Gemuruh riuh rendah ribuan penonton seketika membelah keheningan malam di kawasan Tennis Indoor Senayan, Jakarta, saat grup band legendaris Padi Reborn menapaki panggung megah dalam perayaan bertajuk “Konser Dua Delapan” pada Sabtu (31/1) malam. Konser yang diselenggarakan sebagai penanda eksistensi 28 tahun berkarier di industri musik tanah air ini bukan sekadar pertunjukan musik biasa, melainkan sebuah narasi perjalanan emosional yang mempertemukan memori masa lalu dengan visi masa depan. Fadly, Piyu, Ari, Yoyo, dan Rindra berhasil menyulap arena tersebut menjadi sebuah ruang nostalgia yang intim sekaligus bertenaga selama kurang lebih tiga jam penuh, membuktikan bahwa taji band asal Surabaya ini tetap tajam dan relevan di tengah gempuran tren musik modern bagi para Sobat Padi yang datang dari berbagai generasi.
Sejak lampu auditorium dipadamkan, aura magis sudah mulai terasa menyelimuti setiap sudut tribun dan area festival. Padi Reborn memilih langkah yang sangat strategis dengan membuka penampilan mereka lewat lagu “Prolog”. Pemilihan lagu ini seakan menjadi pernyataan pembuka yang tegas mengenai jati diri musik mereka yang kaya akan eksplorasi instrumen. Aransemen yang energik dengan dentuman drum Yoyo yang presisi serta jalinan distorsi gitar dari duet Piyu dan Ari langsung memicu adrenalin penonton. Suasana yang awalnya tenang seketika memanas, menciptakan gelombang energi yang sinkron antara musisi di atas panggung dan ribuan pasang mata yang hadir. “Prolog” berhasil menjalankan fungsinya sebagai katalisator, mengantarkan penonton masuk ke dalam dunia Padi Reborn yang penuh dengan lapisan emosi.
Intensitas konser tidak dibiarkan menurun sedikit pun setelah lagu pembuka usai. Padi Reborn secara sistematis mulai membongkar brankas lagu-lagu hits mereka yang telah menjadi soundtrack kehidupan banyak orang sejak akhir era 90-an dan awal 2000-an. Deretan tembang ikonis seperti “Bayangkanlah”, “Menanti Sebuah Jawaban”, hingga “Sang Penghibur” dibawakan dengan kualitas vokal Fadly yang tetap prima dan khas. Kehadiran lagu-lagu ini memicu fenomena sing-along massal yang membahana, di mana suara penonton terkadang terdengar lebih dominan dibandingkan sistem suara panggung. Nuansa nostalgia semakin kental saat lagu “Semua Tak Sama”, “Mahadewi”, dan “Sesuatu yang Indah” berkumandang, membawa audiens kembali ke masa kejayaan musik pop-rock Indonesia yang penuh dengan lirik puitis dan melodi yang kuat.
Puncak emosional dari segmen nostalgia ini terjadi ketika intro piano yang melankolis dari lagu “Kasih Tak Sampai” mulai terdengar. Suasana seketika berubah menjadi sangat syahdu dan personal. Tanpa komando, ribuan penonton secara serentak menyalakan flashlight dari ponsel mereka, menciptakan pemandangan seperti lautan bintang di dalam kegelapan Tennis Indoor Senayan. Pada bagian reffrain, Fadly sengaja menjauhkan mikrofon dari bibirnya, membiarkan paduan suara raksasa dari penonton mengambil alih melodi lagu tersebut. Momen ini begitu menyentuh hingga membuat pemain bass, Rindra Risyanto Noor, tidak dapat menyembunyikan kekagumannya. Rindra terlihat memberikan apresiasi tulus dengan mengacungkan dua jempol ke arah penonton sebagai bentuk penghormatan atas energi luar biasa yang diberikan oleh Sobat Padi malam itu.
Namun, Konser Dua Delapan bukan hanya tentang menengok ke belakang. Padi Reborn menunjukkan kedewasaan mereka sebagai musisi dengan memperkenalkan arah baru melalui materi-materi dari album terbaru mereka yang juga bertajuk “28”. Album ini merupakan representasi dari semangat baru atau rebirth yang terus mereka usung sejak kembali bersatu. Dari total delapan lagu yang mengisi album tersebut, Padi Reborn memilih untuk membawakan setengahnya secara langsung di hadapan publik Jakarta. Langkah ini diambil untuk memberikan keseimbangan antara kerinduan penggemar akan lagu lama dan apresiasi terhadap karya-karya terbaru yang menunjukkan evolusi musikalitas mereka selama hampir tiga dekade.
Lagu pertama dari album baru yang diperkenalkan adalah “Berbalik Arah”, sebuah komposisi yang menawarkan perspektif berbeda namun tetap menjaga benang merah karakter Padi. Penampilan kemudian berlanjut dengan lagu “Ego”, yang merupakan single perdana dari album “28”. Meski tergolong lagu baru, antusiasme penonton tidak surut. Banyak dari mereka yang ternyata sudah menghafal liriknya dan ikut bernyanyi bersama Fadly, membuktikan bahwa koneksi antara Padi Reborn dan penggemarnya tetap terjaga dengan baik meskipun industri musik telah banyak berubah. Aransemen “Ego” yang segar menunjukkan bahwa Padi Reborn tidak terjebak dalam zona nyaman masa lalu, melainkan terus bereksperimen dengan suara-suara yang lebih modern.
Eksplorasi berlanjut dengan lagu “Haru Biru”, yang didapuk sebagai single kedua dari album terbaru mereka. Sebelum melangkah ke lagu berikutnya yang berjudul “Punah”, suasana panggung sempat dijeda oleh momen reflektif dari sang gitaris, Satriyo Yudi Wahono atau yang akrab disapa Piyu. Di bawah sorotan lampu, Piyu mengungkapkan rasa syukur dan harunya atas perjalanan 28 tahun yang penuh lika-liku. Ia menegaskan bahwa konser ini bukan sekadar perayaan angka, melainkan bentuk dedikasi untuk Sobat Padi, para sahabat, orang tua, serta keluarga yang menjadi pilar pendukung utama mereka tetap berdiri tegak hingga saat ini. Pernyataan Piyu ini disambut dengan tepuk tangan riuh, mempertegas ikatan kekeluargaan yang kuat antara band dan pendukungnya.
Sinergi Lintas Generasi dan Kolaborasi Artistik
Kejutan lain yang disiapkan Padi Reborn dalam konser ini adalah kehadiran dua kolaborator dari generasi yang lebih muda, yang memberikan warna baru pada lagu-lagu mereka. Kolaborator pertama yang naik ke atas panggung adalah Fanny Soegi. Penyanyi dengan karakter vokal yang lembut dan etnik ini bergabung dengan Padi Reborn untuk membawakan lagu “Langit Biru”, sebuah single kolaborasi yang memang diciptakan untuk memadukan dua dunia musik yang berbeda. Penampilan Fanny memberikan sentuhan yang lebih segar dan feminin pada panggung Padi Reborn. Tidak hanya itu, Fanny juga diberi kesempatan untuk membawakan lagu hits miliknya, “Asmalibrasi”, yang disambut hangat oleh penonton yang didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z.
Kolaborasi kedua yang tidak kalah mencuri perhatian adalah kehadiran Sal Priadi. Penyanyi yang dikenal dengan gaya panggung teatrikal dan lirik-lirik yang mendalam ini membawakan salah satu lagu paling emosional milik Padi Reborn, yaitu “Rapuh”. Sal berhasil memberikan interpretasi baru yang sangat menyentuh, mengubah suasana menjadi lebih dramatis dan puitis. Setelah itu, Sal melanjutkan penampilannya dengan membawakan lagu populernya sendiri, “Gala Bunga Matahari”, yang saat ini tengah naik daun. Sebagai bentuk penghormatan, di akhir segmen tersebut, seluruh personel Padi Reborn kembali naik ke panggung untuk menyanyikan bagian penutup lagu “Rapuh” bersama Sal, menciptakan harmoni vokal yang indah dan megah.
Sebagai penutup dari rangkaian konser yang melelahkan namun memuaskan tersebut, Padi Reborn memilih lagu “Sobat”. Lagu yang menjadi tonggak awal popularitas mereka di industri musik ini seakan menjadi penutup lingkaran yang sempurna bagi konser “Dua Delapan”. Energi penonton kembali meledak di lagu terakhir ini, dengan aksi lompatan dan teriakan kegembiraan yang memenuhi ruangan. Konser ini tidak hanya membuktikan kemampuan teknis Padi Reborn yang masih luar biasa, tetapi juga menegaskan posisi mereka sebagai salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia. Dengan perpaduan antara lagu hits masa lalu, karya baru yang segar, serta kolaborasi lintas generasi, Padi Reborn sukses merayakan 28 tahun perjalanan mereka dengan cara yang paling manis dan tak terlupakan.

















