk memperjuangkan kehidupan narapidana hukuman mati.















