Sebuah terobosan signifikan dalam lanskap pendidikan tinggi Indonesia tengah diluncurkan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), yang kini menawarkan sebuah inovasi kurikulum terintegrasi yang memungkinkan mahasiswa menempuh jenjang Sarjana (S1) hingga Magister (S2) hanya dalam kurun waktu sepuluh semester. Inisiatif ambisius ini, yang akan mulai berlaku bagi mahasiswa angkatan 2025 dan 2026, dirancang untuk memberikan fleksibilitas akademis yang belum pernah ada sebelumnya, mempersiapkan lulusan agar lebih adaptif dan kompetitif dalam menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berubah pesat. Inisiatif ini menjawab tantangan global yang semakin kompleks, di mana batas-batas disiplin ilmu semakin kabur dan tuntutan akan kemampuan multidisiplin menjadi krusial.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano, menjelaskan bahwa program terpadu ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang diterima di ITB untuk secara proaktif memilih jalur pendidikan yang lebih ringkas ini sejak awal perkuliahan. Keputusan untuk mengikuti program S1-S2 terintegrasi ini dapat diambil pada semester ketiga atau kelima perkuliahan. Fleksibilitas ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengevaluasi minat dan kesiapan mereka sebelum sepenuhnya berkomitmen pada jenjang pascasarjana. Bagi mereka yang pada akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang S2, mereka akan tetap berada pada jalur studi S1 reguler yang lazimnya ditempuh dalam delapan semester.
Fleksibilitas Akademis dan Integrasi Kurikulum
Salah satu aspek paling menarik dari program sepuluh semester ini adalah bagaimana ITB mengelola beban studi. Meskipun total waktu perkuliahan dipersingkat, Irwan Meilano menegaskan bahwa jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) yang harus ditempuh oleh mahasiswa program S1-S2 ini tidak akan dikurangi. Jalur S1 tetap mengharuskan mahasiswa menyelesaikan sekitar 144 SKS, sementara jenjang S2 memerlukan sekitar 45 SKS. Kuncinya terletak pada strategi “mencicil” mata kuliah S2 yang dapat dimulai sejak semester kelima. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa untuk secara bertahap mengakumulasi kredit S2 tanpa mengorbankan kedalaman materi S1, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih terintegrasi dan efisien.
Lebih lanjut, kurikulum baru ini secara eksplisit mendorong fleksibilitas lintas disiplin. Mahasiswa tidak lagi terikat secara ketat pada program studi S1 mereka saat merencanakan studi S2. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang mengambil program S1 di bidang Teknik Geodesi dan Geomatika atau Matematika berpeluang untuk menyelesaikan program S2 di bidang Informatika. Hal ini dimungkinkan berkat desain kurikulum yang dirancang untuk memfasilitasi pergerakan pengetahuan antar bidang keilmuan yang berbeda, sejalan dengan filosofi ITB yang menekankan bahwa “setiap mahasiswa bisa mendesain masa depannya sendiri.”
Menyongsong Era Pekerjaan Multidisiplin dan Adaptif
Perubahan kurikulum yang radikal ini merupakan respons langsung ITB terhadap lanskap pekerjaan masa depan yang diprediksi akan sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). ITB meyakini bahwa banyak pekerjaan yang akan muncul di masa depan belum ada saat ini, atau sebaliknya, pekerjaan yang ada sekarang mungkin akan menghilang. Oleh karena itu, penekanan pada kemampuan multidisiplin dan adaptabilitas menjadi prioritas utama. Mahasiswa didorong untuk mengembangkan pemahaman yang luas dan kemampuan untuk berkolaborasi di berbagai bidang keilmuan, sehingga mereka siap menghadapi tantangan dan peluang yang belum terduga.
Untuk semakin memperkuat transisi dari dunia akademis ke dunia profesional, ITB juga sedang menjajaki kemitraan strategis dengan berbagai mitra perusahaan. Kolaborasi ini bertujuan untuk memungkinkan mahasiswa program S1-S2 untuk dapat bekerja paruh waktu sambil menyelesaikan studi S2 mereka. Konsepnya, topik tesis yang mereka kerjakan dapat langsung relevan dengan permasalahan nyata yang dihadapi di tempat kerja mereka. Pendekatan ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja yang berharga, tetapi juga memastikan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki dampak praktis dan berkontribusi pada inovasi di industri.
Peluang Riset Lintas Bidang dan Penguatan Pascasarjana
Lebih jauh lagi, program sepuluh semester ini secara inheren mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam riset yang bersifat lintas bidang, tanpa terhalang oleh batasan-batasan program studi yang kaku. ITB secara aktif memfasilitasi mahasiswa untuk mengeksplorasi area penelitian yang melintasi batas-batas disiplin ilmu tradisional. Hal ini sejalan dengan visi ITB untuk memperkuat program pascasarjana, menjadikannya lebih multidisiplin dan relevan dengan delapan bidang strategis nasional yang menjadi fokus pengembangan universitas. Dengan demikian, ITB berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis yang mendalam, tetapi juga visi yang luas dan kemampuan untuk berkontribusi pada solusi-solusi inovatif bagi bangsa.
Program Integrasi Sarjana-Magister (PISM) ini merupakan sebuah terobosan besar yang memungkinkan mahasiswa berprestasi untuk menyelesaikan jenjang S1 dan S2 hanya dalam waktu lima tahun atau sepuluh semester. Ini adalah langkah strategis ITB untuk mempersiapkan generasi penerus yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan abad ke-21. Dengan fleksibilitas kurikulum, dorongan untuk riset multidisiplin, dan kemitraan industri, ITB memposisikan dirinya sebagai garda terdepan dalam membentuk masa depan pendidikan tinggi dan pengembangan sumber daya manusia di Indonesia.

















